Jumat, 15 Februari 2013

That's All Cause of Love - Part 2

nih guys lanjutanya :D
keep reading and enjoy reading yah friend ;)
cekidot !!!


Malam harinya Vika terbaring di tempat tidur memikirkan kejadian yang terjadi pagi tadi di sekolahnya tepatnya di kantin sekolah. Entah karena apa, berkali-kali Vika membuka buku pelajaran yang ia pinjam di perpus sekolah  dan berusaha untuk memahaminya tetapi tidak ada satupun materi yang masuk ke dalam otaknya. Pikiranya selalu melayang jauh ke kejadian bersama sahabatnya dan two most wanted in the school tadi pagi.
“Aku tidak menyangka bisa berbicara langsung dengan ka’ Yudha. Walaupun hanya sementara tapi rasanya senang sekali bisa berbicara denganya. Akh dia selalu membuatku penasaran dengan tingkahnya itu. Kira-kira dia sudah mempunyai pujaan hatinya belum yah. Yang aku inginkan sih dia belu mempunyai kekasih. Tapi akh sudahlah, aku juga tidak pantas untuknya.”
èèèèèèèèèèèè
            Seorang pria sedang mendribble bola basketnya di dalam kamarnya. Karena pemuda tampan ini mempunyai sebuah kamar yang sangat mewah dan cukup luas sehingga bisa digunakan untuk bermain basket kecil-kecilan, walaupun tidak ada ring’nya. Terlihat pria ini sedang mendribble bola basket tetapi fikiranya melayang jauh ke kejadian di kantin pagi tadi.
“Addduuuhhhh L mengapa aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Mengapa gadis itu selalu muncul di fikiranku. Mengapa aku tidak bisa melupakan gadis itu. Aku bingung, aku tidak bisa melupakanya, ada apa ini. Aku tidak mungkin menaruh hatiku untuknya.”
            Pada saat pria itu berfikir keras untuk melupakan sosok gadis itu. Yudha teringat sesuatu, yah pria tampan ini teringat akan surat pemberian gadis itu. Kemudian dia mulai mencari dan mencari. Setelah beberapa menit mencari, pemuda tampan ini berhasil menemukan surat dengan warna amplop biru dengan dihiasi bunga di sebelah kanan surat, berwarna merah.
            “Mending aku membaca suratnya saja deh, aku penasaran apa isinnya.”
 Pemuda inipun mulai membuka suratnya yang berwarna biru polos dengan diisi tulisan indah yang ditulis oleh gadis itu J. Perlahan tapi pasti pemuda tampan ini membuka surat dari gadis yang membuat dirinnya menjadi frustasi malam ini. Dan gadis itu juga yang juga membuat dirinnya terus memikirkan diri gadis cantik itu dan tidak bisa melupakan bayangan-bayangannya yang selalu melintas di benaknya.

“Dear Ketua Osis SMA Bintang ( kakak Yudha Aditya Saputra )
                Hai kak Yudha, terima kasih yah karena kau telah membuang-buang waktumu untuk membaca suratku yang tidak berguna ini. Maafkan aku karena aku berani membuat surat untukmu. Karena aku sungguh tidak pantas memberikannya untukmu. Semoga kau bisa menerima dan menyimpan suratku ini.
                Tujuan aku memberi surat yang ku buat untukmu ini adalah hanya karena aku ingin mengucapkan sesuatu. Karena aku berfikir, kalau aku berbicara langsung kepadamu rasanya tidak mungkin dan tidak pantas.
                Kak, kakak harus tau kalau aku sangat kagum sama kakak. Kakak baik dan perduli sama orang lain. Kakak juga ramah. Kakak pintar dan kakak hebat sebagai ketua osis. Aku salut kepadamu, walaupun banyak orang yang memujimu, tapi kakak tidak pernah sombong. Kakak juga keren dan hmmm J tampan … Di dalam fikiranku mengenai kakak adalah SEMPURNA. 1 kata itu memang terlalu singkat, tapi hanya kata itu yang bisa kuungkapkan untuk kakak.
                Maafkan aku, aku telah berani menulis surat untukmu. Tapi aku tidak berharap apa-apa dari kakak. Aku hanya ingin kakak menyimpan surat dariku dan tidak membuangnya. Tapi itu terserah kakak. Sekali lagi  Maafkan aku dan terima kasih.
From : Vika Riyyana Della ( X.1 )

Senyum. Itulah ekspresi yang ditunjukkan oleh pemuda tampan itu selama membaca surat dari gadis itu. Vika. Yah nama gadis itu yang membuat seorang Yudha Aditya Saputra tidak bisa melupakannya. Entah karena apa, perasaan yang kini membuat seorang ketua osis ini bingung dengan kelakuan gadis manis yang mirip boneka itu.
SKIP !!!
            Keesokan harinya, semua orang memulai aktivitas seperti biasanya seperti Vika dan Syifa. 2 gadis manis ini berjalan menyusuri koridor sekolah untuk memasuki kelas mereka yaitu kelas X.1. Tiba-tiba ditengah perjalanan Syifa menhentikannya. Seperti ada sesuatu K.
“Mengapa kau berhenti ??? Apa ada sesuatu.” Tanya Vika penasaran.
“Mmmm, sepertinya aku harus mengembalikan buku perpustakaan yang ku pinjam kemarin.” Jawab Syifa sambil mengeluarkan buku tebal yang di depan buku bertuliskan FISIKA.
“oh begitu, yasudah. Apa kau mau aku temani untuk mengembalikan buku itu.”
“Terima kasih sahabatku. Tapi sepertinya tidak perlu, karena aku sendiri yang akan mengembalikannya. Lebih baik teruskan saja perjalananmu menuju kelas. Aku akan menyusul nanti.”
“oh yasudah, sampai ketemu nanti.” Ucap Vika seraya meninggalkan sahabatnya itu dan menuju kelas
SKIP !!!
            Setelah mengembalikan buku tebal itu ke perpustakaan. Gadis itupun melanjutkan perjalananya menuju kelas. Tapi sepertinya gadis ini sedang tidak beruntung, karena merasa menabrak seseorang. Setelah tau siapa yang dia tabrak. Gadis itupun langsung menunduk dan mengatakan kata MAAF kepada pria dingin dihadapannya itu. Siapa lagi kalau bukan Ivan J
“Syifa ???” Tanya Ivan dengan tampang cool’nya.
“Maafkan aku sekali lagi, aku tidak melihatmu kak (menunduk).”
“Tidak apa-apa, sudahlah. Aku juga bersalah karena tidak melihatmu.”
“yasudah tidak apa-apa, aku permisi dulu ya kak J.”
            Baru beberapa langkah gadis itu meninggalkan pria dingin itu, Pria dingin itu sudah memanggil nama Syifa dan menarik tangannya. Perbuatan yang dilakukan oleh pria itu membuat Syifa membalikan badanya dan menatap tajam ke mata bening milik Ivan. Beberapa menit mereka dalam posisi seperti itu, akhirnya mereka sadar dan keduanya terlihat salah tingkah.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu.” Ucap Ivan, pria yang ditabrak Syifa merasa salah tingkah sejak kejadian tadi.
“Tidak apa-apa, ada hal pentingkah yang ingin kau katakan kepadaku.” Ucap Syifa tidak kalah gemetar dengan pria dingin dihadapannya.
“Oh tidak, aku hanya ingin mengatakan kepadamu, apa benar kata-kata yang kau tulis di dalam suratmu.”
“Maksudmu ??? Mmmm, apa kau tidak suka dengan isi suratku itu. Kalau kau tidak suka, buang saja. Aku juga tidak berharap kau menyimpan suratku itu.” Ucap Syifa dengan menundukan kepalanya.
“Tidak, bukan maksudku seperti itu. Tapi aku hanya ….” Potong Ivan
“Sudahlah kak, aku permisi dulu, sebentar lagi bel.” Syifa langsung pergi.
SKIP !!!
            Terlihat seorang pria yang sedang berdiri di lapangan basket. Tetapi pria itu masih bingung mengapa kakinya melangkah menuju ke lapangan basket. Seperti ada sesuatu yang menyuruh hatinya untuk menuju ke lapangan. Padahal sekarang ini jam di tangannya menunjukkan pukul 10.00 tepat. Tapi kenapa kakinya berjalan kearah lapangan ??? Harusnya sekarang ini dia sudah duduk manis di kursi kantin dan memakan makanan yang dia suka.
“Mengapa aku ke tempat ini yah. Harusnya aku menuju ke kantin dan berkumpuldengan teman-temanku.” Ucap Yudha, yah pria ini yang sedari tadi bingung mau berbuat apa di lapangan basket.
“ka’ Yudha.”
            Tiba-tiba ada seorang gadis yang memanggil nama pria itu. Reflek pria itupun membalikan wajahnya dan mencari seseorang yang memanggil namanya itu.
“Ada apa ???” Tanya Yudha masih bingung dengan gadis di hadapannya.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepada kakak.”
“Maksudmu ???” Aku tidak mengerti Vika.”
“Tadi ada seseorang yang menyuruhku menemui kakak. Ternyata kakak berada disini, kupikir ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan padaku.” Ucap Vika bingung dengan pria dihadapannya
“Tunggu, aku benar-benar bingung, seseorang ??? siapa ???”
“Kakak menyuruhku datang ke sini bukan ??? Aku tidak mengenal seseorang itu, yang aku tau dia Cuma menyuruhku untuk mencari kakak dan menemui kakak.” Jawab Vika panjang lebar
“Ah, sudahlah. Orang itu hanya membohongimu. Aku tidak pernah menyuruhmu untuk datang menemuiku, yasudah aku pergi dulu.” Ucap Yudha seraya pergi
BARU BEBERAPA LANGKAH
“Kakak tunggu, aku ingin berbicara jujur kepadamu.”
“Yasudah cepat katakan. Aku tidak mempunyai banyak waktu.” Ujar Yudha cuek
“Aku mau mengakui sesuatu. Bahwa aku sangat kagum dengan kakak. Kakak begitu baik, walaupun kakak tidak pernah mau bertemu denganku, tapi aku senang karena aku bisa berbicara dengan kakak sekarang. Aku tau, sesungguhnya gadis sepertiku tidak pantas berbicara dengan kakak. Aku juga tau, kakak pasti tidak mau bertemu denganku. Setelah ini aku tidak akan mengganggu kakak lagi. Aku akan berusaha untuk melupakan kakak. Terima kasih karena kakak telah membuatku semangat pada saat acara MOS berlangsung. Terimakasih dan aku permisi dulu kak.” Terang Vika seraya meninggalkan pemuda tampan yang masih diam tersebut.
            Senang, bingung, terharu, merasa bersalah, dan tidak percaya. Itulah yang dirasakan oleh pemuda tampan ini sedari mendengar penuturan secara langsung dari mulut seorang gadis manis itu yang membuatnya tidak bisa melupakan sosoknya.
            Pria tampan ini hanya bingung mau menjawab apa dengan penuturan gadis gadis itu. Dia terlihat senang pada saat gadis itu jujur bahwa dia sangat kagum dengan Yudha. Tapi pemuda inipun merasa bersalah karena membuat Vika berfikiran kalau Yudha tidak mau bertemu dengannya.
èèèèèèèèèèèè
            2 orang sahabat ini sedang melakukan aksi persahabatannya di ruang osis. Memecahkan suatu masalah yang terjadi di dalam diri mereka masing-masing secara bersama-sama.
“Kamu kenapa Yudh ??? Seperti sedang ada masalah.” Tanya Ivan
“Gadis itu.” Jawab Yudha singkat, padat dan tidak jelas
“Maksudmu Vika ??? Kenapa kau tiba-tiba jadi pendiam begini ??? Cuma gara-gara seorang gadis, baru kali ini aku melihatmu seperti orang sedang galau gara-gara seorang gadis.”
“Aku juga bingung. Gadis itu membuatku bingung dengan perasaanku sendiri. Entah karena apa aku selalu nyaman berada di sisinya. Tapi aku juga selalu membuatnya bersedih. Aku bingung mengapa semuanya jadi seperti ini.” Ucap Yudha murung
“Yasudah ceritakan saja apa yang kau alami dengan gadis itu pagi tadi, jika aku bisa aku akan membantumu dan memberikan saran yang baik untukmu.”
“Tadi pagi aku pergi ke lapangan basket dan ……..”
            Yudhapun menceritakan semua yang terjadi kepada sahabatnya itu. Dari awal sampai akhir, pria tampan ini menceritakan dengan sempurna apa yang terjadi di lapangan basket pagi tadi. Sahabatnyapun berusaha untuk menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya sendiri itu.
            Setelah Yudha selesai menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu.
“….. Jadi menurutmu aku harus bagaimana ???” Ucap Yudha mengakhiri ceritanya
“Lebih baik kau minta maaf padanya. Sepertinya dia sakit hati dengan perbuatanmu. Lagian kan kau yang memulai, masa kamu tidak mau minta maaf padanya.” Ujar Ivan memberi saran
“Bukanya tidak mau, tapi aku bingung. Apa kau yakin dia mau bertemu denganku setelah kejadian kemarin !!! Kuarasa tidak. Sekarang dia pasti sangat membenciku.” Ucap Yudha merasa pesimis
“Itu menurutmnu, tidak menurutku. Menurutku dia adalah gadis yang baik, jadi dia pasti mau bertemu denganmu. Jangan pesimis seperti itu kawan. Aku yakin kau bisa. I believe you can.”
“Thank’s van. I will meet her tomorrow, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, jadi lebih baik besok saja aku menyelesaikan semuanya.”
“Ok Ok, no problem kawan. Up to you.” Jawab Ivan sambil menganggukan kepalanya
èèèèèèèèèèèè
            Setelah berjam jam, 2 gadis ini menghabiskan waktu mereka setelah pulang sekolah tadi. Mereka memilih MALL karena dengan berjalan-jalan mereka bisa melupakan masalah mereka walau hanya sesaat. Dan melepas lelah setelah seharian mereka mengerjakan tugas sekolah dan menghabiskan waktu di sekolah. Setelah lelah, mereka memutuskan untuk beristirahat di Cafetaria yang terdapat di salah satu mall tersebut. Vika dan Syifa. Yah 2 gadis cantik ini memesan makanan dan minuman untuk mengganjal perut mereka setelah lelah berjalan-jalan.
“Kamu ada hubungan apa dengan ka’ Ivan.” Suara Vika membuat Syifa terkejut dan bingung harus menjawab apa. Pertanyaanya sangat susah untuk di jawab
“Tidak ada hubungan apa-apa. Mengapa kau berfikiran seperti itu.” Jawab Syifa dan bersikap biasa
“Aku merasa, kau dan ka’ Ivan sangat dekat. Bahkan pagi tadi aku melihatmu sedang berbicara dengan ka’ Ivan setelah kamu mengembalikan buku yang kamu pinjam ke perpus kan ???” Benarkan ??”
“Ah, eh, mmm … aku hanya ingin meminta maaf dengannya karena aku telah berani menulis surat untuknya.” Jawab Syifa bingung seraya meminum jus Apel yang di pesannya.
“Apa dia sudah tau bahwa kau menyukainya !!”
“Sepertinya tidak. Dan aku tidak ingin dia mengetahuinya. Karena aku yakin, dia sangat tidak suka denganku. Kau tau, menerima suratku saja dia tidak mau.” Ucap Syifa murung
“Jangan pernah  berfikiran seperti itu. Positive thinking aja fa, siapa tau pemikiranmu salah.”
“Ah sudahlah, aku tidak mau membahas dia lagi. Oh ya, bagaimana dengan perkembangan hubungan kamu sendiri dengan pria misterius itu.” Ucap Syifa seraya mengganti topic pembicaraan
“Perkembangan ??? Memanganya aku dengan dia sudah berhubungan apa (terlihat dari wajahnya,Vika terlihat sangat kesal) yang jelas aku akan berusaha untuk melupakannya dan aku tidak pernah berbicara lagi dengannya. Aku sudah mengatakan seperti itu kepada ka’ Yudha pagi tadi.” Ucap Vika
“Apa ??? Jadi pagi tadi kau sudah berbicara dengan ka’ Yudha. Mengapa kau tidak memberitahuku sihh L kau masih menganggapku sahabat kan ???”
“Maafkan aku fa, bukanya aku tidak mau menceritakannya padamu. Aku juga tidak percaya dengan apa yang aku katakan kepada ka’ Yudha. Aku sangat menyesal. Perasaanku sekarang ini bukan suka / kagum saja fa sama dia, tapi perasaanku sudah berubah menjadi CINTA. Dan sekarang mau gak mau aku harus melupakan dia dan menghapus perasaan cinta ini.” Gumam Vika putus asa
“Vik L.” Memeluk Vika
            Mendengar penuturan langsung dari mulut sahabatnya itu, Syifa langsung berhambur memeluk sahabatnya itu. Tangis Vikapun pecah. Dia tidak sanggup menahan air matanya yang sedari tadi ditahannya. Menangis di pelukan sahabatnya. Dia memang sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Syifa yang selalu ada di saat dalam keadaan senang maupun sedih. 2 gadis ini tidak perduli dengan banyak pasang mata yang sedari tadi sudah memperhatikan mereka. Setelah Vika merasa tenang, Syifapun melepaskan pelukanya dan mencoba bertanya kepada Vika.
“Aku sangat tau pasti kau sangat terluka. Menurutku kau tidak harus menepati kata-kata yang kau ucapkan kepada ka’ Yudha pagi tadi. Kau masih boleh mencintai dia dan mengagumi dia semaumu, dia juga tidak menyadarinya kan ???” Ucap Syifa memberi saran
“Iyah memang dia tidak tau. Tapi hatiku sangat sakit fa, sampai kapan aku harus mempertahankan rasa cinta ini ??? sampai ka’ Yudha menikah kah.”
“Tidak, tetapi sampai ka’ Yudha menyadari bahwa kau mencintai dia dengan sepenuh hatinnya.”
“Aku pikir-pikir lagi yah fa. Makasih karena kau mau mendengar semua keluh kesahku.”
“Iyah J sama-sama sahabatku. Jangan bersedih lagi ya, kalau kau punya masalah kamu ceritakan saja padaku. Siapa tau aku bisa membantumu J
“Iya Syifaaaaa J.”
SKIP !!!
            Keesokan paginya, di sebuah sekolah yang sangat megah yang terkenal dengan anak-anaknya yang pintar dan pandai itu. Apalagi kalau bukan SMA Bintang. Terlihat 2 orang pemuda ini sedang berjalan menyusuri jalanan sekolah menuju ke kelas mereka dengan tampang dingin dan sok coo’nya. Setelah sam[ai di kelas mereka yaitu kelas XI IPA 2, mereka menaruh tas mereka dan duduk serta membuka buku KIMIA untuk dipelajari sebelum guru menjelaskan.
“Aku ingin bertemu dengan Syifa pagi ini.” Ucap Ivan membuka suara
“apa yang ingin kau perbuat kepada gadis itu.”
“Aku hanya ingin berdamai dengannya. Aku mau mengucapkan kata maaf kepadanya.”
“Apa kau serius atau hanya candaan saja. Atau kau lagi sakit yah.” Ucap Yudha bingung
“Aku serius, apa wajahku terlihat seperti bercanda (menunjuk wajah’nya sendiri) aku sudah banyak melakukan kesalahan kepadanya.”
“Yasudahlah. Terserah dirimu saja. Aku pasti akan selalu mendukungmu sobat.”
“Thanks sobat, kau memang sahabatku yang terbaik.”
èèèèèèèèèèèè
            Terlihat seorang pria sedang berlari lari kecil menghampiri 2 orang gadis yang sedang berjalan menuju kelas mereka. Siapa lagi kalau bukan Syifa dan Vika. Mereka berdua akhirnya berhenti di depan Ruang Osis karena merasa ada seseorang di hadapan mereka.
“Ada apa kak, gak biasanya kakak menghampiri kita seperti ini.” Tanya Vika. Sedangkan Syifa hanya berdiam diri di sebelah sahabatnya karena bingung maksud pria dihadapannya.
“mmm … Aku hanya ingin meminta maaf kepada kalian soal kesalahanku yang pernah membuat kalian sebal terutama kau Syifa.” Jawab Ivan gugup
“Aku sudah memaafkan kakak. Mmm .. tapi sepertinya aku harus pergi sekarang karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Sampai jumpa nanti J
            Belum sempat Ivan dan Syifa menjawab pertanyaan Vika, Vika sudah berlari menjauh dari mereka. Kini, tinggallah Syifa dan Ivan yang masih terlihat gugup satu sama lain.
“Bagaimana, apa kau mau memaafkanku.” Tanya Ivan
“mmm (berfikir)”
“ayolahh (pasang muka sayu) aku mohon, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku yang dulu. Aku juga tidak akan menyakiti perasaanmu lagi.” Ucap Ivan memohon
“(menganggukan anggukan kepalanya)”
“kau sudah memaafkanku. Serius !!!” Ucap Ivan semangat
“Iyah kakak. Aku sudah memaafkanmu.”
“makasih J sekarang kita berteman (mengulurkan jari kelingkingnya)”
“Iyah kita berteman J” Ujar Syifa seraya menyambut uluran jari kelingking Ivan
            Akhirnya mereka berteman. Tidak ada kata sebal dan tidak ada kata benci di dalam kamus mereka masing-masing. Hanyalah kata Pertemanan sekarang. Selama di sekolah mereka selalu melontarkan senyum mereka satu sama lain.
SKIP !!!
            Pulang sekolah. Terlihat seorang gadis yang sedang menunggu jemputan. Sekarang jam di tanganya sudah menunjukkan pukul 14.30. Artinya tidak ada taksi atau angkutan umum lainnya yang akan melintas di jalan itu. Akhirnya gadis ini memilih untuk duduk di Halte di pinggir SMA Bintang. Tiba-tiba ada seseorang menggunakan motor ninja’nya yang berwarna merah yang berhenti tepat di depan Vika. Vikapun sangat ketakutan karena dia merasa tidak mengenali seseorang di hadapanya. Karena orang itu menggunakan helm Fullface’nya dan menutupnya.
“siapa kamu. Jangan ganggu aku. Aku mohon.” Ucap Vika gemetar seraya menjauh dari tempat itu
“Heh, siapa yang akan menggagumu. Aku tidak akan berbuat jahat terhadapmu.”
“Kalau kau benar-benar tidak akan berbuat jahat terhadapku. Pergi sekarang juga.” Usir Vika
“Berani beraninya kau mengusirku. Kau tidak tau siapa aku.” Hardik si pengendara motor.
“Aku tidak mengenalimu.” Jawab Vika singkat dan padat dan pergi meninggalkan tempat itu
“Vika.”
            Vikapun menghentikan langkahnya karena orang itu memegang tanganya. Dan Vikapun membalikan badannya sehingga berhadapan langsung dengan orang itu. Orang itu sudah membuka helm fullface’nya dan matanya menatap tajam kearah Vika. Jarak mereka sangat dekat. Dan Vikapun sadar bahwa pria dihadapannya sangat tampan dan terlihat manis kala itu. Setelah beberapa menit dalam keadaan seperti itu, Vikapun tersadar dan menjauhkan dirinya dari pria di hadapannya,
“Ka .. ka Yudha.” Ucap Vika gugup ternyata orang dihadapannya adalah ketua Osis Sma Bintang
“Maaf.”
“Tidak apa-apa. Mmm, kakak ada keperluan apa. Mengapa ada di sini.”
“Harusnya aku yang berbicara seperti itu. Mengapa kau bisa ada di sini. Sendirian pula. Memangnya kau tidak takut sendirian disini.” Tanya Yudha bingung
“Mmmm, aku lagi nunggu jemputan kak. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan datang. Rencananya aku akan menaiki taksi atau angkutan umum lainnya. Tapi tidak ada satupun yang datang melintasi jalanan ini.” Jawab Vika menjelaskan panjang lebar
“(melihat jam di tangannya) jam segini ??? pantas saja kau tidak melihatnya. Jam segini tidak akan ada angkutan umum ataupun taksi yang melintas disini. Taksi akan beroperasi jam 16.00 nanti. Apa kau masih mau menunggunya disini ??? Bagaimana kalau kau pulang denganku saja.” Ajak Yudha
“Pulang dengan kakak ??? Tidak usah kak, nanti merepotkan. Aku bisa jalan kaki.” Tolak Vika
“Heh, kau pikir aku tidak mengetahui dimana rumahmu. Sudahlah ayo naik.”
“Tapi …”
“Sudahlah, ayo cepat naik (sambil menunjuk jok belakang motornya.)”
“Yasudah. Makasih kak.” Ucap Vika seraya menaiki motor ninja merah milik Yudha.
            Brumm brumm brumm. Suara motor Yudha mulai terdengar. Tetapi pemuda ini belum juga menjalankan motornya. Sedangkan gadis yang berada di belakangnya hanya menyatukan alisnya tanda dirinnya bingung dengan pemuda di depannya.
“Heyy, kau tau kan aturan membonceng motor itu bagaimana.”
“Memangnya aturannya apaan kak.” Tanya Vika dengan muka polosnya
“Pegangan.” Jawab Yudha singkat dan cukup mengagetkan
“Pegangan ??? Ah aku tidak mau.”
“Sudah cepat. Daripada di jalan kamu jatuh, mending pegangan kan Vik ???”
“(Menarik tangannya untuk memegang pinggang Yudha tapi masih ragu dan gemetar) Sudah”
“Nah gitu dong. Ayo kita pulang.”Ucap Yudha seraya menjalankan motornya.
            Dijalan mereka memutuskan unutk menutup mulut mereka masing-masing. Diam dan Diam. Hanya terdengar suara kendaraan di jalan itu.
(‘Nyaman sekali rasanya berada di dekat Vika seperti ini, apa mungkin aku mulai mencintainya. Semoga Vika mempunyai perasaan yang sama sepertiku.’ Batin Yudha)
            Mereka pun sampai di sebuah rumah megah. Rumah Vika Riyyana Della dengan dilengkapi kolam ikan di depan rumahnya dan dilengkapi dengan taman disebelah Kolam ikan itu. Vikapun turun dari motor ninja Yudha.
“Makasih kak.”
“Iyah sama sama J” Ujar Yudha seraya menyunggingkan senyum manisnya yang bisa membuat kaum hawa pada terpesona J. Termasuk gadis di hadapan pemuda tampan itu.
“(gugup) mmm, kakak ko bisa tau rumahku. Tau dari mana ???” Tanya Vika
“Tau dari siapa yah (senyum seraya pura-pura berfikir).”
“ih kakak seriusan. Yang bener dong  jawabnya. Aku kan penasaran.” Ucap Vika manyun
“Iya iya (mengacak-acak rambut Vika). Kalau lagi manyun tambah cantik deh J
“Gombal. Belajar dari mana tuh. Jawab dong kak.”
“Aku gak berbakat untuk gombal-gombalan tau. Aku pernah ngikutin kamu pulang.”
“Kapan ??? ko’ aku gatau kak.”
“Iyalah kamu gatau. Kan aku ngikutin kamu secara diam-diam.”
“Huh dasar, kapan tuh kakak ngikutin aku pulang.”
“Waktu pulang bareng sama Syifa naik taksi. Inget kaaaannn ???”
“Iya inget. Dasar tukang nguntit, kalo aku tau aku langsung menyuruh kakak pulang secepatnya, supaya kakak gak tau rumah aku. Mau mampir gak.” Tawar Vika
“Hahaha J, bisa aja deh. Gak usah dehh. Aku pulang langsung aja. Ada tugas dari Bu. Maya (Wakepsek) suruh buat Proposal soalnya, dan besok harus dikumpulkan”
“Oh yaudah J
“Vik, maafin kesalahanku selama ini yah. Aku tau aku salah. Selama ini aku selalu cuek terhadapmu. Aku selalu gak perduli sama kamu. Aku selalu buat kamu kesel dan buat kamu marah. Maafkan aku Vik”
“Aku udah maafin kakak ko’. Aku juga minta maaf sama kakak. Karena kemarin aku kasar sama kakak”
“Kakak juga udah maafin kamu Vik. Sekarang kita temenan ajah yah. Mau gak.”
“Iyah kak sekarang kita temenan J
“Makasih. Kakak pulang dulu yah J sampai jumpa.”
            Vikapun memasuki halaman rumahnya yang sangat luas itu dengan perasaan gembira. Pria yang tadi sudah mengantarnya membuat perasaanya tidak karuan setiap Vika berada di dekatnya.

ini diaaaaa lanjutanya :D
like and comment tak tunggu guys ;)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar