kembali lagi bersama saya, seorang gadis yang unyu-unyu :D
okeh guys. ini Ada lanjutan buat cerbung Benci Jadi Cinta ...
semoga kalian menjadi suka yah ... dan semoga juga kalian bacanya gak pernah bosen :)
okeh deh gak usah banyak omong ...
cekidot !!!
Beberapa hari kemudian.
Sekelompok orang sedang berada di lapangan dekat dengan sekolah menengah
pertama mereka dulu. Langit begitu cerah seakan-akan menggambarkan perasaan
sekelompok remaja ini. Mereka asyik tertawa bersama berbagi cerita-cerita
menarik satu sama lain. Setelah sebelumnya mereka menjadi musuh yang selalu
memperebutkan hal yang tidak penting, sekarang mereka resmi menjadi sahabat.
Sahabat selamanya.
“Bro, gue minta maaf yah buat
kesalahan gue selama ini. Gue sadar gue salah, gak seharusnya gue benci sama
loe semua. Gue terlalu egois buat tahu masalah loe semua. Gue minta maaf guys.”
Ucap Riko
“Tenang aja sob, kita udah maafin
kok. Ya nggak guys.” Ucap Rio yang langsung di jawab ‘Yoi’ oleh teman-temannya
yang lain.
“Gue juga minta maaf yah sama loe
semua. Karena sebelumnya gue selalu ngremehin kalian dan selalu menyebut kalian
dengan loser. Sekarang gue sadar siapa yang loser di antara kita semua.” Ucap
Septian dengan nada bersalah.
“Di antara kita gak ada yang
loser kok. Kita semua tetep jadi the winner. Cuma, cara kita aja yang salah.
Mulai sekarang, kita mesti janji. Gak ada yang namanya musuh, gak ada yang
namanya loser dan gak ada yang namanya the winner. Kita semua tuh friendship.
FOREVER.” Ucap Gabriel yang langsung di angguki oleh teman-temannya yang lain.
“Yah. FRIENDSHIP FOREVER.” Teriak
mereka bersama sama kemudian mereka tertawa secara bersama sama penuh
persahabatan.
SKIP !!!
Langit
sore waktu itu cukup gelap tanda sebentar lagi akan turun hujan. Tetapi cuaca
yang sangat dingin itu tidak membuat 2 muda mudi ini beranjak dari pantai yang
sangat indah pada sore itu. Karena air lautnya yang selalu bisa membuat semua
orang yang melihatnya terpesona. 2 muda mudi itu duduk di pinggir pantai seraya
melihat pemandangan yang sangat indah itu.
“Gue seneng deh kak. Akhirnya loe
bisa baikan sama kak Riko.” Ucap cewek cantik yang pada sore itu memakai celana
jeans dan baju berlengan pendek bergambar hello kity.
“Gue juga seneng, loe gak dingin
???” Tanya pemuda tampan yang berada di sebelah gadis cantik itu.
“Aduh kak Mario Stevano. Loe kan
ketua OSIS. Masa gak bisa ngebedain cuaca dingin sama panas sih.”
“Yeee, gue kan Cuma basa-basi.
Malah di tanggepin kaya gitu sama loe.” Sungut pemuda tampan itu pura-pura
ngambek yang ternyata adalah ketua OSIS SMA Tunas bangsa. Rio.
“Hehehe. Bercanda kak. Gitu aja
marah. Gak asyik banget ish.” Jawab gadis itu sekenanya.
“Ya lagian loe gitu. dingin
nggak.” Tanya Rio lagi.
“Iyah dingin banget. emang kenapa
???” Tanya gadis itu seperti berharap sesuatu.
“Gak papa sih Cuma Tanya ajah.”
jawaban pemuda tampan itu membuat gadis cantik itu melotor kaget.
“Ihh, kirain mau minjemin jaket
loe gitu. gak asyik banget deh.” Gerutu gadis itu.
“Ngarep. Lagian loe tadi bikin
gue bad mood sih, jadi gue males minjemin jaket gue buat loe.” Ucap Rio dan
membuat Gadis cantik itu manyun. “Iya iya bercanda, gue gak akan tega ngebiarin
loe kedinginan gitu sementara gue malah keangetan. Nih.” Ucap Rio seraya
memakaikan jaketnya ke badan gadis cantik itu. Ashilla Zahrantiara.
“Makasih.”
“Sama-sama panda. Loe kalo
dilihat lihat mirip sama panda deh. Chubby tapi ngegemesin. Gue panggil panda
aja yah buat loe. panggilan khusus dari gue buat loe gitu.” Ujar Rio yang
langsung di sambut toyoran oleh Shilla. Sedangkan Shilla langsung manyun
mendengar celotehan seniornya.
“Apaan sih kak. Cantik cantik
gini di bilang mirip panda. Kakak tuh yang mirip beruang. Sama-sama ganas,
cepet marah dan suka makan. Hahaha.” Balas Shilla seraya tertawa terpingkal.
“Masa gue di samain sama beruang.
Jelas-jelas ganteng gini. Beruang kan jelek Shill. Tega banget loe sama gue.”
Ucap Rio seraya memanyunkan bibirnya.
“Hehehe J. Bercanda kak, makanya loe
jangan panggil gue panda dong. Gue gak suka sama panda, ngapain loe manggil gue
panda.”
“Iya iya. Oya Shill.”
“Kenapa kak ???” Tanya Shilla
seraya menatap Rio dengan tatapan lembutnya.
“Gak papa sih, gue Cuma mau
bilang, loe cantik banget hari ini.” Ujar Rio dan langsung membuat pipi Shilla
merona merah.
“Makasih. tapi kakak hari ini
jelek banget. hahahaha.” Bales Shilla seraya melarikan diri alias berlari
menjauhi sang senior sebelum di kejar dan di bales.
“Rese loe Shill. Tadi kan gue
muji loe. bukanya muji balik malah di judge kaya gituh. Awas yah.” Jawab Rio
kesal seraya mengejar Shilla.
“Coba aja kalo bisa ngejar. Wleee
:p.”
Dan
terjadilah kejar-kejaran oleh mereka. Mereka menikmati cuaca sore yang bagi
mereka sangat romantic. Dengan warna langit yang kegelapan dan suara burung
yang terbang dengan indahnya di atas mereka dan pemandangan alam yang sangat
indah di hadapan mereka.
Mereka
seperti sepasang kekasih sore itu. Jika ada orang yang tidak kenal mereka dan
melihat mereka seperti yang terjadi saat ini, pasti mereka akan langsung
ngejudge bahwa mereka memang benar-benar sepasang kekasih. Tapi ternyata bukan.
Mereka hanya sebatas teman, bahkan sahabat. Mungkin suatu saat nanti mereka
benar-benar menjadi seorang sepasang kekasih.
SKIP !!!
2
bulan kemudian. Rio dan Shilla sudah semakin akrab saja, bahkan menurut
teman-teman Rio maupun Shilla mereka berdua sudah jadian tetapi tidak
memberitahu ke semuanya. Mereka berdua selalu bersama. Dimana ada Shilla disitu
juga pasti ada Rio. Begitupun sebaliknya. Jadi, pantas saja kalau mereka
berpendapat seperti itu. Jika yang melihat mereka orang lain mungkin akan
mengira bahwa mereka berdua memang pacaran dan menjadi sepasang kekasih yang
saling menyayangi.
Bahkan
orang tua Rio sudah mengenal baik keluarga Shilla. Shilla sudah seperti anggota
keluarga Haling saja, begitupun sebaliknya. Shilla sudah memperkenalkan Rio
kepada orang tuannya, dan langsung mendapat respond an tanggapan positif
untuknya mengenai Rio. Begitupun dengan keluarga Shilla, mereka menganggap
kalau Rio sudah menjadi bagian dari keluarga Dharma.
Seperti
sekarang. Malam ini Keluarga Haling sedang berkunjung ke kediaman rumah Dharma
Wijaya. Yakni Ayah Shilla. Makan malam yang sangat special yang telah
disediakan oleh keluarga Dharma demi menyambut kedatangan keluarga Haling. Dan
keluarga Haling with pleasure menerima undangan special dinner yang dibuat oleh
keluarga Dharma Wijaya tersebut.
“Wah, sepertinya Shilla dan Rio
makin cocok saja yah.” Komentar Pak Dharma yang melihat Shilla dan Rio hanya
diam seraya melirik satu sama lain ituh.
Mendengar
ucapan ayahnya, Shilla langsung merasakan bahwa panas sedang menjalari
wajahnya, dan dia hanya menunduk seraya menyembunyikan wajahnya yang merah dan
berusaha supaya tidak dipergoki oleh Rio, ayahnya maupun anggota keluarganya
yang lain. Sedangkan Rio hanya salting mendengar ucapan pak Dharma. Dia hanya
menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“Ciyeeee, kak Rio sama kak Shilla
salting nih.” Goda adik Rio-Ray.
“Iya bener banget loe Ray. Hahaha
J. Mah pah, lihat tuh muka’nya
pada merah semua.” Tambah Deva-adik Shilla. Deva dan Ray satu sekolah. Bukan
hanya satu sekolah, tetapi juga satu kelas. Yakni di SMP CILENCIA RONALTA
(ngarang.com) kelas VIII A.
“Udah udah, kalian berdua ini,
kasihan tuh kakaknya. Yaudah Shilla, kamu ajak Rio ke taman aja sana. Barang
kali mau ngobrol berdua.” Saran mama Shilla.
“Mmm, Kak gimana ???” Tanya
Shilla. Sebetulnya sedari tadi, dia ingin sekali bisa meninggalkan tempat itu,
Cause, jika dirinnya masih berada di tempatnya berada sekarang, dirinya akan
selalu di godain oleh orang tuanya dan adiknya itu.
“Yaudah yuk, om tante. Rio
permisi dulu ke dalem yah.” Ucap Rio sopan.
“Silahkan Rio.” Kemudian Rio
berjalan mengikuti Shilla yang sedari tadi sudah berjalan terlebih dahulu di
depannya. Setelah berada di taman belakang rumah Shilla. Mereka langsung duduk
di bangku panjang yang ada di tengah taman tersebut.
“Akhirnya, bisa terbebas juga.”
Ucap Rio seraya menyenderkan tubuhnya di bangku tersebut.
“Bebas kenapa kak ???” Tanya
Shilla heran seraya memandang wajah Rio. Dan Rio langsung menengadahkan tubuhnya
menghadap Shilla dan menatap Shilla.
“Loe tau gak, gue pengin banget
cepet-cepet pergi dari meja makan tadi. Soalnya, dari tadi kita berdua mulu
yang di godain sama semuanya.”
“Sama. Gue juga juga pengin
cepet-cepet pergi dari situh.”
“Eh Shill, gue boleh jujur gak
??? (Shilla mengangguk). Mmm, loe cantik banget malem ini. Bener kata nyokap
gue, loe kelihatan lebih manis dari biasanya pake dress ini. (menunjuk dress
biru tosca yang sekarang sedang digunakan oleh Shilla). Dan loe kelihatan lebih
dewasa malam ini.” Terang Rio yang langsung membuat pipi Shilla merona merah.
Sedangkan Rio yang mengetahui itu semua hanya tersenyum dan mengacak-acak
rambut Shilla gemas.
“Kak Rio. Rusak tau. Huh.” Sungut
Shilla seraya membenarkan rambutnya dengan menyisirnya menggunakan tangannya.
“Loe tahu gak sih. Gue itu benerin rambut ini lama banget tahu gak. Demi acara
ini. Dan gue di suruh nyokap buat dandan kaya gini.”
“Demi acara ini apa demi gue
hayooo J.
Di suruh nyokap apa dari hati loe yang paling dalam hayoooo J.” Goda Rio yang lagi lai membuat
Shilla tersipu malu.
“Apaan sih. Demi acara ini lah
dan di suruh nyokap gue.”
“Masa ??? Bukan demi gue ???”
“Kak Rio apaan sih, udah deh gak
usah ngegodain gue lagi. Kalo loe masih ngegodain gue, gue bakalan ngambek sama
loe.” Ancam Shilla.
“Gitu aja marah. Dasar Cewek.
Ngambekkan.” Sungut Rio.
“Ihh, gue gak ngambekkan yah kak.
Kakak tuh yang nyebelin. Dari tadi ngegodain gue mulu.”
“Hehehe J. Udah ah, gak usah ngambek lagi.
Mending sekarang kita lihat bintang ajah, tuh lihat, bintangnya banyak banget
yah.” Ucap Rio seraya menunjuk bintang yang bertaburan di langit.
“Iyah kak. Indah banget. Banyak
lagi.”
“Tapi menurut gue, gak ada yang
lebih indah selain loe Shill. Loe itu yang terindah Shill. Dan bintang kalah
jauh sama keindahan loe.” Entah dapat dorongan darimana, Rio mendekatkan
wajahnya ke wajah Shilla. Sedangkan Shilla hanya kaget melihat gerakan
seniornya kepadanya tersebut. apa yang harus ia lakukan ??? belum sempat Rio
mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi ke wajah Shilla. Tiba-tiba.
“Ciyeeee.”
Reflek
Rio menjauhkan dirinnya dari tubuh Shilla. Dan dirinnya langsung salting dengan
menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. Tetapi di dalam hatinya,
dirinnya mengumpat kesal melihat 2 makhluk yang membuat dirinnya gagal membuat
suasana yang romantic untuk Shilla.
Sedangkan
Shilla hanya diam seraya menetralisir jantungnya yang sedari tadi sedang
bekerja lebih ekstra dari biasanya. Dengan tampang polos, 2 makhluk yang telah
berhasil menggagalkan kegiatan romantis 2 remaja ini melangkah menghampiri
Shilla dan Rio.
“Maaf yah, bukannya mengganggu.
Dan bukan juga pengin menggagalkan acara kakak tadi. Tapi kita kesini Cuma mau
…………”
“Apa loe bilang ??? Gak
mengganggu ??? Gak pengin menggagalkan
acara tadi ??? Buat gue, loe berdua adalah pengganggu tau gak.” Ucap Rio kesal.
Sedangkan Shilla hanya tersenyum mendengarkan suara ketus seorang pemuda di
sampingnya.
“Sorry kak. Don’t worry kak.
Besok besok kan bisa lagi. Hehehe J. Selow mamen. Peace. Damai.” Ucap Deva. Sedangkan
Ray hanya mengangkat jari telunjuknya dan jari tengahnya membentuk huruf ‘V’.
“Iyah kak, peace. Kita kesini itu
disuruh mama sama papa kak. Katanya papa sama mama mau pulang sekarang, jadi
mendingan acara loe tadi di tunda dulu deh.”
“Hhh, yaudah loe berdua ke dalem
dulu sana. Ntar gue nyusul bareng Shilla. Udah sana.” Usir Rio karena dirinnya
masih kesal dengan 2 anak ajaib di hadapannya. Setelah menunjukkan cengirannya.
2 makhluk yang tak di undang itu langsung masuk ke dalam rumah.
“Dasar tuyul blangsak, sorry yah
Shill. Gue tadi gak bermaksud buat …..”
“Iyah kak, gue tahu kok. Yaudah
masuk yuk.” Potong Shilla cepat.
“Jadi loe gak marah sama gue ???
(Shilla menggeleng seraya tersenyum manis). Yaudah masuk yuk. Nyokap bokap udah
nungguin tuh.” Ucap Rio seraya menggandeng tangan Shilla memasuki rumah Shilla.
SKIP !!!
Keesokan
harinya. Hari ini para guru sedang sibuk untuk mempersiapkan bahan ujian untuk
kelas XI. Maka dari itu, kelas X, XI dan XII di pulangkan lebih awal karena ada
acara mendadak seperti itu. Para siswa siswi SMA Tunas Bangsa segera mungkin
keluar dari gerbang sekolah. Ada yang lebih menghabiskan waktunya di café yang
tepat berada di depan sekolah tercinta mereka, ada yang memilih untuk pulang ke
rumah dan melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda, ada juga yang menghabiskan
waktunya untuk berduaan di tempat yang romantis.
Berbeda
dengan keenam siswa siswi ini. Mereka lebih memilih untuk berdiam diri di
kantin sekolah daripada keluar dari sekolah tercinta mereka. Mereka sedang
menjalankan aksi persahabatan di kantin sekolah mereka sendiri. 2 pasangan
kekasih lebih memilih untuk bergombal-gombalan dan memasang aksi paling
romantis-romantisan dan saling memuji satu sama lain.
Berbeda
dengan pemuda dan gadis yang duduk paling pojok di meja favoritnya itu. Mereka
berdua hanya memasang tampang kesal dan marah melihat sahabat-sahabatnya yang
sedang dilanda cinta buta. Mereka berdua hanya menggerutu kesal karena sedari
tadi sahabatnya tidak ada yang menyadari jika Cuma dirinnya yang belum
mempunyai pasangan.
“Kacang Woy. Kacang kacang
kacang.” Teriak Rio karena kesal.
“Berisik banget sih loe. loe mau
minta kacang ??? Pesen aja noh di ibu kantin kalo ada.” Ucap Cakka seenaknya
dan kembali melanjutkan aksi gombal-gombalannya bersama Agni.
“Rese loe. loe semua kalau mau
pacaran jangan disini napa. Di kuburan sono yang sepi.” Ucap Rio lagi.
“Makanya Yo, tembak Shilla dong.
Daripada loe ngiri terus sama kita. Betul gak guys ???” Respon Gabriel seraya
meminta pendapat sahabat-sahabatnya.
“Setuju banget sob. Tembak aja
sekarang. Kita semua jadi saksi deh.” Ucap Alvin yang langsung mendapat toyoran
dari Rio.
“Sembarangan aja loe ngomong.
Pikir dulu kalau mau ngomong.” Ucap Rio. “Sakit Yo.”
“Alah loe berdua sok-sok’an
banget jadi orang. Sama-sama suka aja ribet banget. lagian loe berdua kan udah
dapet restu dari orang tua loe berdua. malah mereka pengin loe berdua pacaran
kan. Kalau salah satu kalian ada yang udah jadian sama yang lain aja baru
nyadar nanti.” Terang Gabriel.
“Udah ah, loe semua makin gila
aja ngomongnya. Gue ke ruang osis dulu yah. Mau ngambil berkas dulu.” Ucap Rio
langsung ngacir menuju ke ruang Osis.
“Ckckck, udah Shill. Loe tenang
ajah, sebenernya Rio itu cinta banget sama loe kok. Jadi loe tenang ajah. suatu
saat nanti loe juga bakalan di tembak sama Rio.” Ucap Cakka.
“Apaan sih kak. Ngarang banget
ngomongnya.”
“Shill, gue punya ide nih. Biar
Rio cepet cepet nyatain perasaannya sama loe.” Ucap Alvin tiba-tiba.
“Apaan kak emangnya ???” Tanya
Sivia penasaran.
“jangan yang aneh-aneh kak. Ntar
menimbulkan dampak yang tidak baik tau.” Tambah Agni
“Ya nggak lah. tenang ajah,
rencana gue pasti berhasil.” Ucap Alvin pasti.
“Semoga aja deh.” Respon Ify
diikuti oleh yang anggukan dari yang lainnya.
Di
dalam hati Shilla. Dia juga meng’Amin’ni ucapan kakak seniornya itu.
Sesungguhnya dia ingin sekali Rio mengutarakan isi hatinya kepadanya. Tetapi
semakin hubungan mereka semakin dekat, Rio malah tidak pernah mengutarakan kata
kata romantis untuknya, apalagi mengucapkan jika dirinnya mencintai Shilla.
Semoga saja, ide kakak seniornya itu berhasil dan pangeran es itu akan cepat
mengutarakan isi hatinya kepada dirinnya.
Beberapa
jam kemudian. Keenam siswa siswi ini berencana untuk menghabiskan waktu mereka
di mall. Mereka sudah merencanakan jika mereka akan pergi ke Lovers Mall.
Setelah mereka berkumpul di tempat parkiran motor, mereka segera bergegas ke
motor masing-masing, tentu saja para gadis membonceng di belakangnya.
“Yo, Shilla sama loe yah. Gak
mungkin juga gue yang sama dia, yang ada ntar malah loe mukulin gue lagi.”
Canda Gabriel yang membuat Ify menoyor kepala Gabriel.
“Sembarangan aja kalau ngomong.
Aku mau di kemanain ???” Ucap Ify pura-pura marah.
“Sorry beib, tadi kan aku Cuma
bercanda. Udah naik.” Suruh Gabriel yang membuat Ify membonceng di belakangnya
dan masih memasang ekspresi kesal kepada pangeran hatinya tersebut.
\ Sedangkan
2 pasangan di belakangnya hanya berdiam diri dan sibuk dengan urusannya
sendiri. Dan mereka sudah stand bye di motornya., tinggal menunggu 4 orang di
hadapannya menyelesaikan debatnya. Sedangkan 4 orang di hadapannya hanya
memperlihatkan gigi putihnya menyadari jika mereka sedang diperhatikan oleh
sahabatnya dengan muka garang.
“Mau sampai kapan loe semua
berantem ??? kalo gini caranya kita gak berangkat-berangkat nih.” Ucap Cakka
yang sebal dengan perlakuan sahabatnya.
“Tau nih. Lama banget sih kak.
Buruan napa.” Tambah Agni.
“Iyah kak. Udah siang nih.
Buruan. Shilla sama kak Rio deh. Gak ada lagi soalnya.” Ucap Sivia yang membuat
Alvin menganggukan kepalannya tanda ia setuju dengan kekasihnya.
“Iya iya, sorry guys. Yaudah
Shill. Naik sekarang.” Suruh Rio dan Shilla langsung membonceng di belakangnya.
“Udah siap guys. Let’s Go.”
SKIP !!!
Setelah
sampai di Lovers Café, mereka langsung memarkirkan motornya dan langsung masuk
ke dalam mall. Tujuan pertama mereka adalah ke time zone. Mereka langsung
bergegas ke tempat time zone dan langsung membeli tiket supaya mereka bisa
bermain sepuasnya di tempat itu. Rio, Gabriel, Alvin dan Cakka langsung menuju
ke permainan basket. mereka langsung bermain di sana sepuasnya.
Sedangkan
para gadis langsung menuju ke tempat dance yang ada di tempat time zone. Mereka
langsung menunjukkan bakat dance di tempat itu. Setelah merasa puas mereka
semua langsung bergegas ke tempat karaoke. Mereka langsung bernyanyi
gila-gilaan di tempat karaoke. Permainan mereka di selingi canda dan tawa
membuat hari ini terasa menyenangkan untuk mereka.Setelah merasa lelah, mereka
langsung beristirahat di bangku panjang yang letaknya di depan tempat karaoke.
“Huft, capek banget gue. Tapi gue
seneng banget hari ini.” Ucap Alvin.
“Setuju banget sob. Terus habis
ini kita kemana nih.” Tanya Gabriel yang membuat yang lain berfikir.
“Habis ini kita belanja aja
gimana. Shopping kak.” Usul Ify yang membuat para gadis yang lain mengangguk
setuju sedangkan para pemuda tampan itu hanya memasang tampang cengo mendengar
ucapan para gadis itu.
“Kenapa sih. Mukanya pada aneh
gitu. ada yang salah emang ???” Tanya Shilla.
“Salah lah. Shopping kan emang
hoby kalian. Sedangkan kita ??? masa di suruh shopping juga sih.” Jawab Rio
yang langsung di sambut anggukan dari yang lain.
“Siapa yang suruh kalian ikut
Shopping. Kita nggak nyuruh.” Ucap Sivia dan langsung membuat para pemuda
tampan itu bernafas lega.
“Syukur deh kalau gitu.”
“Kalian itu nggak ikut
shopping’nya, tapi kalian bantuin kita bawain barang-barangnya nanti.” Ucap
Agni yang membuat keempat pria tampan itu kaget.
“APA !!!”
“Nggak nggak nggak, gue nggak
mau, enak ajah, emangnya kita babu apa di suruh bawain barang-barang loe semua.”
Ucap Alvin mewakili yang lain.
“Ought. Jadi kalian gak mau. Ok.
Tapi jangan harap kita mau baikan sama kalian.” Ancam Ify.
“jangan dong beib, iya deh aku
mau bawain barang-barang kamu.” Ucap Gabriel yang langsung membuat Ify
tersenyum lebar.
“Gitu dong. Kalian gimana ???
Masih mau gak mau bawain barang-barang kita ???” Tanya Ify lagi.
“Iyadeh.” Jawab mereka pasrah.
“Yaudah, Ayo kita Shopping.” Ucap
para gadis dan langsung menggandeng tangan para pemuda tampan itu supaya mau
mengikuti dirinnya menuju ke tempat shopping.
SKIP !!!
“Huft, capek banget gue.
Belanjaan kalian banyak banget sih.” Gerutu Alvin setelah mereka duduk di
sebuah café Friendship yang ada di mall tersebut.
“Tahu nih. Pegel banget kaki
gue.” Tambah Rio.
“Kalau gak ikhlash kenapa baru bilang
??? Kenapa gak dari tadi aja coba.” Ucap Sivia.
“Bener banget tuh kata Sivia. Itu
salah kalian sendiri yang mau nurutin kemauan kita-kita.” Tambah Shilla seraya
menyeruput es jeruknya.
“Cause, if we refuse ask you, we
will get a problem.” Ucap Cakka sok inggris.
“Apa banget deh loe Cak, loe tuh
……….”
“Shilla.”
Ucapan
Gabriel terpotong karena mendengar suara seseorang yang berteriak memanggil
nama sahabatnya. Secara gerakan spontan keenam para remaja itu mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru café. Dan pandangannya terhenti pada sesosok
pemuda tampan yang mengenakan kemeja biru muda dan celana jeans’nya yang sedang
berdiri di tempat yang tidak jauh dari meja yang sekarang mereka duduki.
Kemudian,
secara tiba-tiba Alvin menyenggol lengan Shilla dan mengedip ngedipkan matanya
seperti memberi isyarat untuk gadis satu itu. Pastinya tanpa sepengetahuan yang
lainnya. Dan sepertinya gadis itu sudah paham dengan apa yang di maksud oleh
kakak seniornya itu. Dengan gerakan cepat Shilla melambai lambaikan tangannya
kepada pemuda tampan yang tadi memanggil nama dirinnya.
Dan
pemuda tampan itupun langsung menghampiri meja Shilla. Sedangkan Rio hanya
menyatukan alisnya tanda ia bingung terhadap pemuda di hadapannya. Setelah
berada tepat di hadapan Shilla, pemuda itupun langsung tersenyum kepada Shilla
dan tersenyum kepada yang lainnya. ‘Siapa sih nie cowok, SKSD banget sama
Shilla.’ Pikir Rio. Sesungguhnya Rio takut jika pemuda di hadapannya mempunyai
hubungan special dengan gadis yang ia sukai itu. Apalagi jika gadis yang ia
sukai malah suka terhadap pemuda tampan di hadapannya. ‘Masih kerenan gue,
masih gantengan gue. Jadi mana mungkin Shilla suka sama nie cowok.” Pikir Rio
narsis.
“Hay semuanya. Sorry yah
mengganggu.” Ucap pemuda tampan itu sopan.
“Gak kok kak. Duduk kak. Kakak
kok bisa ada disini sih ???” Tanya Shilla seraya mempersilahkan duduk.
“Iyah nie Shill. Lagi nyari bola
basket baru. Terus karena capek mampir ke sini deh. Tahunya ketemu sama kamu.
Lagi pada ngumpul yah.”
“Iyah kak. Lagi pada kumpul. Tadi
habis seru seruan bareng di time zone.”
“Ought. Gak papa dong, kalo kakak
gabung disini ???”
“Ehem ehem.” Dehem yang lainnya
menghentikan percakapan seru 2 orang itu.
“Eh sorry semuanya. Kenalin. Ini
namanya Debo. Dia itu dulu kakak kelas gue waktu SMP.”
“Hay semuannya. Kenalin, nama gue
Debo Andryos. Gue sekarang sekolah di SMA Mahakarya. Salam kenal yah semuanya.”
Ucap Debo seraya menjulurkan tangannya kepada Gabriel yang pertama kali
kemudian di lanjutkan ke Ify, Alvin, Sivia, Cakka, Agni. Pada saat dirinnya
menjulurkan tangannya kearah Rio. Rio malah menatapnya dengan sinis. Membuat
Debo menarik kembali tangannya.
“Gue Debo, loe siapa ???” Tanya
Debo ramah.
“Gue Rio.” Jawab Rio singkat
tanpa mengalihkan pandangannya kearah Debo.
“Hmmm, loe ketua Osis SMA Tunas
Bangsa kan ???”
“Udah tahu ngapain nanya. Guys,
gue ke toilet bentar yah.” Ucap Rio seraya pergi meninggalkan yang lainnya yang
masih memasang ekspresi cengo melihat keanehan sahabatnya.
“Hahaha. Cemburu gila tuh anak.
Bisa aja loe Deb. Loe berhasil bikin dia cemburu. Tuh Shill, loe lihat sendiri
kan kalo si Rio itu gak suka banget sama Debo. Dan gue tau banget. dia pasti
benci banget sama loe Deb. Hahaha.” Komentar Alvin pada saat Rio meninggalkan
mejanya dengan alasan ingin ke toilet.
“Gue yang ngerasa gak enak nih
sama dia. ntar dia beneran musuhin gue lagi. Loe sih Vin, punya ide gila kaya
gini. Mana gue lagi yang jadi korbanya.” Sungut Debo.
“Tenang aja Sob, gue yakin banget
kok. Dia itu benci sama loe karena Shilla doang. Setelah dia tahu semuanya,
ntar juga ramah sama loe. sekali kali lah bantuin adik kelas loe yang merana
itu. Dia itu pengin banget di tembak sama Rio.” Ucap Cakka yang langsung
mendapat toyoran di kepalannya oleh Shilla.
“Apaan banget sih kak. Siapa juga
yang mau di tembak sama dia.” Ngeles Shilla.
“Masa ??? Gak mau beneran nih
???” Goda Agni.
“Apaan sih loe semua. Udah diem.
Ntar kalo ada kak Rio bisa repot tau. Kak Debo, maaf yah. Kita libatin kakak.”
Ucap Shilla.
“Iyah Shill, tenang ajah. gue
rela kok bantuin loe. dulu, loe juga pernah bantuin gue kan.”
“Iyah kak. Makasih.”
Ternyata,
ide Alvin sewaktu mereka masih berada di kantin Sekolah mereka adalah membuat
Rio cemburu kepada pria yang dekat dengan Shilla. Yaitu dengan meminta tolong
kepada Debo. Teman satu angkatan Alvin sewaktu Alvin masih berada di club
basket Praja Muda dan teman satu komplek Cakka dan Gabriel sewaktu Debo masih
tinggal di komplek perumahan Cakka dan Gabriel. Dan juga Debo adalah kakak
kelas Shilla waktu mereka masih berada di SMP Cilencia
Dan
dengan kedatangan Debo. Mereka ingin membuktikan apakah Rio itu benar-benar
mencintai Shilla atau tidak. Mereka akan membuktikan itu semua melalui
kedekatan Shilla dan Debo yang akan di mulai besok pagi. Dan mereka ingin Rio
mempercayai ucapannya bahwa Debo itu suka terhadap Shilla. Dan Debo akan
berusaha supaya Debo bisa mendapatkan Shilla.
SKIP !!!
Malam
Harinya. Di sebuah kamar yang cukup luas, terdapat seorang pemuda tampan yang
sedang memegang sebuah buku di meja belajarnya. Tetapi sedari tadi, dirinnya
hanya mendesah pelan dan hanya menggerutu kesal setelah kejadian di café sore
tadi. Pikirannya tertuju pada pemuda yang mengenal Shilla dengan baik. Dan
sepertinya Shilla juga menyukai kedatangan pemuda itu.
“Haduhhh, bisa gila gue. Tuh
cowok siapa sih. Mana deket banget sama Shilla lagi. Jangan-jangan dia mantan
Shilla lagi. Tapi gak mungkin ah. Shilla kan bilangnya kalau dia itu Cuma kakak
kelasnya waktu SMP. Tapi kalau emang mereka punya hubungan gimana. Gak. Gak
mungkin Shilla suka sama tuh cowok. Shilla kan sukanya sama gue, iya gue yakin
banget kalau Shilla itu suka sama gue, sebelum ada tuh cowok juga Shilla
kelihatan seneng banget ada di dekat gue. Iyah, gue yakin banget.” Ucap Rio PD.
“Tapi kalau misalkan Shilla juga
suka sama tuh cowok gimana yah. Gue gimana ??? gak. Gue gak akan ngijinin
Shilla jadian sama tuh cowok. Gue harus bisa bikin Shilla jauh dari tuh cowok,
dan gue harus bikin Shilla suka sama gue lagi dan deket sama gue lagi. Gue gak
rela kalau dia itu jadian sama tuh cowok. Lagian tuh cowok siapa sih.
Berani-beraninya dateng tanpa di undang. Mana di saat seperti ini lagi.” Sungut
Rio lagi.
Pemuda
tampan itu terus menerus memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya sore
tadi. Pikirannya berkecamuk. Antara sedih, takut dan merasa tersaingi. Dirinnya
sangat takut jika gadis yang di sukainya itu malah menyukai pemuda itu, dan
dirinnya merasa tersaingi karena kehadiran pemuda itu.
Dengan
gerakan cepat, dirinnya langsung beranjak dari tempat belajarnya itu dan
langsung mengambil handphone’nya dan langsung mencari nama gadis yang di
sukainya itu di dalam kontak handphone’nya. Dengan gerakan cepat dirinnya
langsung menekan tombol berwarna hijau di handphone’nya.
Dilain
tempat. Seorang gadis sedang membaca buku kimiannya seraya mengerjakan soal
yang diberikan oleh sang guru killer yang mengajar kelasnya. Beberapa saat
kemudian, terdengar suara marcell yang menyanyikan lagu takkan terganti di
handphone’nya tanda ada panggilan yang masuk.
‘RIO
MY PRINCE’ Calling ………..
“Kak Rio ??? Tumben banget
telepon gue. Ada apaan yah.” Gumam Shilla dan langsung menekan tombol hijau di
handphone’nya.
“Halo kak Rio.” Sapanya kepada
orang yang menelopon dirinya.
“Halo Shill. Mmm, loe lagi
ngapain.” Tanya seorang pemuda tampan itu sedikit terdengar gugup saat
berbicara dengannya di handphone’nya itu.
“Lagi belajar Kimia kak. Kenapa
??? Ada hal penting kak ???” Tanya Shilla heran.
“Mmm, gue, gue Cuma mau nanya sih
sebenernya, boleh nggak ???”
“Boleh kak. Tanya apa. Tumben
minta persetujuan dulu, biasanya langsung nyerocos ajah.”
“Mmm, gituh yah. Hehehe J. Gue Cuma mau nanya. Cowok tadi
itu cowo loe bukan sih.”
‘ought, nanyain kak Debo toh.
Berarti rencananya kak Alvin berhasil dong, kak Rio ngira dia itu cowok gue,
tapi gue mesti jawab apa yah. Masa iya bilang kalo kak Debo cowok gue. Gimana
yah. Adduhh bingung sendiri jawabnya gimana.’ Pikir Shilla seraya mondar mandir
di kamar tidurnya.
“Shill, kok malah bengong sih. Di
jawab dong pertanyaan gue.” Ucap Rio setelah mengetahui bahwa gadis yang kini
sedang berbicara dengannya tiba-tiba diam seketika.
“Eh, iya kak. Hmm, kak Debo bukan
cowok gue kok. Cuma, dulu gue sempet suka gitu sama dia. gatau sekarang masih
suka apa nggak. Tapi setelah lihat kak Debo tadi. Tiba-tiba aja gue ngerasa
suka lagi sama dia. mungkin karena udah lama nggak ketemu kali yah, jadi kangen
mungkin.” Terang Shilla yang membuat Rio panas.
“Ought gitu yah. Yaudah deh, Hmm,
besok mau berangkat bareng gue nggak.” Tawar Rio yang berusaha mengalihkan
pembicaraan supaya lawan bicaranya tidak membahas cowok yang baru saja hadir
tanpa di undang di antara mereka berdua.
“Maaf kak. Tapi, kak debo udah
nawarin duluan tadi.”
“Ought gitu yah. Tapi sekolah
kita sama sekolah dia kan gak searah Shill. Masa loe mau ngerepotin dia sih,
mending loe berangkat bareng gue ajah Shill. Kan searah.” Ucapan Rio ini
membuat Shilla mau tak mau tertawa ringan di kamarnya. Entah mengapa perasaan
senang menyelimuti dirinya saat mendengar ucapan pangeran hatinya itu.
Tandanya, pemuda tampan itu masih care dengannya.
“Hmmm, kak Debo nggak keberatan
kok kak. Gue juga gak bisa menolak tawaran kak Debo juga kak. Ini kesempatan
langka soalnya. Udah lama juga gue gak berduaan sama dia sejak dia lulus SMP
dulu. Gue kan kangen moment penting seperti ini.” Ucap Shilla dengan nada di
buat-buat supaya lawan jenisnya bisa percaya dengan apa yang diucapkan
dirinnya.
“Ought gituh. Yaudah deh, udah
dulu yah. Gue mau belajar lagi soalnya. Bye Shill. Met malem.” Ucap Rio
mengakhiri pembicaraannya, dan langsung memutuskan hubungan telepon mereka
tanpa memberikan kesempatan kepada Shilla untuk membalas ucapannya.
“Aneh banget kak Rio. Apa bener
yah dia cemburu. Gatau deh. Tapi gue berharap sih bener. Gue pengin banget
bikin dia cemburu. Tapi kalo nyatanya kak Rio gak ngelakuan apa-apa supaya gue
jauh dari kak Debi gimana yah. Itu kan tandanya dia gak mencintai gue.” Ucap
Shilla setelah merebahkan tubuhnya di kasur kesayanganya itu.
Sedangkan
pemuda tampan di tempat lain hanya menggerutu kesal mendengar ucapan gadis
cantik di seberang sana. Mengapa dia lebih memilih berangkat bareng dengan
pemuda yang baru saja hadir tanpa di undang itu daripada menerima ajakannya
itu. Pemuda ini benar-benar kesal dengan gadis itu. Tetapi dia lebih kesal
dengan pemuda yang baru saja hadir yang
telah membuat gadis cantik itu lebih memilihnya dari pada dengan pemuda tampan
ini.
SKIP !!!
Keesokan
harinya. Terlihat siswa siswi yang sedang berkumpul di depan madding sekolah
mereka. Mereka hanya tidak ingin melewatkan berita baru yang mungkin saja baru
di post oleh anak madding. Dan mereka seketika itu mengalihkan pandangannya
pada pemuda tampan dan seorang gadis yang baru saja memasuki halaman
sekolahnya. Sepertinya sang pemuda tampan itu bukan salah satu siswa SMA Tunas
Bangsa. Terlihat dari seragam yang dipakai oleh dirinya. Terlihat mencolok
sekali dengan seragam siswa siswi SMA Tunas Bangsa.
Setelah
seorang gadis yang berada di boncengannya turun dari motornya. Pemuda tampan
itu langsung membuka helm fullface’nya yang langsung menyebabkan semua siswi
yang berada di area itu langsung berteriak histeris. Pangeran tampan yang
tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan menggunakan motor ninja berwarna
putih dan menggunakan helm fullface’nya itu membuat seluruh kaum hawa yang
melihatnya menjadi tersepona dengannya.
Sedangkan
gadis yang baru saja turun dari motor pemuda tampan itu hanya menunduk takut
melihat sikap para teman-temannya dan seniornya yang berteriak histeris melihat
pemuda yang tadi mengantarnya. Dengan gerakan cepat, gadis ini menyuruh pemuda
tampan itu untuk bergegas meninggalkan sekolahnya dan menyuruhnya untuk pergi
menuju ke sekolahnya.
“Kak, mending kakak berangkat
sekarang deh. Keburu mereka semua bikin sekolah ini jadi pasar dadakan. Gue
juga gak mau disangka jadi provokator disini.” Ucap sang gadis yang membuat
pemuda tampan itu mengangguk mengerti.
“Yaudah deh, kakak berangkat
duluan yah. Ntar pulang sekolah kakak jemput lagi. Ok.” Ucap Pemuda tampan itu
seraya meninggalkan SMA Tunas Bangsa dan langsung terdengat desahan kecewa dari
para kaum hawa yang melihat pangeran tampan itu pergi tanpa bisa berkenalan
dengannya secara langsung.
“Yahhh. Kok pergi sih. Gue kan
belum kenalan sama dia. udah pergi ajah anaknya.” Komentar salah satu kaum hawa
yang melihat kejadian tadi.
“Iyah bener banget, mana dia
cakep banget lagi. Keren banget pula. Beruntung banget sih si Shilla bisa di
boncengan gitu sama dia. gue juga pengin.” Tambah kaum hawa yang lain.
Mendengar
komentar para seniornya itu, Shilla langsung bergegas masuk ke dalam sekolahnya
secara terburu buru, karena dirinnya tidak ingin menjadi santapan pertanyaan
mereka mengenai pemuda yang baru saja mengantarnya itu. Tepat di depan ruang
osis, dirinnya berhenti dan melangkah menuju ke tempat sahabatnya yang berdiri
tidak jauh dari ruang osis tersebut. sahabat-sahabatnya sedang duduk di bangku
panjang yang letaknya tidak jauh dari ruang osis.
“Ciyeeee, yang habis di anterin
sama prince.” Goda Ify yang membuat Shilla salting.
“Apa banget deh Fy, dia bukan
prince gue kok. Kalian tadi lihat ???” Tanya Shilla seraya melirik pemuda
tampan yang sibuk dengan handphone’nya tanpa melirik ke arahnya sedikitpun.
“Lihat dong. Mesra banget lagi
pas boncengan tadi. Berasa kaya cerita Cinderella yang lagi di anterin sama
pangerannya tahu nggak.” Jawab Agni dengan antusias.
“Iyah Shill mesra banget. loe
udah akrab ajah sama si Debo. Jangan-jangan udah jadian lagi.” Ucap Alvin yang
membuat yang lain tertawa secara bersamaan.
“Iyah bener banget tuh. Kalo
jadian bilang bilang dong Shill.” Ucap Gabriel seraya melirik sahabatnya yang
berada di sebelahnya yang masih sibuk dengan ponselnya.
“Apaan deh kak. Gue belum jadian
kok sama kak Debo. Ngarang banget.”
“Belum Shill. Berarti nanti
bakalan jadian. Ciyeeee.” Goda cakka lagi yang membuat sahabatnya yang sedari
tadi sibuk dengan ponselnya langsung berdiri.
“Sorry guys. Gue mesti ketemu
sama Pak Danil buat bicarain rapat osis nanti. Gue duluan yah. Bye semuanya.”
Ucap Rio langsung ngacir tanpa memberi kesempatan kepada semuanya untuk
menjawab pertanyaanya itu.
“Ciyaaaa. Cemburu tuh anak.
Hahaha.”
“Kasihan tahu kak. Ntar kalau kak
Rio beneran marah sama gue gimana ???” Ucap Shilla khawatir.
“Udah loe tenang ajah. gue jamin
kalau Rio Cuma cemburu, dan dia gak mungkin benci sama loe.” Ucap Alvin yang
membuat lainnya mengangguk setuju
Sedangkan
di tempat lain. Seorang pemuda asyik berjalan melewati beberapa siswa siswi SMA
Tunas Bangsa yang sedang asyik bergosip ria membicarakan pemuda tampan yang tadi
mengenakan seragam yang berbeda dengan mereka dan yang tadi mengantar murid
baru yang baru saja singgah di SMA Tunas Bangsa beberapa bulan ini.
‘Apa banget dah tuh cewe,
ngebicarain orang seenak jidat, mana bilang kalau tuh cowok pacaran lagi sama
Shilla. Mereka itu gak pacaran, mereka Cuma temenan, layaknya junior ke senior.
Dasar cewek tukang gossip, gitu aja di bicarain.’ Batin seorang pemuda seraya
berjalan melewati mereka dengan sikap acuh tak acuh.
Pemuda
tampan itu pun kembali melanjutkan perjalannya dan menghiraukan komentar
komentar para gadis yang sedang membicarakan pemuda yang tadi mengantar gadisnya
itu. Kemudian dirinya langsung masuk ke dalam ruang guru dan langsung mencari
Pak Danil selaku sebagai Pembina Osis SMA Tunas Bangsa.
“Permisi pak.” Sapa Rio sopan
setelah menemukan meja Pak Danil.
“Iya Rio. Bapak sudah menunggu
kamu sedari tadi. Kamu umumkan aja dulu sama seluruh anggota osis supaya
berkumpul di ruang serba guna sekarang. Surat dispensasi sudah bapak sebar ke
kelas kalian masing-masing, sekarang kamu tinggal mengumumkan supaya anggota
osis berkumpul di ruang serba guna sekarang.” Terang pak Danil.
“Iya pak, permisi pak.” Ucap Rio
sopan seraya berjalan menuju ke tempat bar untuk mengumumkan apa yang di
sampaikan pak Danil tadi.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
‘Mohon
maaf kepada bapak dan ibu guru yang sedang mengajar. Kepada seluruh anggota
osis SMA Tunas Bangsa untuk segera berkumpul di ruang Serbaguna sekarang karena
ada hal penting yang ingin kami bicarakan. Sekali lagi diberitahukan kepada
seluruh anggota Osis SMA Tunas Bangsa untuk segera berkumpul di ruang serbaguna
sekarang. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.’
Terdengar
suara ketua osis SMA Tunas Bangsa yang berasal dari speaker sekolah yang
memberitahukan bahwa anggota osis diwajibkan untuk berkumpul di ruang osis
sekarang juga. Otomatis, seluruh anggota osis langsung beranjak dari kelasnya
masing-masing setelah sebelumnya meminta izin kepada guru yang sedang mengajar.
“Tumben banget si Rio gak bilang
kita dulu kalau mau kumpul jam ini.” Komentar Alvin setelah dirinnya dan kedua
sahabatnya keluar dari ruang kelasnya.
“Tahu, mana dadakan banget lagi.
Bukannya berita yang kita terima itu rapat osis’nya pulang sekolah ??? Kok jam
segini udah di suruh kumpul sih.” Tambah Cakka yang juga heran.
“Udah lah, Cuma Rio yang bisa
jawab semuanya. Buruan, udah di tungguin tuh.” Ucap Gabriel seraya menarik
tangan kedua sahabatnya menuju ke ruang serbaguna.
Di
ruang serbaguna sudah berkumpul seluruh anggota osis SMA Tunas Bangsa. Mereka
tinggal menunggu ketua osis SMA Tunas bangsa dan Pembina Osis’nya yang belum
datang. Beberapa saat kemudian, terlihat Pak Danil dan seorang pemuda tampan
yang memasuki ruang serbaguna dengan membawa laptop dan beberapa berkas
lainnya.
“Sorry guys. Kita rapat disini
karena tidak memungkinkan kita rapat di ruang osis. Karena ada hal penting yang
akan disampaikan oleh pak Danil.” Ucap Rio seraya menyalakan laptopnya.
“Oke semuanya. Bapak akan
menyampaikan sesuatu yang sangat penting menurut bapak. Mengingat acara ulang
tahun SMA Tunas Bangsa yang sebentar lagi akan terjadi, maka kita harus
menyiapkan acara untuk merayakan ulang tahun sekolah kita. Apa ada yang punya
ide bagus untuk acara apa yang akan dilaksanakan untuk merayakan ulang tahun
sekolah tersebut, silahkan berdiri dan menyampaikan pendapat kalian
masing-masing.” Terang Pak Danil yang membuat anggota osis lainnya mengangguk
mengerti dan langsung berfikir.
“Mmm, acara yang paling bagus
untuk acara sekolah sih menurut saya itu membuat suatu konser dan mendatangkan
band-band sekolah tetangga pak. Itu lebih baik menurut saya. Jadi, acaranya
akan semeriah mungkin. Kita juga bisa bikin acara romantis pas di konser
tersebut pak. Misalya pesta topeng.” Ucap Gabriel menerangkan mengingat
dirinnya sebagai wakil ketua osis.
“Pesta topeng menurut saya itu
sangat formal sekali. Kita bikin acara yang gak terlalu formal ajah. misalnya
kaya pesta-pesta biasanya. Jadi, konser yang di buat itu juga gak terlalu
formal. Acarannya menurut saya paling bagus itu di bikin santai pak.” Tambah Lintar
mengutarakan pendapatnya selaku sebagai sekretaris osis pria.
“Di bikin santai tapi meriah.
Gimana kalau kita bikin acara promnight ajah. selain acaranya juga meriah, tapi
santai juga kan. Dan gak terlalu formal juga. Di acara promnight nanti kita
bisa selingin acaranya sama ngadain konser kecil-kecilan buat ngerayain ulang
tahun sekolah kita. Jadi bukan Cuma band tetangga aja yang tampil, tapi dari
kita sendiri juga bisa ngasih prom’nya.” Usul Rio yang langsung disambut dengan
anggukan oleh anggota osis yang lainnya.
“Ide bagus. Ide yang kalian
sampaikan tadi memang sangat cemerlang.
Sepertinya itu acara paling bagus buat ngerayain ulang tahun sekolah
kita. Dan buat yang lain yang masih mau memberikan pendapatnya silahkan saja.”
Ucap Pak Danil.
“Pak, gimana kalau acara prom
night’nya harus berpasangan pak. Semuanya harus punya pasangan masing-masing
jika ingin menghadiri acara promnight tersebut pak. Karena gak memungkinkan
semuanya dapat pasangan, gimana kalau semuanya boleh mengajak siswa lain dari
luar sekolah kita pak. Jadi, yang merayakan acara ulang tahun bukan Cuma
anggota SMA Tunas Bangsa tapi juga SMA lain.” Ucap Dea sebagai bendahara Osis.
“Betul banget pak. Dan supaya
tidak ada orang lain atau yang tidak kita kenal memasuki acara tersebut secara
sembarangan. Gimana kalau kita membuat undangan khusus. Setiap siswa harus
membawa undangan tersebut. dan jika ada yang ingin mengajak siswa lain dari
sekolah lain mereka harus minta ke kita secara langsung dan dengan menyebutkan
secara detail pasangannya nanti.” Tambah Alvin
“Iyah iyah, ide kalian cemerlang.
Oke semuanya, jadi kita akan mengadakan konser sekaligus acara prom night yah.
Tempat dan tanggal menyusul. Kalian persiapkan dulu ajah yang harus kalian
persiapkan. Besok kita berkumpul lagi di ruang serbaguna. Inget, jam setengah 7
rapat mulai. Jangan ada yang telat, karena besok ada beberapa guru yang ikut
dan juga ada kepala sekolah yang akan menghadiri acara rapat besok pagi.
Mengerti !!!.” Terang Pak Danil mengakhiri rapat osis itu.
“Mengerti pak.”
“Ya sudah, sekarang kalian boleh
masuk kelas masing-masing. Terima kasih buat kehadiran kalian. Dan jangan lupa
sama besok pagi.”
“Baik pak, kami permisi dulu.”
Seluruh
anggota osis’pun langsung membubarkan diri dan langsung beranjak keluar dari
ruang serbaguna dan menuju ke kelas masing-masing.
“Kenapa Bro, galau gituh.” Ucap
Cakka seraya berjalan menuju ke XI IPA 2.
“Gimana gue gak galau coba,
gara-gara usul loe semua yang harus berpasangan pas acara promnight nanti dan
boleh membawa pasangan dari sekolah lain gue jadi galau.” Ucap Rio.
“Kenapa ??? Bukannya itu ide
bagus, jadi semuannya kan bisa berpasangan.” Ucap Cakka yang langsung di
angguki oleh kedua sahabatnya yang lain.
“Berpasangan mata loe belo. Loe
tahu nggak, ntar kalau Shilla ngajak si Debo gimana. Gue mesti sama siapa
datangnya ???” Tanya Rio yang membuat yang lain terkikik geli. “Sialan loe,
bukannya bantuin gue malah ngetawain.” Gerutu Rio.
“Hahaha. Ya loe cari yang lain
lah. cewe bukan Cuma Shilla doang kali Bro. kecuali kalau loe emang cinta mati
sama Shilla.” Ucap Alvin.
“Heh, menurut loe ???” Ucap Rio
sebal seraya memasuki kelasnya terlebih dahulu diikuti oleh ketiga sahabatnya
yang masih terkikik geli.
SKIP !!!
Bel
pulang sekolah berbunyi dengan nyaring. Semua siswa-siswi SMA Tunas Bangsa
berhamburan keluar kelas dan menuju ke gerbang sekolah. Ada juga yang menuju ke
tempat parkir, baik mobil maupun motor. Siang ini cuaca sangat panas.
Menyebabkan seluruh siswa siswi SMA Tunas Bangsa enggan melakukan aktifitas di
siang panas seperti itu. Kebanyakan dari mereka memilih untuk kembali ke
istananya masing-masing dan memilih untuk pergi ke langit ke tujuh di dalam
mimpi.
Berbeda
dengan seorang gadis yang berdiri di halte sekolah. Dia sepertinya sedang
menunggu seseorang yang ingin mengantarkan dirinya pulang. Tetapi sedari tadi,
tidak ada satupun kendaraan yang melewati dirinya dan berhenti di hadapannya.
Beberapa
saat kemudian. Ninja merah telah berada di hadapan seorang gadis tersebut. sang
gadis pun tahu siapa yang datang, dengan ekspresi ramah, gadis ini menyapa
pemilik ninja merah tersebut.
“Hay Shill, sendirian ???” Tanya
sang pemilik ninja merah.
“Menurut kakak ??? kalo kakak
bisa melihat dengan sempurna pasti kakak tahu jawabanya.” Jawab sang gadis
dengan nada sekenanya seraya mengedarkan pandangannya ke penjuru sekolah.
“Yaelah Shill, kan Cuma basa
basi. Loe mau pulang nggak ??? Bareng gue yuk.” Ajaknya.
“Mmm, maaf kak Rio. Gue lagi
nungguin kak Debo. Hari ini dia janji mau jemput soalnya. Sekalian mau
jalan-jalan bentar.”
“Yahh, kok gitu sih, masa loe
nggak nerima tawaran gue sih Shill. Gue kan udah bela belain kesini dulu
sebelum pulang.” Ujar Rio dengan nada memelas.
“Kak Rio denger gak sih. Tadi kan
gue udah bilang kalau gue mau pulang sama kak Debo. Bukanya mau nolak atau
gimana. Tapi gue udah janji kemarin mau pulang sama dia hari ini. Lagian gue
juga nggak minta kak Rio buat kesini kan.” Jawab Shilla dengan nada sinis.
Lagi
lagi Rio tersentak mendengar penuturan gadis cantik di hadapannya ini. Dia
nggak menyangka gadis yang amat sangat dicintainya ini akan berkata seperti
itu. Kalau gadis ini menolak dengan nada yang halus mungkin saja pemuda ini
mampu menerimanya walaupun hatinya pasti akan sakit sekali. Tapi gadis di
hadapanya ini dengan sangat mudah menolak tawaranya dan dengan nada sinis.
Shilla
juga tidak menyangka, dirinya akan tega berkata seperti itu kepada pemuda
tampan itu di hadapanya. Dirinya tidak menyangka akan mengeluarkan kata kata
sakral seperti itu yang pasti akan sangat menyakiti pemuda tampan di hadapanya.
Dirinya ingin sekali meminta maaf terhadap seniornya itu, tetapi mengingat
rencana dirinya dengan Alvin maka dirinya sudah bertekad untuk tidak
mengeluarkan kata maaf sekarang. Biarlah pemuda di hadapanya membencinya untuk
sekarang.
“Oh gituh yah. Yaudah deh. Maaf
mengganggu. Gue duluan.” Ujar Rio seraya mengegas motornya dan langsung
melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
“Maafin Shilla kak. Shilla gak
bermaksud buat nyakitin kakak. Shilla Cuma pengin buktiin apa kakak bener bener
sayang sama Shilla apa nggak. Maaf.” Gumam Shilla miris.
Beberapa
menit kemudian terdengar klakson mobil dari arah gerbang sekolah. Dan semakin
dekat dengan gadis cantik yang tadi berdiri di koridor. Setelah sang
pria-pemilik mobil mempersilahkan Shilla masuk ke dalam mobil. Pria itupun
langsung menjalankan mobilnya untuk mengantar gadis cantik itu pulang. Di perjalanan.
“Shill, kita mau langsung pulang
kan ???” Tanya sang pria.
“Mmm, iya kak. Maaf yah udah
ngerepotin. Maaf juga udah ngelibatin kakak. Aku juga gak tahu lagi mesti minta
bantuan sama siapa lagi. Maaf yah.” Ujar Shilla tulus.
“Santai aja Shill. Gue gak
masalah kok. Gue malah seneng bisa bantuin loe. asal cowo loe itu gak bener
bener marah sama gue dan berbuat criminal sama gue. Hahaha.” Canda Debo
mencairkan suasana.
“Kak Debo bisa ajah. kak Rio tuh
bukan cowo Shilla. Terus kak Rio juga bukan preman, ngapain juga kak Rio
bertindak criminal sama kak debo. Gak ada guna banget deh.”
“Iya sih Shill. Kan gue Cuma
bilang Shill.”
“Iya kak. Kakak tenang ajah. kak
Rio gak bakal berbuat jahat kok sama kak Debo. Apalagi Cuma masalah ini.” Ujar
Shilla. “Ought gituh. Syukur deh.”
Setelah
sampai di rumah megah dan mewah. Shilla turun dan langsung berterima kasih
kepada senior masa lalunya itu. Kemudian dirinya masuk dengan perasaan yang tak
menentu.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Sedangkan
di tempat lain. Tepatnya di sebuah kamar. Seorang pemuda sedang gelisah
memikirkan apa yang dibicarakan oleh gadis yang amat sangat dicintainya tadi.
Pemuda ini tidak menyangka dengan ucapan yang keluar dari bibir manis sang
gadis.
“Arrrggghhhh, kenapa sih Shill.
Loe selalu menghantui gue terus. Apa maksudnya loe ngomong gitu sih Shill. Apa
bener loe gak suka sama gue. Tapi kenapa Shill ??? Bukanya selama ini loe udah
nunjukkin kalau loe itu suka sama gue. Bahkan bokap nyokap kita masing-masing
udah setuju dan sangat merestui hubungan kita, tapi kenapa endingnya loe malah
kaya gini ??? Kalo loe emang gak suka sama gue. Harusnya loe gak usah ngasih
harapan sama gue. Kenapa Shill ???” Ucap seorang pria, Rio.
“Apa loe udah jadian sama Debo.
Apa loe sama dia emang saling mencintai Shill. Gue nggak sanggup kalo loe mesti
sama Debo. Kenapa harus Debo sih Shill. Kenapa loe gak milih gue aja ???”
Lanjutnya.
“Ok, Shill. Kalau ini emang mau
loe. gue bakal menjauhi loe. kalo loe emang bahagia sama Debo gue terima Shill.
Gue bakalan terima kalo kenyataanya Debo bisa jadi yang terbaik buat loe. gue
terima Shill. Mulai besok gue akan berusaha ngejauhin loe Shill. Semoga loe
bahagia sama Debo.”
Gara-gara
capek memikirkan masalahnya dengan sang gadis, pria tampan ini pun akhirnya
tertidur dan berusaha untuk menghilangkan penat dan rasa lelah yang menyelimuti
dirinya. Berharap dengan tertidur masalahnya akan hilang dan terbang terbawa
angin. Dan esoknya jika dirinya bangun akan menemukan semangat baru untuk
menjalani hari baru.
SKIP !!!
Keesokan
harinya. Keempat pemuda tampan datang dengan menggunakan motor ninjanya secara
beriringan. Dan lagi lagi perbuatan yang mereka lakukan membuat seluruh siswa
SMA Tunas Bangsa heboh dan tersepona serta berteriak histeris melihat
kedatangan 4 pemuda tampan itu. Setelah 4 pemuda tampan ini berhasil
memarkirkan kendaraan pribadinya dengan mulus, mereka langsung berjalan
memasuki pekarangan sekolahnya.
Tiba-tiba
langkah pemuda tampan itu berhenti setelah melihat pemandangan yang kurang
indah. Di depan gerbang sekolah tercintaanya ada sepasang muda mudi yang sedang
bercengkrama seraya bercanda dan diselingi tawa oleh keduanya. Salah satu dari
keempat pemuda tampan itu langsung merasakan panas di hatinya. Pemuda ini tidak
kuat melihat sepasang kaum adam dan hawa yang kelihatan sekali seperti pasangan
yang sangat serasi.
Terlihat
Shilla dan Debo yang sedang bercengkrama di depan gerbang sekolah. Debo yang
masih duduk di atas motor ninjanya dan Shilla yang berdiri di samping Debo
seraya senyum senyum dan ketawa melihat Debo. Mereka asyik bercengkrama tanpa
memperdulikan orang orang sekitarnya. Bahkan mereka tidak sadar jika ada
seseorang yang melihat mereka dengan tatapan membunuh.
“Bro, loe gak papa ???” Tanya
sahabatnya yang melihat ekspresi dirinya. Cakka.
“Gak papa kok. Gue masuk duluan
yah.” Jawab pemuda hitam manis itu masih dengan nada tenang. Rio.
“Tunggu bro, bukanya kita ada
rapat yah pagi ini, jadi bareng ajah. yuk.” Usul pemuda hitam manis yang masih
asyik dengan ponselnya. Gabriel.
“Yaudah lah, gak usah di masukkin
ke dalam memory loe kejadian pagi ini, buang ajah. yuk guys, pak Danil pasti
udah nungguin tuh.” Ajak pemuda seperti orang korea. Alvin.
Kemudian
mereka berjalan cepat menuju ke ruang osis. Tetapi pemuda hitam manis yang
notabene sebagai ketua osis SMA Tunas Bangsa masih terus memikirkan kejadian
yang kurang enak untuk dilihat di pagi hari ini. Sebelum pemuda tampan ini
memasuki pekarangan sekolahnya, pemuda ini menyempatkan melirik sepasang kaum
muda mudi yang masih betah berdiri di depan gerbang sekolahnya itu. Kemudian
dirinya bergegas memasuki loby sekolah dengan perasaan tidak menentu.
(“Mereka tuh ada hubungan apa sih
sebenernya. Seenaknya ajah mereka bercanda di depan gerbang sekolah, mereka
pikir tuh tempat punya nenek moyangnya apah. Inget Rio. Loe udah janji bakal
ngelupain Shilla kan, jadi loe mesti berusaha Rio. Hapus Shilla dalam memory
loe. buang jauh jauh namanya, dia ituh gak suka sama loe, jadi ngapain loe
masih betah nyimpen namanya di otak loe.” Batin Rio seraya memasuki
sekolahnya.)
“Yo, elah. Loe lama amat sih
jalannya. Kaya cewe ajah. buruan, pak Danil udah nyariin loe dari tadi.” Ucap
Gabriel seraya menarik tangan Rio dan menyeretnya menuju ruang osis.
“Iya iya, sabar napa sih yel. Gak
usah di seret seret tangan gue.” Ujar Rio berusaha melepaskan cekalanya dari
tangan Gabriel yang menyeretnya dengan tarikan yang lumayan keras.
“Supaya kita cepet sampai ke
ruang osis. Loe gatau apa, kalo dari tadi pak Danil itu nyariin loe. malah loe
seenaknya aja jalannya. Kaya siput kurang gizy loe. masih pagi juga. Udah lemes
gituh.” Cerocos Gabriel yang masih menyeret sahabatnya menuju ke ruang osis.
“bawel banget sih loe jadi
cowok.”
“Bodo.”
Kemudian
mereka memasuki ruang osis dan ternyata para anggota osis sudah berkumpul dan
duduk manis di kursinya masing-masing. Sepertinya Cuma pemuda hitam manis ini
yang belum duduk di kursinya. Pantas saja Pembina osis mencarinya. Ternyata
Cuma dia yang gak kelihatan di ruangan. Para guru juga banyak yang datang.
Termasuk kepala sekolahnya.
YYYYYYYYYYYYYYYYY
Sementara
anggota osis sibuk membicarakan masalah acara ulang tahun sekolah. Murid murid
yang lainnya malah enak-enakkan bersantai Ria. Karena para guru banyak yang
mengikuti acara rapat osis pagi ini. Jadi, jam pertama dan kedua di kosongkan.
Beberapa dari mereka memilih pergi ke perpustakaan dan yang paling banyak ke
kantin.
Seperti
keempat gadis cantik yang sudah stand by di bangku favoritnya di kantin
sekolah. Yaitu bangku paling pojok yang sebelahnya ada jendela yang
menghubungkan dengan pemandangan luar sekolahnya yang sangat menyejukkan.
“Shill, loe udah jadian yah sama
kak Debo.” Tanya Sivia yang membuat Shilla mengernyit.
“Kenapa loe Tanya gitu Vi. Gue
gak jadian kok sama kak Debo. Loe semua kan tahu kalo gue deket sama kak Debo
karena pengin buat kak Rio jealous.” Jawab Shilla
“Tapi cara loe udah kelewatan
Shill. Bukanya loe udah tahu kalo kak Rio ituh suka sama loe dan sayang sama
loe. loe tahu nggak sih, rencana loe sama kak Alvin ini bisa bikin kak Rio
ngejauhin loe.” Ucap Agni yang diangguki oleh kedua sahabatnya.
“Jangan dong. Masa loe ngedoain
gituh sih Ag. Kata kak Alvin, gue belum boleh nyudahin permainan ini. Sampai
acara promnight nanti.” Ujar Shilla yang membuat ketiga sahabatnya melotot
kaget.
“Promnight ???” Tanya ketiga
gadis cantik secara serempak.
“Iya promnight. Emang kenapa sih
??? Ada yang salah emang ???” Tanya Shilla balik.
“Kok gue gak tahu kalo mau ada
promnight. Kak Gabriel rese banget ih. Masa gue gak di kasih tahu.” Gerutu Ify.
“Sama. Loe fikir loe aja apa yang
nggak di kasih tahu. masa Shilla di kasih tahu gue nggak. Rese banget emang kak
Alvin. Awas aja nanti.” Tambah Sivia yang menyetujui ucapan Ify.
“Selow aja guys. Gue juga tahunya
pas tadi malem. Kak Alvin ngasih taunya juga gak sengaja. Gue kan Tanya kapan
permainan gue sama kak Debo berakhir. Dan kak Alvin bilang kalau gue boleh
mengakhiri semuanya habis acara promnight selesai. Terus gue Tanya lebih lanjut
deh.” Terang Shilla yang membuat sahabatnya mengangguk mengerti.
“Oh gituh. Tapi jangan salahin
kita kalau kak Rio beneran benci sama loe yah Shill. Dan lebih memilih buat
ngejauhin loe karena dia fikir loe ituh udah jadian sama kak Debo dan loe udah
bahagia sama kak Debo.” Terang Ify yang membuat Shilla membenarkan ucapan Ify.
(“Semoga ajah gak kaya gitu
kenyataanya. Gue gak pengin kalau kak Rio bakal benci sama gue. Percuma dong kepura
puraan gue selama ini. Gue kan pengin bikin dia jealous doang, bukan nyuruh kak
Rio benci sama gue apalagi bakal ngejauhin gue.” Batin Shilla.)
SKIP !!!
Bel
pulang sekolah berbunyi nyaring membuat seluruh siswa siswi SMA Tunas Bangsa
bersorak gembira. Mereka bergegas keluar dari sekolah tercinta mereka.
Sedangkan keempat para gadis masih setia berada di dalam kelas mereka.
“Guys, kita ke kelas kak Rio, kak
Alvin, kak Gabriel sama kak Cakka yuk. Sekalian ngajak jalan bareng gituh.”
Usul Ify yang langsung di respon dengan anggukan oleh Agni dan Sivia.
“Boleh banget tuh Fy. Shill, Vi,
loe pasti setuju kan ???” Tanya Agni pada kedua sahabatnya.
“Gue sich oke oke ajah. gimana
sama loe Shill ???” Tanya Sivia. Sedangkan sang empu yang di Tanya hanya
mengangkat bahu tanda ia tak tahu apa jawaban yang paling tepat. Mendapat
respon seperti itu, ketiga sahabatnya hanya mengernyit tanda mereka bingung
dengan jawaban Shilla.
“Mau gak mau, loe harus mau Shill.
Buruan !!! tadi gue udah sms kak Cakka. Katanya kak Cakka sama yang lainnya ada
di loby sekarang. Dan kita di suruh kesituh sekarang. Udah ayo.” Ajak Agni dan
langsung menarik tangan ketiga sahabatnya seraya bergegas keluar kelas dan
langsung melangkah menuju ke loby dimana para pangerannya telah menunggunya
tadi.
Terlihat
empat pemuda tampan yang sedang sibuk dengan aktivitasnya di loby. Sang ketua
osis sedang asyik memainkan ponselnya. Dan sang wakil ketua osis sedang asyik
browsing internet menggunakan laptop kesayangannya. Sedangkan kedua pria tampan
lainnya asyik bermain game di laptop sang pemuda sipit.
Beberapa
menit kemudian, terdengar suara derap langkah beberapa orang yang menuju ke
arah pemuda tampan itu karena suaranya semakin jelas saja. Otomatis, keempat
pemuda tampan itu menghentikan aktivitas mereka masing-masing dan langsung
mengalihkan pandangannya kearah sumber suara yang membuat dirinya merasa di
ganggu.
“Hay say, lama banget sih
datengnya. Tadi kan aku udah nyuruh kamu dateng secepatnya.” Sapa Cakka manja
yang membuatnya terkikik geli.
Mereka
semua tertawa geli melihat perubahan sikap sahabatnya semenjak berpacaran
dengan gadis manis dan tomboy sekaligus sahabat pacar mereka. Sedangkan salah
seorang gadis-Shilla melihat kearah pemuda yang masih menyibukkan dirinya
dengan ponsel miliknya. Sepertinya pemuda tampan yang sedang memainkan
ponselnya tersebut sangat tidak perduli dengan kehadirannya maupun kehadiran
sahabatnya.
Dengan
keberanian yang dia miliki. Dirinya melangkah menuju ke pemuda tampan itu. Pada
saat dirinya mendekati pemuda tampan itupun, dia juga tidak menoleh ke arahnya
sedikitpun. Kemudian dirinya duduk di sebelah pemuda tampan yang sedang
memainkan ponselnya tersebut. tentunya, sahabatnya tidak ada yang tahu jika
dirinya sekarang sudah berpindah tempat. Karena mereka masih sibuk bergurai
bersama pacar mereka masing-masing.
“Lebay banget sih. Tadi aku
ngobrol dulu sama anak-anak. Oyah, kita punya rencana nih.” Jawab Agni
“Rencana apa girls ???” Tanya
Alvin mewakili para sahabatnya.
“Mmm, gini kak. Kita pengin
hangout bareng. Tapi sama kakak-kakak semua. Jadi kan seru, bukannya makin rame
makin seru yah.” Jawab Sivia menjawab pertanyaan kekasihnya.
“Setuju setuju aja sih, asyik
juga jalan rame-rame.” Jawab Gabriel.
“Iyah kak, nanti kita bisa seru
seruan bareng. Udah lama juga kan kita gak pergi bareng-bareng.” Ujar Ify
“Iyah, akhir-akhir ini kita semua
pada sibuk sama urusan kita masing-masing.” Ucap Alvin menyetujui.
YOSHILL J
“Kak, lagi ngapain ???” Tanya
Shilla yang membuat pemuda di sampingnya menoleh.
“Sejak kapan loe ada disebelah
gue ???”. Bukanya menjawab pertanyaan Shilla, pemuda itu malah Tanya balik yang
pertanyaanya membuat Shilla heran.
“Dari tadi kak, kakak sibuk
banget sih main ponsel. Jadi gak sadar kan.” Ucap Shilla ramah kepada sang
ketua osis yang bernama Mario Stevano itu.
“Apa perduli loe ??? Terserah gue
dong mau ngapain ajah. dan kehadiran loe tuh sangat tidak berpengaruh buat
gue.” Jawab Rio dengan cueknya.
“Kok kakak ngomongnya gituh sih
??? Shilla kan Tanya baik baik, jawabnya malah sinis gituh.” Gerutu Shilla yang
membuat seniornya menatap dirinya dengan tatapan tajam.
“Masalah buat loe. Guys, gue
duluan yah.” Pamit Rio cepat seraya beranjak dari duduknya.
“Yo.” Panggilan sahabatnya-Cakka
membuat dirinya menghentikan langkahnya. “Kita kan mau hangout bareng, loe mau
kemana ???”
“Gue mau menyendiri guys. Kalian
tanpa gue gak papa kan ??? Gue bener-bener pengin sendiri dulu.” Ucapan Rio
langsung di sambut pertanyaan sahabatnya lewat batin, seakan-akan sahabatnya
bertanya ‘Kenapa ???’. “Tenang aja guys, gue baik baik ajah kok. Bokap nyokap
gue kebetulan lagi ke Bandung. Dan Ray lagi ada acara di sekolah. Jadi di rumah
sepi. Dan gue lebih mutusin buat jalan-jalan aja sendirian.” Terang Rio.
“Kenapa gak bareng kita aja ???
Lebih rame kan lebih seru Yo, kita bisa ngabisin waktu bareng sampe sore nanti.
Atau kalau loe mau kita bisa hangout sampe malem.” Ujar Gabriel.
“Iya kak, lagian kalau kakak gak
ikut Shilla sama siapa ??? Kan kak Gabriel, kak Cakka sama kak Alvin pada pake
motor semua.” Tambah Ify.
“Panggil aja pacarnya, gampang
kan ???” Jawab Rio sekenanya dan langsung membuat Shilla melotot kaget. “Pacar
???” Ucap Shilla memastikan. “Iya pacar loe, siapa tuh namanya, Deb Deb Deb ….”
“Debo kak Rio.” Jawab Sivia secepatnya. “Ah bodo amat, mau namanya Debo kek,
Kebo kek. gue gak perduli. Udah yah guys, gue cabut dulu.” Ucap Rio seraya
bersiap pergi.
Lagi
lagi langkahnya mendadak berhenti karena ulah sahabatnya yang selalu membuat
dirinya tidak bisa meneruskan langkahnya. “Rio.”
“Ada apa lagi guys ???” Tanya Rio
sebal seraya berbalik badan.
“Loe cemburu yah sama Debo.” Ucap
Alvin yang membuat Rio melotot kaget.
“Cemburu ??? Mana mungkin. Gak
kok, gue sama sekali gak cemburu sama Debo.” Ucap Rio cepat.
“Ciyuuuusss, Miapa. Jangan bohong
deh. Ntar kalo Shilla beneran jadian sama Debo baru tahu rasa loe. ntar loe
malah nangis kejer lagi. Atau jangan-jangan mempersiapkan diri buat bunuh diri
loe sendiri.” Ucap Gabriel ngarang.com
“Lebay banget sih loe. gak
mungkin lah. Cuma gara-gara cemburu gue bunuh diri. Lagian kalo Shilla jadian
sama Debo juga gue gak perduli.”
“Kak, udah deh. Gak usah gengsi
gituh. Kakak kalo suka sama Shilla bilang ajah yang sebenernya. Di dunia cinta
itu gak ada kata gengsi Kak. Suka yah bilang suka. Kalau gak suka yah bilang
gak suka.” Terang Ify memberi tahu.
“Udah lah guys. Ngapain sih pake
mojokkin kak Rio gituh. Loe semua tahu kan kalo kak Rio ituh gak suka sama gue.
Jadi buat apa dipaksa ngomong suka. Orang nyatanya dia gak suka. Mmm, gue pulang
ajah deh yah. Kalian kalau mau pergi pergi ajah. gak papa kok. Dan buat kak
Rio, makasih buat pernyataan yang kakak kasih tahu ke gue. Bye guys.” Ucap
Shilla seraya melangkah menjauhi teman-temannya dan melangkah menuju ke
gerbang.
“Kejar Yo. Kejar kalo loe beneran
suka sama dia. bentar lagi mau hujan. Loe gak kasihan sama Shilla. Kita udah
sepakat buat batalin acara hangout bareng hari ini. Loe gak mau kan, kalo
terjadi apa-apa sama Shilla.” Ujar Cakka.
“Iyah kak, lagian sopir Shilla
gak mungkin jemput karena beliau mesti nganterin nyokap Shilla ke kantor. Dan
kak Debo juga gak bisa jemput karena ada acara di sekolahnya. Jadi kemungkinan
besar Shilla naik taksi atau angkutan umum. Tapi jam segini kan gak ada taksi
atau angkutan umum kak.” Ucap Agni.
Teman-temannya
selalu memojokkan dirinya. Di situasi yang sama sekali tidak mendukung ini
malah membuat pria tampan ini bingung harus bagaimana. Di satu sisi, pria
tampan ini ingin sekali menyendiri di tempat yang benar-benar nyaman dan
tenang. Dirinya ingin sekali mencairkan otaknya supaya bisa berfikir jernih.
Akhir-akhir ini banyak masalah yang datang ke kehidupannya, dan hal ini membuat
dirinya menjadi kacau.
Tapi
disisi lain, dirinya ingin sekali menyusul bidadari yang kini singgah di dalam
hatinya. Sang Ketua OSIS ini sangat khawatirnya. Tetapi dirinya masih terlalu
gengsi untuk mengakuinya. Setelah beberapa saat dalam keadaan hening, kemudian
……..
“Woy, malah bengong.” Ujar Cakka
mengagetkan.
“Udah kak susulin Shilla gih,
udah gerimis tuh. Sana kak. Kasihan Shilla.” Tambah Ify yang membuat Rio
bingung.
“Udah deh bro, loe gak mau kan
anak orang sakit ??? Sana susulin. Buang dulu deh gengsi loe ituh. Udah sana.”
Usir Alvin dengan nada halus.
“yaudah deh. Gue duluan guys.”
Ucap Rio dan langsung ngacir.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Seorang
gadis sedang menggigil kedinginan di sebuah halte yang tak jauh dari
sekolahnya. Setelah dirinya berhasil keluar dari gerbang sekolahnya dirinya
langsung menuju ke sebuah halte untuk menunggu taksi ataupun angkutan umum yang
melintas di jalan di hadapanya. Setelah dirinya melihat jam, ternyata dirinya
baru sadar bahwa jam segini tidak mungkin ada taksi atau bus yang lewat.
Dirinya sudah tidak bisa mengandalkan orang lain lagi.
Sopir
pribadi keluarganya sedang mengantar mamahnya menuju ke kantor beliau.
Sedangkan seniornya dulu sedang ada acara di sekolahnya-Debo. Dan ayahnya tentu
saja masih berada di kantor dan tidak mungkin dirinya meminta tolong pada
ayahnya yang sedang sibuk dengan pekerjaanya. Adik tercintanya juga tidak mungkin
untuk menjemput dirinya karena adiknya itu belum bisa mengendarai mobil
sendiri. Dengan sabar gadis cantik itu menunggu seraya duduk di bangku yang
telah tersedia.
Beberapa
saat kemudian. Gerimis berdatangan. Dan tak lama kemudian, hujan pun mengguyur
bumi dengan hebatnya. Dirinya sudah tidak bisa melarikan diri dari tempat ini.
Jika dirinya lebih memilih untuk kabur dari tempat itu, maka sudah di pastikan
dirinya akan basah kuyup. Maka dari itu, dia lebih memilih berteduh di halte.
Walaupun tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Tapi itu adalah cara yang paling
tepat seraya menunggu keajaiban yang datang kepadanya.
Tiba-tiba,
ada sebuah motor yang berhenti di hadapanya. Seseorang yang sangat ia kenali
sedang memarikan motor ninjanya yang berwarna merah dan sang empunya langsung
berlari ke arahnya. Dan dengan santai pemuda ninja merah itu langsung duduk di
sampingnya, membuat dirinya menatap pemuda itu dengan tatapan heran.
“Ngapain loe ngelihatin gue sampe
segitunya. Gue ganteng ??? Emang. Baru tahu loe.” Ucap pemuda yang sedang
mengeringkan rambutnya dengan cara mengibas ngibaskan rambutnya membuat gadis
cantik di sebelehnya terkena air yang ada di rambut pemuda itu.
“Kak Rio. Kena kan guenya. Ihhh,
kalo mau ngeringin rambut jangan disini dong. Udah tahu ada orang.” Ucap Shilla
kesal dan sebal.
“Yaelah, sewot banget neng.
Santai aja dong. Ini juga gara-gara loe” Balas Rio santai.
“What !!! Salah gue ??? Emang
yang nyebabin rambut loe basah gue apa.” Balas Shilla nyolot.
“Bukan itu. Maksud gue, temen-temen
loe nyuruh gue nyusulin loe kesini. Makanya gue kesini.”
“Kalo loe kesini Cuma buat bikin
gue sebel. Mendingan jangan kesini deh. Udah tahu hujan pake nekad segala.
Katanya juga loe mau pergi, kok malah kesini sih. Loe kesini karena terpaksa
???” Tanya Shilla
“Gue beneran tulus kok pengin
nyamperin loe. gak pengin aja di salahin sama semua orang kalau terjadi apa-apa
sama loe.” Jawab Rio sekenanya.
“yaudah pergi sana. Gue jamin gak
akan ada yang nyalahin loe kalau gue kenapa-napa. Udah sana pergi. Gue disini
sendirian juga gak papa. Dari pada loe disini karena terpaksa.”
“Please deh Shill. Jangan mulai.
Gue serius nih pengin nolongin loe. loe juga sampe kedinginan gituh. Muka loe
pucet tuh gara-gara menggigil mulu dari tadi. Nih pake jaket gue. Gue jamin loe
lebih anget dari yang tadi. Tenang ajah. di dalamnya gak basah kok. Cuma
luarnya ajah.” Ucap Rio seraya melepas jaketnya dan memberikanya pada gadis di
sampingnya.
“Emangnya loe gak kedinginan ???”
Tanya Shilla menyakinkan.
“Gak kok. Gue udah biasa kali
kena hujan. Oyah Shill. Kayaknya hujanya bakalan lama deh. Soalnya makin deres
hujanya. Gimana kalau kita terobos ajah hujanya. Biar loe pulang gak
kemaleman.”
“Gila loe kak. Ini tuh masih
deres banget hujanya. Mana loe bawa motor lagi. Jalanya juga licin, ntar kalo
ada apa-apa gimana. Ntar kalau ada mobil lewat gimana. Ntar kalo loe gak bisa
ngimbangin motornya gimana. Kan bahaya kak. Lagian nunggu hujanya reda juga gak
ada salahnya kan. Dari pada kita masuk rumah sakit dan ……..”
“Ssssttttt, pikiran loe kejauhan
neng. Mikir tuh yang positif napa sih. Pikiran loe negative semua. Emangnya gue
mau bunuh loe apah. Kalopun iya gak mungkin diri gue terlibat. Gila apa. Lagian
gue juga udah biasa bawa motor, bukan orang yang baru latihan motor kan ???”
“Iya sih, tapi kan gak seharusnya
nerobos hujan kaya gini kak. Hujanya juga masih deres banget kaya gini. Nunggu
bentar juga gak masalah kan ??”
“Buat gue ituh gak masalah. Tapi
buat loe itu masalah besar. Ntar kalo hujanya reda nanti malam gimana. Apa loe
mau bertahan sampe malam juga disini ??? gak kan, makanya loe nurutin perkataan
gue, gue jamin gak akan ada apa-apa. Asal kita berdoa.” Ucap Rio membuat Shilla
berfikir.
“Iya deh, tapi bener yah.
Hati-hati.”
“Siap Boss. Mending jaketnya loe
kancing deh. Supaya baju loe gak basah.”
“Loe beneran gak papa kak ??? Kan
kalau nerobos hujan bakalan dingin banget kak. Loe juga Cuma pake seragam.
Mendingan jaketnya loe pake ajah nih.”
“Gak, loe pake ajah. gue gak
papa. Kan tadi gue udah bilang. Gue udah biasa hujan-hujanan.”
“Yaudah deh terserah loe ajah.”
“Yaudah bentar yah gue ambil
motornya.” Ucap Rio seraya menerobos hujan dan langsung menuju ke hadapan
Shilla.
Setelah
dirinya berteriak memanggil Shilla untuk mendekat, dirinya langsung tancap gas
meninggalkan halte itu. Tentunya dengan hujan-hujanan. Shilla sih masih mending
ada jaket Rio yang melindungi tubuhnya, sedangkan Rio. Dia hujan-hujanan DEMI
SHILLA. Ingat guys. Demi Shilla dia rela melakukan ini.
Di
tengah perjalanan yang cukup sepi, tiba-tiba motor Rio berhenti secara
mendadak. Otomatis Shilla dan Rio langsung turun dari motor tentunya masih
dengan hujan-hujananya.
“Kok berhenti sih kak ???” Tanya
Shilla seraya mengusap wajahnya yang terkena air hujan.
“Gatau nih, yaudah mending loe
berteduh dulu di bawah pohon itu.” Ucap Rio seraya menunjuk pohon rindang yang
berada tak jauh dari tempatnya sekarang.
“Tapi kak, ntar loe gimana ???”
“Gue mau ngecek motor gue dulu.
Loe tunggu disitu buruan. Ntar kalo kelamaan disini loe bisa sakit. Udah sana.”
Usir Rio halus.
“Gak kak. Gue mau disini ajah. please
dong kak, jangan nyuruh gue berteduh. Gue gak mungkin berteduh sementara kakak
malah hujan-hujanan disini.”
“Shill, hujannya makin gede.
Please dong Shill. Sekali ini ajah loe nurutin gue. Cepetan berteduh kalo loe
masih anggep gue sebagai senior loe. buruan.”
“Iya deh kak, yaudah, gue kesana
dulu yah.” Ucap Shilla seraya berlari kearah pohon rindang tersebut setelah
mendapat anggukan dari seniornya itu.
“Nie motor kenapa sih. Gak join
banget deh.” Ucapnya seraya berusaha menyalakan motornya. “Sial. Ternyata
bensinya habis.” Rutuknya setelah melihat jumlah bensin yang tersisa. Ternyata
panahnya sudah berada di tanda merah. Kemudian, dirinya langsung mengambil
kunci dan berlari menuju kearah Shilla yang sedang menggigil kedinginan di
bawah pohon.
“Shill, loe gak papa ???” Tanya
Rio setelah melihat wajah pucat Shilla.
“Dingin banget kak.” Jawab Shilla
seraya memeluk erat tubuhnya sendiri.
“Yaudah sekarang kita cari tempat
yang pas buat berteduh yuk. Bensin motor gue habis. Dan pom bensin dari tempat
ini jauh banget. jadi mendingan kita cari tempat buat berteduh dulu yuk.”
Shilla mengangguk “Yaudah. Yuk.” Ajak Rio seraya menarik tangan Shilla
menerobos hujan.
Kemudian
dua insan ini berlari menelusuri jalanan yang sangat sepi, selain jalanan ini
jauh dari tempat penduduk, jalanan ini juga terdapat pohon-pohon besar di tepi
jalan. Bagaimana mungkin mereka dapat menemukan tempat yang cocok untuk
berteduh sementara jalanan sangat ekstrim seperti ini.
Setelah
berlari cukup jauh. Rio menghentikan larinya karena gadis yang ada di
belakangnya tiba-tiba memperlemah genggamannya. Menyadari itu, pria hitam manis
ini pun membalikan tubuhnya dan menghadap Shilla. Dilihatnya Shilla sedang memegangi
kepalanya dengan wajah yang sangat pucat.
“Shill, loe kenapa ??? Please
bertahan dulu, kita kesitu dulu yuk.” Ajak Rio seraya memapah Shilla menuju ke
gubuk yang tak jauh dari tempatnya tadi.
Setelah
sampai, Rio langsung mendudukan Shilla di tempat yang ada di gubuk tersebut.
lebih mirip seperti ranjang yang sudah sangat rapuh. Kemudian dirinya membuat
bantal dengan menggunakan kardus yang juga sangat rapuh. Kemudian di atasnya ia
taruh beberapa helai kain untuk menutupi kardus tersebut. dan dirinya langsung
menyuruh sang gadis untuk tidur menggunakan bantal buatan dirinya.
“Aduh gimana nih. Mana hujannya
makin deres lagi. Gue gak mungkin ngebiarin Shilla disini terus. Baju dia juga
basah. Apalagi jaket gue. Gimana yah. Kenapa juga ponsel gue ketinggalan di
sekolah tadi, pasti ponsel gue jatuh pas gue mau nyusulin Shilla, mana motor
bensinya habis lagi. Apes banget gue. Semoga ada keajaiban.” Gumam Rio panik.
Setelah
beberapa saat berdiam diri di dalam gubuk. Akhirnya pemuda tampan ini
berinisiatif untuk mencari tumpangan yang akan lewat di jalanan itu dengan
menunggunya di pintu gubuk. Sedangkan sang gadis masih menggigil kedinginan
serta meringkukan tubuhnya.
Beberapa
menit kemudian, ada sepasang lampu mobil yang melaju tak jauh dari tempatnya
dan menuju kearah jalan di hadapannya. Reflek, pemuda inipun berlari menuju ke
tengah jalan membuat sang pengendara mobil memperlambat laju mobilnya dan tepat
berhenti di hadapan sang pemuda.
“Rio ???” Pekik sang pengendara
mobil kaget.
“Debo, kebetulan banget loe
disini. Mending loe sekarang turun dan bantuin gue buat bawa Shilla kerumah.
Dia lagi menggigil di dalam gubuk itu, mending loe sekarang bawa dia kerumahnya
deh. Kayaknya dia demam gitu gara-gara kena hujan terlalu lama. Sorry, gue
ngebuat cewe loe sakit.” Terang Rio membuat Debo menganga kaget.
“Yo, dia itu bukan ….”
“Udah deh, bukan waktunya buat
ngomong. Udah buruan loe ikut gue.” Ucap Rio seraya menarik tangan Debo
membawanya ke dalam gubuk dimana Shilla berada.
“Shilla.” Pekik Debo kaget
melihat keadaan Shilla yang sedang menggigil kedinginan dengan muka pucat pasi
dan tiduran di ranjang yang sangat kumuh.
Tanpa
Berfikir panjang, Debo langsung melepaskan jaket yang dikenakanya dan
memasangnya ke tubuh Shilla setelah dirinya melepaskan jaket Rio dan
mengembalikanya ke sang empunya. Kemudian dirinya langsung membopong Shilla
setelah mendapat persetujuan dari Rio. Sedangkan pemuda hitam manis itu masih
terduduk di ranjang yang kumuh itu. Rio tidak ikut dengan mobil Debo karena
motor dirinya masih berada di daerah sini, tidak mungkin jika dirinya meninggalkan
motor itu.
“Maafin gue Shill, gue ngebuat
loe sakit. Loe emang lebih pantes sama Debo, dia lebih bisa menjaga loe. semoga
loe bahagia sama Debo. Gue sekarang percaya kalo loe bakalan aman sama Debo.
Dan gue juga percaya kalo Debo bakalan ngasih yang terbaik buat loe dan akan
selalu jagain loe.”
Kemudian
pria tampan ini menuju ke motornya setelah sebelumnya berlari menuju ke pom
bensin dengan hujan hujanan dan masih menggunakan seragamnya yang sudah sangat
basah. Kemudian, pria tampan ini melajukan motornya menuju kearah rumahnya.
SKIP !!!
Sesampainya
di rumah pemuda ini langsung menuju ke kamarnya karena tidak ada orang di
rumahnya yang semegah istana itu. Yang ada hanya bibi, sopir peribadi
keluarganya dan tentunya adik tersayangnya. Setelah sampai di kamar dirinya
langsung bergegas ke kamar mandi.
Setelah
selesai, pemuda ini keluar dari kamar mandi dan langsung tiduran di ranjang.
Dirinya sedang tidak enak badan setelah hujan-hujanan terlalu lama tadi. Ketika
punggung tanganya menyentuh keningnya sendiri ternyata panas. Dirinya juga
merasa pegal dan sangat lelah. Kemudian dirinya memutuskan untuk tidur.
SKIP !!!
Malam
harinya di keluarga haling. Tepatnya di ruang makan di kediaman haling. Tampak
seorang pemuda yang sedang menyantap makananya di ruang makan sendirian.
Setelah bibi menaruh makananya di meja. Pemuda itu bertanya kepada sang bibi.
“Bi, kak Rio belum pulang juga
???” Tanya sang pemuda yang duduk di ruang makan tadi.
“Udah den. Tadi bibi denger suara
motornya. Mungkin sekarang lagi di kamar den.” Jawab sang bibi ramah.
“Pulang naik motor ??? Tadi kan
hujan bi, kak Rio hujan-hujanan dong.”
“Iyah den, tadi bajunya basah
sekali. Wajahnya juga kelihatan pucat. Kalo den Ray khawatir mending den Ray
susulin den Rio di kamarnya ajah. bibi masih banyak kerjaan di dapur soalnya
den. Jadi belum bisa menjenguk den Rio di kamarnya. Yaudah den, bibi permisi
dulu ke dapur.” Terang sang bibi seraya menuju kearah dapur.
“Yaudah deh bi, Ray ke kamarnya
kak Rio dulu yah.” Pamit Ray seraya melangkah menuju ke kamar sang kakak yang
berada di lantai atas.
Ray
membuka pintunya dengan hati-hati. Karena dirinya tidak ingin kakaknya yang
sedang sakit itu merasa terganggu dengan kedatangannya. Setelah berhasil masuk
tanpa mengganggu kakaknya, Ray langsung duduk di kursi di bawah kamar tidur
kakaknya. Dilihatnya wajah pucat Rio yang sedang terlelap dalam tidur indahnya.
“Panas.” Pekik Ray ketika
punggung tangannnya menyentuh dahi sang kakak.
Pemuda
tampan yang tadi masih asyik terlelap dalam mimpi menggeliatkan badannya karena
mendengar pekikan seseorang yang cukup keras membuat dirinya terganggu. Mau tak
mau pemuda tampan itu membuka matanya melihat siapa orang yang sudah membuat
dirinya bangun dari tidur nyenyaknya. Dilihatnya sang adik yang sedang duduk
seraya menyunggingkan senyum manisnya.
“Ray, sejak kapan loe disini ???”
Tanya pemuda tampan itu seraya mengumpulkan nyawanya yang tadi sempat hilang
selepas bangun dari tidurnya.
“Barusan sih kak, sorry yah kak.
Gue udah ganggu tidur loe. badan loe panas. Kenapa ???”
“Tadi gue hujan-hujanan cukup
lama. Mungkin karena badan gue juga gak dilengkapi sama jaket makanya jadi gak
kuat gini.” Jawab Rio seraya menyandarkan tubuhnya di senderan kasur.
“Ought. Emang jaket loe kemana
???” Tanya sang gadis kepo.
“Di pake Shilla. Tadi gue kan
pulang bareng sama dia. terus motor gue mogok di tengah jalan. Yaudah, terpaksa
gue hujan-hujanan deh. mama sama papa belum pulang kan Ray ???”
“Belum ko. Kenapa ??? Loe takut
di marahin mama sama papa ??? Gue jamin, kalo sampe mereka tahu loe pasti dapet
ceramah yang amat sangat panjang dari mama. dan gue jamin loe pasti bakalan
dapet peringatan dari papa. Lagian loe udah pernah dapet ceramah dari mama
supaya gak hujan-hujanan lagi tapi masih tetep nekad ajah sampe sekarang.” Cerocos
Ray.
“Ckckck, loe kalo lagi ngomong
gak ada bedanya sama mama yah Ray. Panjang banget. udah loe keluar sana, gue
mau istirahat. Dingin banget nih.” Ucap Rio seraya mengusir adik semata
wayangnya.
“Iyah iyah. Yaudah, loe
istirahat. Gue keluar yah. Cepet sembuh loe.” Ucap Ray seraya keluar dari kamar
sang kakak.
SKIP !!!
Keesokan
harinya. Seorang gadis sudah berdiri di gerbang SMA Tunas Bangsa. Sepertinya
dirinya sedang menunggu seseorang. Padahal jam yang bertengger di tangan sang
gadis masih menunjukkan pukul 06.20. jadi masih terlalu pagi jika dirinya sudah
stand bye di sekolah dan bertengger di gerbang sekolah seperti menunggu
seseorang yang sangat berarti buat dirinya.
Pada
saat dirinya masih asyik mengedarkan pandanganya ke penjuru sekolah. Dirinya di
kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya. Membuat sang gadis
langsung melihat siapa orang yang sudah mengganggunya.
“Kak Cakka, Agni. Ngagetin.”
Pekik sang gadis reflek.
“Sorry yah Ashilla Zahrantiara.
Lagian loe ngapain berdiri di sini di pagi buta. Kaya orang ilang ajah.” Ucap
sesosok cowok tomboy yang bernama Agni itu.
“Yeee, sembarangan ajah kalo
ngomong. Gue lagi nungguin kak …………” Shilla dengan reflek menutup mulutnya
menggunakan tanganya. (‘Hampir ajah. gengsi dong, kalo mereka tahu gue berdiri
di sini dari tadi nungguin kak Rio. Huft.’ Batin Shilla.)
“Kak siapa hayooo. Nungguin kak
Rio yah.” Tebak Agni seraya menahan tawa melihat wajah sahabatnya yang merona
merah karena malu.
“Apaan sih. Gue lagi nungguin kak
Gabriel tahu. mau ngomong penting.” Sangkal Shilla.
“juju rajah lah Shill. Lagian gue
kesini mau ngasih tahu loe tentang keadaan Rio. Kalo loe emang gak berniat
nyari dia yaudah. Gue gak jadi ngasih tahu.” Ucap Cakka memancing Shilla supaya
jujur.
“Eh kak. Emang kenapa sama kak
Rio ??? Dia baik-baik aja kan ???” Tanya Shilla khawatir.
“Hahaha. Ketahuan kan sekarang
kalo loe emang lagi nungguin Rio. Mau tahu gak tentang Rio ???” Tanya Cakka
memancing Shilla lagi.
“Mau dong kak. Gimana keadaan kak
Rio ??? Cepetan dong kak kasih tahunya.” Ucap Shilla kesal.
“Iyah iyah. Segitunya perhatian loe
ke Rio. Dia sakit Shilla. Gara-gara kemarin kehujanan lama banget. demam
gituh.” Terang cakka dan langsung membuat Shilla terpekik kaget.
“Serius loe kak ???” Tanya Shilla
dan membuat pasangan muda mudi di hadapannya mengangguk kompak.
“Iya serius Shilla. Ngapain gue
sama kak Cakka bohongin loe.” Timpal Agni.
“Yaudah thanks yah.” Ucap Shilla
seraya beranjak dari gerbang sekolah. Tetapi Agni dengan cepat menahan langkah
Shilla yang ingin keluar dari gerbang sekolah.
“Mau kemana ???” Tanya Agni. “mau
ke rumah kak Rio lah. gara-gara gue dia sakit kaya gitu.” Jawab Shilla. “Eh,
bentar lagi mau ulangan Fisika. Loe lupa ??? Pulang sekolah ajah jenguk kak
Rio’nya. Lagian loe kaya khawatir banget sih. Tenang ajah lagi. Kak Rio itu
Cuma demam. Gak parah Shilla.” Cerocos Agni.
“Iya deh. yaudah kekelas yuk.”
Ucap Shilla seraya menarik tangan Agni meninggalkan Cakka.
“Gila. Gue ditinggalin. Parah
banget sih tuh cewe-cewe. Ninggalin gue sendirian disini. Ke kelas ajah deh.
rese semuanya.” Gerutu Cakka seraya menuju ke kelasnya.
nah ituh dia kelanjutannya :D
gimana gimana ??? keren gak ???
pasti gak keren, ya kan ???
maklum guys, makin hari saya makin gaje makanya nulisnya juga ikut gaje :D
tinggalin jejak yah, Like and comment'nya saya tunggu ;)