keep reading and enjoy reading yah friend ;)
cekidot !!!
Malam
harinya Vika terbaring di tempat tidur memikirkan kejadian yang terjadi pagi
tadi di sekolahnya tepatnya di kantin sekolah. Entah karena apa, berkali-kali
Vika membuka buku pelajaran yang ia pinjam di perpus sekolah dan berusaha untuk memahaminya tetapi tidak
ada satupun materi yang masuk ke dalam otaknya. Pikiranya selalu melayang jauh
ke kejadian bersama sahabatnya dan two most wanted in the school tadi pagi.
“Aku
tidak menyangka bisa berbicara langsung dengan ka’ Yudha. Walaupun hanya
sementara tapi rasanya senang sekali bisa berbicara denganya. Akh dia selalu
membuatku penasaran dengan tingkahnya itu. Kira-kira dia sudah mempunyai pujaan
hatinya belum yah. Yang aku inginkan sih dia belu mempunyai kekasih. Tapi akh
sudahlah, aku juga tidak pantas untuknya.”
èèèèèèèèèèèè
Seorang pria sedang mendribble bola
basketnya di dalam kamarnya. Karena pemuda tampan ini mempunyai sebuah kamar
yang sangat mewah dan cukup luas sehingga bisa digunakan untuk bermain basket
kecil-kecilan, walaupun tidak ada ring’nya. Terlihat pria ini sedang mendribble
bola basket tetapi fikiranya melayang jauh ke kejadian di kantin pagi tadi.
“Addduuuhhhh
L mengapa aku tidak bisa melupakan
kejadian itu. Mengapa gadis itu selalu muncul di fikiranku. Mengapa aku tidak
bisa melupakan gadis itu. Aku bingung, aku tidak bisa melupakanya, ada apa ini.
Aku tidak mungkin menaruh hatiku untuknya.”
Pada saat pria itu berfikir keras
untuk melupakan sosok gadis itu. Yudha teringat sesuatu, yah pria tampan ini
teringat akan surat pemberian gadis itu. Kemudian dia mulai mencari dan
mencari. Setelah beberapa menit mencari, pemuda tampan ini berhasil menemukan
surat dengan warna amplop biru dengan dihiasi bunga di sebelah kanan surat,
berwarna merah.
“Mending aku membaca suratnya saja
deh, aku penasaran apa isinnya.”
Pemuda inipun mulai membuka suratnya yang
berwarna biru polos dengan diisi tulisan indah yang ditulis oleh gadis itu J. Perlahan tapi pasti pemuda
tampan ini membuka surat dari gadis yang membuat dirinnya menjadi frustasi
malam ini. Dan gadis itu juga yang juga membuat dirinnya terus memikirkan diri
gadis cantik itu dan tidak bisa melupakan bayangan-bayangannya yang selalu
melintas di benaknya.
“Dear Ketua Osis SMA Bintang ( kakak Yudha Aditya Saputra )
Hai kak
Yudha, terima kasih yah karena kau telah membuang-buang waktumu untuk membaca
suratku yang tidak berguna ini. Maafkan aku karena aku berani membuat surat
untukmu. Karena aku sungguh tidak pantas memberikannya untukmu. Semoga kau bisa
menerima dan menyimpan suratku ini.
Tujuan
aku memberi surat yang ku buat untukmu ini adalah hanya karena aku ingin
mengucapkan sesuatu. Karena aku berfikir, kalau aku berbicara langsung kepadamu
rasanya tidak mungkin dan tidak pantas.
Kak,
kakak harus tau kalau aku sangat kagum sama kakak. Kakak baik dan perduli sama
orang lain. Kakak juga ramah. Kakak pintar dan kakak hebat sebagai ketua osis.
Aku salut kepadamu, walaupun banyak orang yang memujimu, tapi kakak tidak
pernah sombong. Kakak juga keren dan hmmm J tampan … Di dalam fikiranku mengenai kakak adalah
SEMPURNA. 1 kata itu memang terlalu singkat, tapi hanya kata itu yang bisa
kuungkapkan untuk kakak.
Maafkan
aku, aku telah berani menulis surat untukmu. Tapi aku tidak berharap apa-apa
dari kakak. Aku hanya ingin kakak menyimpan surat dariku dan tidak membuangnya.
Tapi itu terserah kakak. Sekali lagi
Maafkan aku dan terima kasih.
From : Vika Riyyana Della ( X.1 )
Senyum.
Itulah ekspresi yang ditunjukkan oleh pemuda tampan itu selama membaca surat
dari gadis itu. Vika. Yah nama gadis itu yang membuat seorang Yudha Aditya
Saputra tidak bisa melupakannya. Entah karena apa, perasaan yang kini membuat
seorang ketua osis ini bingung dengan kelakuan gadis manis yang mirip boneka
itu.
SKIP !!!
Keesokan harinya, semua orang
memulai aktivitas seperti biasanya seperti Vika dan Syifa. 2 gadis manis ini
berjalan menyusuri koridor sekolah untuk memasuki kelas mereka yaitu kelas X.1.
Tiba-tiba ditengah perjalanan Syifa menhentikannya. Seperti ada sesuatu K.
“Mengapa
kau berhenti ??? Apa ada sesuatu.” Tanya Vika penasaran.
“Mmmm,
sepertinya aku harus mengembalikan buku perpustakaan yang ku pinjam kemarin.”
Jawab Syifa sambil mengeluarkan buku tebal yang di depan buku bertuliskan
FISIKA.
“oh
begitu, yasudah. Apa kau mau aku temani untuk mengembalikan buku itu.”
“Terima
kasih sahabatku. Tapi sepertinya tidak perlu, karena aku sendiri yang akan
mengembalikannya. Lebih baik teruskan saja perjalananmu menuju kelas. Aku akan
menyusul nanti.”
“oh
yasudah, sampai ketemu nanti.” Ucap Vika seraya meninggalkan sahabatnya itu dan
menuju kelas
SKIP !!!
Setelah mengembalikan buku tebal itu
ke perpustakaan. Gadis itupun melanjutkan perjalananya menuju kelas. Tapi
sepertinya gadis ini sedang tidak beruntung, karena merasa menabrak seseorang.
Setelah tau siapa yang dia tabrak. Gadis itupun langsung menunduk dan
mengatakan kata MAAF kepada pria dingin dihadapannya itu. Siapa lagi kalau
bukan Ivan J
“Syifa
???” Tanya Ivan dengan tampang cool’nya.
“Maafkan
aku sekali lagi, aku tidak melihatmu kak (menunduk).”
“Tidak
apa-apa, sudahlah. Aku juga bersalah karena tidak melihatmu.”
“yasudah
tidak apa-apa, aku permisi dulu ya kak J.”
Baru beberapa langkah gadis itu
meninggalkan pria dingin itu, Pria dingin itu sudah memanggil nama Syifa dan
menarik tangannya. Perbuatan yang dilakukan oleh pria itu membuat Syifa
membalikan badanya dan menatap tajam ke mata bening milik Ivan. Beberapa menit
mereka dalam posisi seperti itu, akhirnya mereka sadar dan keduanya terlihat
salah tingkah.
“Maafkan
aku, aku tidak bermaksud seperti itu.” Ucap Ivan, pria yang ditabrak Syifa
merasa salah tingkah sejak kejadian tadi.
“Tidak
apa-apa, ada hal pentingkah yang ingin kau katakan kepadaku.” Ucap Syifa tidak
kalah gemetar dengan pria dingin dihadapannya.
“Oh
tidak, aku hanya ingin mengatakan kepadamu, apa benar kata-kata yang kau tulis
di dalam suratmu.”
“Maksudmu
??? Mmmm, apa kau tidak suka dengan isi suratku itu. Kalau kau tidak suka,
buang saja. Aku juga tidak berharap kau menyimpan suratku itu.” Ucap Syifa
dengan menundukan kepalanya.
“Tidak,
bukan maksudku seperti itu. Tapi aku hanya ….” Potong Ivan
“Sudahlah
kak, aku permisi dulu, sebentar lagi bel.” Syifa langsung pergi.
SKIP !!!
Terlihat seorang pria yang sedang
berdiri di lapangan basket. Tetapi pria itu masih bingung mengapa kakinya
melangkah menuju ke lapangan basket. Seperti ada sesuatu yang menyuruh hatinya
untuk menuju ke lapangan. Padahal sekarang ini jam di tangannya menunjukkan
pukul 10.00 tepat. Tapi kenapa kakinya berjalan kearah lapangan ??? Harusnya
sekarang ini dia sudah duduk manis di kursi kantin dan memakan makanan yang dia
suka.
“Mengapa
aku ke tempat ini yah. Harusnya aku menuju ke kantin dan berkumpuldengan
teman-temanku.” Ucap Yudha, yah pria ini yang sedari tadi bingung mau berbuat
apa di lapangan basket.
“ka’
Yudha.”
Tiba-tiba ada seorang gadis yang
memanggil nama pria itu. Reflek pria itupun membalikan wajahnya dan mencari
seseorang yang memanggil namanya itu.
“Ada
apa ???” Tanya Yudha masih bingung dengan gadis di hadapannya.
“Bukankah
seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepada kakak.”
“Maksudmu
???” Aku tidak mengerti Vika.”
“Tadi
ada seseorang yang menyuruhku menemui kakak. Ternyata kakak berada disini,
kupikir ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan padaku.” Ucap Vika bingung
dengan pria dihadapannya
“Tunggu,
aku benar-benar bingung, seseorang ??? siapa ???”
“Kakak
menyuruhku datang ke sini bukan ??? Aku tidak mengenal seseorang itu, yang aku
tau dia Cuma menyuruhku untuk mencari kakak dan menemui kakak.” Jawab Vika
panjang lebar
“Ah,
sudahlah. Orang itu hanya membohongimu. Aku tidak pernah menyuruhmu untuk
datang menemuiku, yasudah aku pergi dulu.” Ucap Yudha seraya pergi
BARU BEBERAPA LANGKAH
“Kakak
tunggu, aku ingin berbicara jujur kepadamu.”
“Yasudah
cepat katakan. Aku tidak mempunyai banyak waktu.” Ujar Yudha cuek
“Aku
mau mengakui sesuatu. Bahwa aku sangat kagum dengan kakak. Kakak begitu baik,
walaupun kakak tidak pernah mau bertemu denganku, tapi aku senang karena aku bisa
berbicara dengan kakak sekarang. Aku tau, sesungguhnya gadis sepertiku tidak
pantas berbicara dengan kakak. Aku juga tau, kakak pasti tidak mau bertemu
denganku. Setelah ini aku tidak akan mengganggu kakak lagi. Aku akan berusaha
untuk melupakan kakak. Terima kasih karena kakak telah membuatku semangat pada
saat acara MOS berlangsung. Terimakasih dan aku permisi dulu kak.” Terang Vika
seraya meninggalkan pemuda tampan yang masih diam tersebut.
Senang, bingung, terharu, merasa
bersalah, dan tidak percaya. Itulah yang dirasakan oleh pemuda tampan ini
sedari mendengar penuturan secara langsung dari mulut seorang gadis manis itu
yang membuatnya tidak bisa melupakan sosoknya.
Pria tampan ini hanya bingung mau
menjawab apa dengan penuturan gadis gadis itu. Dia terlihat senang pada saat
gadis itu jujur bahwa dia sangat kagum dengan Yudha. Tapi pemuda inipun merasa
bersalah karena membuat Vika berfikiran kalau Yudha tidak mau bertemu
dengannya.
èèèèèèèèèèèè
2 orang sahabat ini sedang melakukan
aksi persahabatannya di ruang osis. Memecahkan suatu masalah yang terjadi di
dalam diri mereka masing-masing secara bersama-sama.
“Kamu
kenapa Yudh ??? Seperti sedang ada masalah.” Tanya Ivan
“Gadis
itu.” Jawab Yudha singkat, padat dan tidak jelas
“Maksudmu
Vika ??? Kenapa kau tiba-tiba jadi pendiam begini ??? Cuma gara-gara seorang
gadis, baru kali ini aku melihatmu seperti orang sedang galau gara-gara seorang
gadis.”
“Aku
juga bingung. Gadis itu membuatku bingung dengan perasaanku sendiri. Entah
karena apa aku selalu nyaman berada di sisinya. Tapi aku juga selalu membuatnya
bersedih. Aku bingung mengapa semuanya jadi seperti ini.” Ucap Yudha murung
“Yasudah
ceritakan saja apa yang kau alami dengan gadis itu pagi tadi, jika aku bisa aku
akan membantumu dan memberikan saran yang baik untukmu.”
“Tadi
pagi aku pergi ke lapangan basket dan ……..”
Yudhapun menceritakan semua yang
terjadi kepada sahabatnya itu. Dari awal sampai akhir, pria tampan ini
menceritakan dengan sempurna apa yang terjadi di lapangan basket pagi tadi.
Sahabatnyapun berusaha untuk menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya
sendiri itu.
Setelah Yudha selesai menceritakan
semuanya kepada sahabatnya itu.
“…..
Jadi menurutmu aku harus bagaimana ???” Ucap Yudha mengakhiri ceritanya
“Lebih
baik kau minta maaf padanya. Sepertinya dia sakit hati dengan perbuatanmu.
Lagian kan kau yang memulai, masa kamu tidak mau minta maaf padanya.” Ujar Ivan
memberi saran
“Bukanya
tidak mau, tapi aku bingung. Apa kau yakin dia mau bertemu denganku setelah
kejadian kemarin !!! Kuarasa tidak. Sekarang dia pasti sangat membenciku.” Ucap
Yudha merasa pesimis
“Itu
menurutmnu, tidak menurutku. Menurutku dia adalah gadis yang baik, jadi dia
pasti mau bertemu denganmu. Jangan pesimis seperti itu kawan. Aku yakin kau
bisa. I believe you can.”
“Thank’s
van. I will meet her tomorrow, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, jadi
lebih baik besok saja aku menyelesaikan semuanya.”
“Ok
Ok, no problem kawan. Up to you.” Jawab Ivan sambil menganggukan kepalanya
èèèèèèèèèèèè
Setelah berjam jam, 2 gadis ini
menghabiskan waktu mereka setelah pulang sekolah tadi. Mereka memilih MALL
karena dengan berjalan-jalan mereka bisa melupakan masalah mereka walau hanya
sesaat. Dan melepas lelah setelah seharian mereka mengerjakan tugas sekolah dan
menghabiskan waktu di sekolah. Setelah lelah, mereka memutuskan untuk
beristirahat di Cafetaria yang terdapat di salah satu mall tersebut. Vika dan
Syifa. Yah 2 gadis cantik ini memesan makanan dan minuman untuk mengganjal
perut mereka setelah lelah berjalan-jalan.
“Kamu
ada hubungan apa dengan ka’ Ivan.” Suara Vika membuat Syifa terkejut dan
bingung harus menjawab apa. Pertanyaanya sangat susah untuk di jawab
“Tidak
ada hubungan apa-apa. Mengapa kau berfikiran seperti itu.” Jawab Syifa dan
bersikap biasa
“Aku
merasa, kau dan ka’ Ivan sangat dekat. Bahkan pagi tadi aku melihatmu sedang
berbicara dengan ka’ Ivan setelah kamu mengembalikan buku yang kamu pinjam ke
perpus kan ???” Benarkan ??”
“Ah,
eh, mmm … aku hanya ingin meminta maaf dengannya karena aku telah berani menulis
surat untuknya.” Jawab Syifa bingung seraya meminum jus Apel yang di pesannya.
“Apa
dia sudah tau bahwa kau menyukainya !!”
“Sepertinya
tidak. Dan aku tidak ingin dia mengetahuinya. Karena aku yakin, dia sangat
tidak suka denganku. Kau tau, menerima suratku saja dia tidak mau.” Ucap Syifa
murung
“Jangan
pernah berfikiran seperti itu. Positive
thinking aja fa, siapa tau pemikiranmu salah.”
“Ah
sudahlah, aku tidak mau membahas dia lagi. Oh ya, bagaimana dengan perkembangan
hubungan kamu sendiri dengan pria misterius itu.” Ucap Syifa seraya mengganti
topic pembicaraan
“Perkembangan
??? Memanganya aku dengan dia sudah berhubungan apa (terlihat dari
wajahnya,Vika terlihat sangat kesal) yang jelas aku akan berusaha untuk
melupakannya dan aku tidak pernah berbicara lagi dengannya. Aku sudah
mengatakan seperti itu kepada ka’ Yudha pagi tadi.” Ucap Vika
“Apa
??? Jadi pagi tadi kau sudah berbicara dengan ka’ Yudha. Mengapa kau tidak
memberitahuku sihh L
kau masih menganggapku sahabat kan ???”
“Maafkan
aku fa, bukanya aku tidak mau menceritakannya padamu. Aku juga tidak percaya
dengan apa yang aku katakan kepada ka’ Yudha. Aku sangat menyesal. Perasaanku
sekarang ini bukan suka / kagum saja fa sama dia, tapi perasaanku sudah berubah
menjadi CINTA. Dan sekarang mau gak mau aku harus melupakan dia dan menghapus
perasaan cinta ini.” Gumam Vika putus asa
“Vik
L.” Memeluk Vika
Mendengar penuturan langsung dari
mulut sahabatnya itu, Syifa langsung berhambur memeluk sahabatnya itu. Tangis
Vikapun pecah. Dia tidak sanggup menahan air matanya yang sedari tadi
ditahannya. Menangis di pelukan sahabatnya. Dia memang sangat beruntung
mempunyai sahabat seperti Syifa yang selalu ada di saat dalam keadaan senang
maupun sedih. 2 gadis ini tidak perduli dengan banyak pasang mata yang sedari
tadi sudah memperhatikan mereka. Setelah Vika merasa tenang, Syifapun
melepaskan pelukanya dan mencoba bertanya kepada Vika.
“Aku
sangat tau pasti kau sangat terluka. Menurutku kau tidak harus menepati
kata-kata yang kau ucapkan kepada ka’ Yudha pagi tadi. Kau masih boleh
mencintai dia dan mengagumi dia semaumu, dia juga tidak menyadarinya kan ???”
Ucap Syifa memberi saran
“Iyah
memang dia tidak tau. Tapi hatiku sangat sakit fa, sampai kapan aku harus
mempertahankan rasa cinta ini ??? sampai ka’ Yudha menikah kah.”
“Tidak,
tetapi sampai ka’ Yudha menyadari bahwa kau mencintai dia dengan sepenuh
hatinnya.”
“Aku
pikir-pikir lagi yah fa. Makasih karena kau mau mendengar semua keluh kesahku.”
“Iyah
J sama-sama sahabatku. Jangan
bersedih lagi ya, kalau kau punya masalah kamu ceritakan saja padaku. Siapa tau
aku bisa membantumu J”
“Iya
Syifaaaaa J.”
SKIP !!!
Keesokan paginya, di sebuah sekolah yang
sangat megah yang terkenal dengan anak-anaknya yang pintar dan pandai itu.
Apalagi kalau bukan SMA Bintang. Terlihat 2 orang pemuda ini sedang berjalan
menyusuri jalanan sekolah menuju ke kelas mereka dengan tampang dingin dan sok
coo’nya. Setelah sam[ai di kelas mereka yaitu kelas XI IPA 2, mereka menaruh
tas mereka dan duduk serta membuka buku KIMIA untuk dipelajari sebelum guru
menjelaskan.
“Aku
ingin bertemu dengan Syifa pagi ini.” Ucap Ivan membuka suara
“apa
yang ingin kau perbuat kepada gadis itu.”
“Aku
hanya ingin berdamai dengannya. Aku mau mengucapkan kata maaf kepadanya.”
“Apa
kau serius atau hanya candaan saja. Atau kau lagi sakit yah.” Ucap Yudha
bingung
“Aku
serius, apa wajahku terlihat seperti bercanda (menunjuk wajah’nya sendiri) aku
sudah banyak melakukan kesalahan kepadanya.”
“Yasudahlah.
Terserah dirimu saja. Aku pasti akan selalu mendukungmu sobat.”
“Thanks
sobat, kau memang sahabatku yang terbaik.”
èèèèèèèèèèèè
Terlihat seorang pria sedang berlari
lari kecil menghampiri 2 orang gadis yang sedang berjalan menuju kelas mereka.
Siapa lagi kalau bukan Syifa dan Vika. Mereka berdua akhirnya berhenti di depan
Ruang Osis karena merasa ada seseorang di hadapan mereka.
“Ada
apa kak, gak biasanya kakak menghampiri kita seperti ini.” Tanya Vika.
Sedangkan Syifa hanya berdiam diri di sebelah sahabatnya karena bingung maksud
pria dihadapannya.
“mmm
… Aku hanya ingin meminta maaf kepada kalian soal kesalahanku yang pernah
membuat kalian sebal terutama kau Syifa.” Jawab Ivan gugup
“Aku
sudah memaafkan kakak. Mmm .. tapi sepertinya aku harus pergi sekarang karena
ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Sampai jumpa nanti J”
Belum sempat Ivan dan Syifa menjawab
pertanyaan Vika, Vika sudah berlari menjauh dari mereka. Kini, tinggallah Syifa
dan Ivan yang masih terlihat gugup satu sama lain.
“Bagaimana,
apa kau mau memaafkanku.” Tanya Ivan
“mmm
(berfikir)”
“ayolahh
(pasang muka sayu) aku mohon, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi
kesalahanku yang dulu. Aku juga tidak akan menyakiti perasaanmu lagi.” Ucap
Ivan memohon
“(menganggukan
anggukan kepalanya)”
“kau
sudah memaafkanku. Serius !!!” Ucap Ivan semangat
“Iyah
kakak. Aku sudah memaafkanmu.”
“makasih
J sekarang kita berteman
(mengulurkan jari kelingkingnya)”
“Iyah
kita berteman J”
Ujar Syifa seraya menyambut uluran jari kelingking Ivan
Akhirnya mereka berteman. Tidak ada
kata sebal dan tidak ada kata benci di dalam kamus mereka masing-masing.
Hanyalah kata Pertemanan sekarang. Selama di sekolah mereka selalu melontarkan
senyum mereka satu sama lain.
SKIP !!!
Pulang sekolah. Terlihat seorang
gadis yang sedang menunggu jemputan. Sekarang jam di tanganya sudah menunjukkan
pukul 14.30. Artinya tidak ada taksi atau angkutan umum lainnya yang akan
melintas di jalan itu. Akhirnya gadis ini memilih untuk duduk di Halte di
pinggir SMA Bintang. Tiba-tiba ada seseorang menggunakan motor ninja’nya yang
berwarna merah yang berhenti tepat di depan Vika. Vikapun sangat ketakutan
karena dia merasa tidak mengenali seseorang di hadapanya. Karena orang itu
menggunakan helm Fullface’nya dan menutupnya.
“siapa
kamu. Jangan ganggu aku. Aku mohon.” Ucap Vika gemetar seraya menjauh dari
tempat itu
“Heh,
siapa yang akan menggagumu. Aku tidak akan berbuat jahat terhadapmu.”
“Kalau
kau benar-benar tidak akan berbuat jahat terhadapku. Pergi sekarang juga.” Usir
Vika
“Berani
beraninya kau mengusirku. Kau tidak tau siapa aku.” Hardik si pengendara motor.
“Aku
tidak mengenalimu.” Jawab Vika singkat dan padat dan pergi meninggalkan tempat
itu
“Vika.”
Vikapun menghentikan langkahnya
karena orang itu memegang tanganya. Dan Vikapun membalikan badannya sehingga
berhadapan langsung dengan orang itu. Orang itu sudah membuka helm fullface’nya
dan matanya menatap tajam kearah Vika. Jarak mereka sangat dekat. Dan Vikapun
sadar bahwa pria dihadapannya sangat tampan dan terlihat manis kala itu.
Setelah beberapa menit dalam keadaan seperti itu, Vikapun tersadar dan
menjauhkan dirinya dari pria di hadapannya,
“Ka
.. ka Yudha.” Ucap Vika gugup ternyata orang dihadapannya adalah ketua Osis Sma
Bintang
“Maaf.”
“Tidak
apa-apa. Mmm, kakak ada keperluan apa. Mengapa ada di sini.”
“Harusnya
aku yang berbicara seperti itu. Mengapa kau bisa ada di sini. Sendirian pula.
Memangnya kau tidak takut sendirian disini.” Tanya Yudha bingung
“Mmmm,
aku lagi nunggu jemputan kak. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan
datang. Rencananya aku akan menaiki taksi atau angkutan umum lainnya. Tapi
tidak ada satupun yang datang melintasi jalanan ini.” Jawab Vika menjelaskan
panjang lebar
“(melihat
jam di tangannya) jam segini ??? pantas saja kau tidak melihatnya. Jam segini
tidak akan ada angkutan umum ataupun taksi yang melintas disini. Taksi akan
beroperasi jam 16.00 nanti. Apa kau masih mau menunggunya disini ??? Bagaimana
kalau kau pulang denganku saja.” Ajak Yudha
“Pulang
dengan kakak ??? Tidak usah kak, nanti merepotkan. Aku bisa jalan kaki.” Tolak
Vika
“Heh,
kau pikir aku tidak mengetahui dimana rumahmu. Sudahlah ayo naik.”
“Tapi
…”
“Sudahlah,
ayo cepat naik (sambil menunjuk jok belakang motornya.)”
“Yasudah.
Makasih kak.” Ucap Vika seraya menaiki motor ninja merah milik Yudha.
Brumm brumm brumm. Suara motor Yudha
mulai terdengar. Tetapi pemuda ini belum juga menjalankan motornya. Sedangkan
gadis yang berada di belakangnya hanya menyatukan alisnya tanda dirinnya
bingung dengan pemuda di depannya.
“Heyy,
kau tau kan aturan membonceng motor itu bagaimana.”
“Memangnya
aturannya apaan kak.” Tanya Vika dengan muka polosnya
“Pegangan.”
Jawab Yudha singkat dan cukup mengagetkan
“Pegangan
??? Ah aku tidak mau.”
“Sudah
cepat. Daripada di jalan kamu jatuh, mending pegangan kan Vik ???”
“(Menarik
tangannya untuk memegang pinggang Yudha tapi masih ragu dan gemetar) Sudah”
“Nah
gitu dong. Ayo kita pulang.”Ucap Yudha seraya menjalankan motornya.
Dijalan mereka memutuskan unutk
menutup mulut mereka masing-masing. Diam dan Diam. Hanya terdengar suara
kendaraan di jalan itu.
(‘Nyaman
sekali rasanya berada di dekat Vika seperti ini, apa mungkin aku mulai
mencintainya. Semoga Vika mempunyai perasaan yang sama sepertiku.’ Batin Yudha)
Mereka pun sampai di sebuah rumah
megah. Rumah Vika Riyyana Della dengan dilengkapi kolam ikan di depan rumahnya
dan dilengkapi dengan taman disebelah Kolam ikan itu. Vikapun turun dari motor
ninja Yudha.
“Makasih
kak.”
“Iyah
sama sama J” Ujar Yudha seraya
menyunggingkan senyum manisnya yang bisa membuat kaum hawa pada terpesona J. Termasuk gadis di hadapan
pemuda tampan itu.
“(gugup)
mmm, kakak ko bisa tau rumahku. Tau dari mana ???” Tanya Vika
“Tau
dari siapa yah (senyum seraya pura-pura berfikir).”
“ih
kakak seriusan. Yang bener dong jawabnya.
Aku kan penasaran.” Ucap Vika manyun
“Iya
iya (mengacak-acak rambut Vika). Kalau lagi manyun tambah cantik deh J”
“Gombal.
Belajar dari mana tuh. Jawab dong kak.”
“Aku
gak berbakat untuk gombal-gombalan tau. Aku pernah ngikutin kamu pulang.”
“Kapan
??? ko’ aku gatau kak.”
“Iyalah
kamu gatau. Kan aku ngikutin kamu secara diam-diam.”
“Huh
dasar, kapan tuh kakak ngikutin aku pulang.”
“Waktu
pulang bareng sama Syifa naik taksi. Inget kaaaannn ???”
“Iya
inget. Dasar tukang nguntit, kalo aku tau aku langsung menyuruh kakak pulang
secepatnya, supaya kakak gak tau rumah aku. Mau mampir gak.” Tawar Vika
“Hahaha
J, bisa aja deh. Gak usah dehh.
Aku pulang langsung aja. Ada tugas dari Bu. Maya (Wakepsek) suruh buat Proposal
soalnya, dan besok harus dikumpulkan”
“Oh
yaudah J”
“Vik,
maafin kesalahanku selama ini yah. Aku tau aku salah. Selama ini aku selalu
cuek terhadapmu. Aku selalu gak perduli sama kamu. Aku selalu buat kamu kesel
dan buat kamu marah. Maafkan aku Vik”
“Aku
udah maafin kakak ko’. Aku juga minta maaf sama kakak. Karena kemarin aku kasar
sama kakak”
“Kakak
juga udah maafin kamu Vik. Sekarang kita temenan ajah yah. Mau gak.”
“Iyah
kak sekarang kita temenan J”
“Makasih.
Kakak pulang dulu yah J
sampai jumpa.”
Vikapun memasuki halaman rumahnya
yang sangat luas itu dengan perasaan gembira. Pria yang tadi sudah mengantarnya
membuat perasaanya tidak karuan setiap Vika berada di dekatnya.
ini diaaaaa lanjutanya :D
like and comment tak tunggu guys ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar