jangan pernah bosen yah guys buat berkaunjung ke blog saya ;) .
Happy read for this story :D
Hari
sudah mulai semakin gelap. Matahari pun siap untuk kembali menyembunyikan
tubuhnya. Tetapi pasangan yang satu ini tidak beranjak juga dari tempatnya.
Entah apa yang mereka bahas. Mereka masih saja diam memandang pemandangan di
hadapannya. Langit yang mulai berubah jadi orange ke kuning-kuningan,
mengakibatkan pemandangan di hadapannya.
2 sejoli ini menikmati masa-masa
indahnya bersama sore ini. Di pantai dekat kompleks mereka menghabiskan waktu
bersama. Sang gadis menyenderkan tubuhnya di bahu sang pria tampan ini.
Sedangkan pria itu melingkarkan tangannya di pinggang sang gadis.
“Indah
banget yahh kak, aku pengin lihat ini terus sama kakak.” Ujar gadis ini semakin
mempererat tubuhnya untuk mendekat ke tubuh kekasihnya itu.
“Iya
Sivia sayang. Aku juga pengin banget sama kamu terus. Aku janji gak akan
ninggalin kamu sayang. Aku terlalu cinta sama kamu. Kamu juga harus janji sama
aku.” Ujar sang pria seraya menengadahkan kepalanya agar bisa menatap gadisnya
itu.
“Iya aku
janji my prince. Aku sayang sama kamu ka’ Alvin Jonathan Sindunata.”
“Aku
juga sayang sama kamu Sivia Azizah.”
“I love you.
I always love you. Now, tomorrow and ever J.”
“Aku
juga. I love you too my prince.” Ujar Sivia seraya memeluk kekasihnya itu.
SKIP !!!
Di sebuah rumah mewah dan megah
terlihat seorang gadis yang sedang bermain basket di lapangan depan rumah.
Tetapi ada yang berbeda dengan permainan gadis ini, gadis ini bermain secara
asal-asalan tidak seperti biasanya yang selalu keren dalam bermain.
“Arggghhhh
(mengacak rambutnya sendiri). Gue benci banget sama loe Cakka, sungpahh yahh
loe tuh nyebelin banget jadi cowok. Loe gak tahu apa-apa tentang gue, jadi loe
gak berhak menilai gue kaya gitu. GUE BENCI LOE CAKKA.” Teriak gadis itu
“Agni.”
Akibat
panggilan itu. Otomatis gadis ini membalikan tubuhnya melihat siapa yang
datang.
“Loe,
ngapain ke rumah gue kak. Gak ngabarin dulu lagi.” Ujar gadis itu yang bernama
Agni
“Hehehe
(mendekat ke arah Agni). Gue kan mau buat surprise for you. Kenapa nie. Muka
loe kasihan bener ag, lagi ada masalah yah J.” Ucap pria yang datang itu
“gak ada
apa-apa kok. Gue Cuma lagi pengin main basket ajah. Pengin main bareng gue gak.
One by one. Mau ???” Tawar Agni
“Palingan
juga loe yang kalah. Secara kan gue kapten basket (menaikkan kerah bajunya).
Shion dilawan.”
“Huhuhu,
bisanya Cuma sombong doang loe kak. Coba sini lawan gue.” Tantang Agni
“Ok.
Siapa takut. Kalo gue menang dapet apa nie.” Ucap Shion jail
“Dapet
apa yahh. Yahh jangan ada kaya gituan deh kak. Ntar kalo gue kalah gimana.”
Ujar Agni pesimis.
“Masa
udah pesimis gituh. Biasanya juga loe yang nantangin gue. Ada apain sihh. Mau
cerita gak.”
“Gak ada
apa-apa kok. Oyah sebelum kita tanding gue mau Tanya dong.”
“Tanya
apa ???” Tanya Shion
“Tujuan
loe kesini mau ngapain kak. Mau ketemu sama gue, atau Keke. Atau loe mau ketemu
sama bokap nyokap gue.”
“Mau
ketemu loe lakh. Ngapain juga gue ketemu sama Bonyok loe. Gak ada di rumah juga
kan ??? gue juga tahu kalau Keke lagi belajar kelompok di rumah Acha. Sekarang
loe di rumah sendirian kan ???”
“Hmmm,
nasib benget gue yah kak. Sendirian mulu di rumah. Untung loe datang. Jadi kan
gue ada temen.” Gumam Agni lirih
“Udah
dong. Sahabat gue sejak kapan murung gini. Semangat dong Ag, yaudah kita
tanding basket ajah yuk, kalau loe menang loe boleh minta apa ajah ke gue dehh.
Kalau gue menang loe harus masakkin makanan buat gue.”
“Ogah.
Gue gak bisa masak kak. Loe mau ngehina gue nie ceritanya.” Ucap Agni manyun
“Hahaha J. Bercanda lagi non, Hmmm, loe
harus mau nemenin gue jalan hari ini. Full.” Tantang Shion
“Ok,
kalau itu gak masalah. Yaudah yuk.”
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Bingung. Itulah yang dirasakan oleh
gadis cantik ini. Sedari tadi dia hanya melakukan hal-hal yang tidak jelas. Berkali-kali
juga dia melempar BB’nya ke kasur. Sebagai pelampiasan kebingungan dia, guling
juga jadi sasarannya.
“Gue
bingung banget nie. Gue telepon kak Rio gak yah. Udah mepet banget waktunya.
Kak Rio juga sihh yang salah. Dia gak pernah ngajakkin gue belajar bareng. Tapi
emang gue sihh yang butuh. Gue telepon gak yahh.” Celoteh gadis ini sendiri
seraya berjalan bolak-balik di kamarnya
Setelah beberapa menit dalam posisi
seperti itu akhirnya gadis ini mempunyai kesimpulannya. Dia mengambil BB’nya
yang telah di lempar sebelumnya ke kasur setelah itu membuka contact dan
mencari nama seseorang setelah itu menekan tombol hijau
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Di tempat lain. Seorang pria sedang
membaca buku di balkon kamarnya seraya bersender ke dinding tembok. BB’nya ia
taruh di atas meja belajarnya.
Beberapa saat kemudian lagu One Time
dari Justin Bieber terdengar nyaring. Panggilan masuk terlihat dari layar
BB’nya. Tetapi pria ini tetap tidak bergeming. Pria ini tetap asyik membaca
buku.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Gadis ini sedari tadi terus terusan
bersungut sungut seraya menggenggam BB’nya yang terpasang di telingannya.
“Ihhhh
kak Rio, angkat dong teleponya. Pasti nie anak lagi baca buku dehh, ahhh kak
Rio, angkat buruan.” Celoteh gadis ini kesal
“Gue ke
rumahnya ajah dehh. Sekalian belajar ajah. Nie kan hari minggu.” Tekad gadis
ini seraya mematikan sambungan teleponya.
Kemudian mengambil sweater’nya dan
mengambil kunci mobil seraya turun ke bawah dan menuju ke garasi mobil setelah
itu memasuki mobil dan CABUT J.
SKIP !!!
Gadis ini sampai di sebuah rumah di
daerah kompleks yang sangat asri dengan perpaduan warna putih dengan kuning
menjadikan rumah ini bertambah asri. Berbagai macam tumbuhan berdiri kokoh (?)
di samping pagar. Gadis ini langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah itu
dan turun.
“(menekan
bel). Permisi. Permisi.” Teriak gadis ini
Beberapa
saat kemudian pintu terbuka dan terlihat wanita paruh baya di balik pintu.
“Iya non,
cari siapa yah.” Tanya wanita paruh baya itu.
“Maaf
Bi, saya mencari Rio bi, Mario’nya ada ???” Tanya gadis ini
“Ada
non, non ini siapa yahh. Ada keperluan apa yah datang kemari ???” Tanya Bibi
“Hmm
nama saya Shilla bi, saya mau belajar bersama dengan dia. Bisa di panggilkan
bi.”
“Bisa
non, silahkan masuk dulu. Bibi panggilkan den Rio’nya dulu.”
“Iya bi,
terima kasih.” Ucap Shilla seraya duduk di sofa ruang tamu
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Di lain tempat. Di sebuah mall yang
sangat megah dan besar yang bernama Dinasty mall. Terlihat sepasang muda mudi
yang sedang berjalan-jalan.terlihat gadisnya itu merangkul lengan pria itu.
Mereka berkeliling mall sudah 4 jam. Terlihat raut wajah kesal yang terpancar
di wajah sang pria.
“Istirahat
dulu yukk. Capek banget nie.” Ujar sang pria
“Adduhhh
Cakka, jangan istirahat dong. Aku pengin beli barang-barang lagi. Katanya aku
boleh beli apa ajah. Terus yang bayarin kamu. Masa udah istirahat sihh. Aku kan
belum beli Tas, Sepatu, Baju, Celana, Aksesoris. Gimana sihh.” Celoteh gadis
ini. Aren.
“Diem
bisa gak, gue tuhh udah capek. Loe mau meras gue yah. Gila apa barang-barang
itu semuanya mau loe beli. Beli aja sendiri. Gue mau pulang. Duit gue udah
abiss.” Bentak pria itu yang bernama Cakka seraya pergi meninggalkan gadis itu.
“Cak,
yahh kok pergi sihh.” Ucap gadis itu manja seraya merangkul lengan Cakka
“Lepas
nona Aren, gue mau pulang. Mulai sekarang kita gak ada hubungan apa-apa lagi.
Gue sama loe END. Gue mutusin loe hari ini juga. Ngerti loe.” Bentak Cakka
seraya pergi meninggalkan gadis itu
“Cak gue
gak terima loe mutusin gue. Lihat aja nanti. Gue itu emang gak butuh loe. Tapi gue
butuh semua duit loe. Pokoknya sebelum gue beli barang-barang itu dari loe gue
gak akan menyerah buat dapetin loe.” Gumam Gadis itu seraya tersenyum licik
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Terlihat seorang pria sedang
menuruni tangga dan memasang muka datar. Sedangkan sang gadis mengembangkan
senyumnya seraya melihat pria itu turun. Akhirnya orang yang sedari tadi di
nantinya muncul juga. Itulah yang ada di benak sang gadis.
“Ngapain
sihh loe kesini.” Tanya pria itu datar
“Mmm,
mau belajar bareng kak, maafin gue. Gue gak bilang dulu sama loe. Tapi gue
kesini Cuma mau minta loe ngajarin gue buat prepare test nanti kak.” Ujar gadis
itu ragu
“Oh
gituh. (menghampiri sang gadis). Yaudah lahh. Ini juga perintah Kepsek kan. Dan
tugas gue juga buat ngajarin loe buat prepare test. Bentar yahh, gue ambilin
minum dulu buat loe.” Ucap pria itu seraya pergi menuju dapur
Beberapa menit kemudian pria ini
kembali dengan membawa es jeruk 2 dengan beberapa cemilan kemudian meletakkan
di depan mereka (meja). Kemudian pria itu duduk tepat di sebelah sang gadis.
“Minum
dulu tuhh.” Suruh pria itu datar
“Makasih
kak (mengambil minumannya dan meminumnya). Mmm, sepi sihh kak. Pada kemana ???”
Tanya gadis ini basa basi.
“Apa
urusan loe. Gak ada sangkut pautnya sama loe dehh perasaan.”
“Maaf
kak Rio, bukannya gituh. Aku kan Cuma Tanya kalau gak di jawab juga gapapa
sihh.”
“Bokap
Nyokap gue lagi ke luar kota. Adek gue lagi main di rumah temen.” Jawab Rio
datar
“Oh
gituh.”
“Yaudah
mulai, ngapain loe bengong gitu. tambah jelek aja loe.”
“Eh iya
iya.”
Kemudian mereka berdua memulai
belajar bersama. Sesekali sang pria memberi pertanyaan kepada gadis itu seusai
menerangkan. Sedangkan sang gadis dengan patuh menuruti apa yang di suruh oleh
ketua osis SMA Tunas Bangsa itu.
SKIP !!!
Pagi yang cerah. Matahari telah
menampakan dirinya. SMA Tunas Bangsa telah dipenuhi siswa siswi yang baru
datang untuk melaksanakan tugas mereka sebagai siswa.
Terlihat 4 pria tampan yang sedang
berjalan memasuki sekolahnya setelah mereka berhasil memarkirkan motor ninja
mereka di parkiran. Semua siswi terpana melihat 4 pria paling tampan di
sekolahnya. Mereka bukan hanya tampan tapi juga memiliki prestasi akademik maupun
non akademik.
Mereka berjalan memasuki kelas
mereka yaitu XI IPA 2. Sedangkan para gadis dengan hebohnya meneriakan nama
mereka ketika mereka berjalan di hadapannya. Berbeda dengan 4 gadis yang sedang
asyik memakan pesanan mereka di kantin. Keempat gadis ini terlihat seperti
biasa saja.
“Gila,
kurang kerjaan banget sih teriak-teriak pagi-pagi.” Ucap gadis berambut panjang
seraya memasukan sesuap nasi goring ke dalam mulutnya.
“Addduhhhh
Shilla. Please deh. Bukanya gue udah pernah cerita yah tentang mereka.” Ujar
gadis chubby
“Cowo
gue makin lama makin banyak aja fans’nya. Jadi takut tersingkir nie gue.” Keluh
gadis berbehel seraya meminum Es The Manis yang di pesannya.
“Please
deh fy, gak usah lebay. Mereka kan bisanya Cuma tebar pesona doang. Loe marahin
aja cowo loe supaya gak sering tebar pesona.” Ketus gadis tomboy.
“Siapa
yang lebay Agnii. Gue ngomong nyata lagi. Cowo gue tuh gak pernah tebar pesona.
Mereka nya aja yang kecentilan banget.” Bela gadis berbehel.
“Ekh,
udah udah. Ngapain kalian ributin mereka sih. Aneh-aneh aja deh.” Lerai Shilla
“Gitu-gitu
my prince tahu salah satu di antara mereka J.” Bangga Sivia
“He’empt.
Oya Shill, kemarin loe minta di ajarin sama kak Rio yah.” Ujar Ify kepada
Shilla.
“Iyah.
Bener-bener sabar banget gue. Huft, ada gitu orang yang sedingin dia.” Keluh
Shilla
“Itu
karena faktor tertentu tahu Shill. Gue yakin kok, loe yang bakal ngerubah dia
kaya dulu lagi.” Yakin Agni seraya memakan makanannya.
“Emang
dia dulu kaya gimana ???” Tanya Shilla.
“Anaknya
rame, suka bercanda, jail lagi dan dia ramah sama semua orang gak sedingin
sekarang.” Jawab Sivia mendiskripsikan Rio dulu
“Iya
Shill, dia juga anaknya gak se jaim sekarang. Dan loe pasti bisa ngerubah dia.
Gue juga yakin kok, just you yang bisa bikin kak Rio kaya dulu lagi.” Ucap Ify
“Kok gue
??? Apa hubungannya sama gue ??? Yakin banget loe bertiga. Kalo dia ketemu gue
aja penginya marah mulu.” Ketus Shilla.
“Santai
aja non ngomongnya. Suatu saat nanti loe bakal tahu. Masuk Yuk, udah mau bel
masuk nie.” Ucap Agni seraya beranjak dari duduknya. Diikuti yang lain.
Kemudian mereka masuk ke kelas mereka yaitu kelas X.1.
SKIP !!!
Pelajaran Fisika di kelas X.1
membuat semua murid pusing setengah mati. Apalagi banyak rumus yang harus
mereka hafalkan. Guru yang mengajar mereka juga sangat Killer menurut pandangan
mereka. 1 kesalahan yang di perbuat oleh murid akan dapat hukuman 2 x lipat
dari kesalahan itu.
Semua murid memilih untuk sibuk
dengan kegiatanya masing-masing daripada harus memahami apa yang di ajarkan
oleh guru Killer di depan mereka yang sedang sibuk menulis itu. Kemudian.
“Ok
anak-anak. Ini ada 1 soal yang harus kalian selesaikan. Dan pak guru akan
meminta salah satu di antara kalian untuk mengejarkan soal ini. SHILLA, kamu
maju untuk mengejarkan soal ini.” Ucap Pak Roy seraya menujuk Shilla yang
sedang asyik menggambar di buku tulisnya itu.
“Ah eh,
iya pak.” Ucap Shilla gugup.
“Cepat
kerjakan. Maju kamu.” Perintah Pak Roy.
Mau tidak mau gadis ini maju untuk
mengerjakan soal yang di berikan guru Killer itu. Dengan langkah gontai gadis
ini berjalan akhirnya sampai di hadapan Pak Roy. Mengambil sepidol dan memulai
mengerjakan soal itu.
“Mengapa
kamu diam saja. Cepat kerjakan.” Perintah Pak Roy
“Maaf
pak. Tadi saya tidak mendengarkan apa yang bapak ajarkan. Jadi saya tidak bisa
mengerjakan soal ini.” Ucap Shilla menunduk.
“Kamu
itu anak baru disini. Berani sekali kamu tidak mendengarkan ajaran saya. Kamu
tahu, pelajaran ini itu sangat penting untuk masa depan kamu. Malah kamu tidak
mendengarkan apa yang saya ajarkan. Jagan ikut-ikutan teman-teman kamu yang
lain. Bla ….. Bla ...... Bla.” Celoteh Pak Roy. Sedangkan para murid memilih
untuk tidak mendengarkan celotehan Pak Roy.
“Sekarang
kamu bersihkan Kamar mandi putri sekarang. Cepat.” Suruh Pak Roy kepada Shilla
“I iiya
pak.” Ucap Shilla seraya berlari keluar kelas dan menuju ke kamar mandi putri.
SKIP !!!
Seorang gadis cantik sedang mengepel
lantai kamar mandi putrid dan membersihkan lantai kamar mandi itu. Sungguh
malang nasib gadis cantik ini.
“Huft,
bau banget lagi. Gila apa gue di suruh ngerjain tugas kaya gini. Pak Roy kurang
kerjaan banget sih nyuruh gue ngepel lantai sama bersihin kamar mandi kaya
gini. Baru juga masuk ke sekolah ini, udah dapet hukuman berat kaya gini … Bla
… Bla …. Bla.” Celoteh gadis ini sendiri.
“Loe
yang kurang kerjaan. Ngomong sendiri. Di kamar mandi lagi. Kaya orang gila
loe.” Ucap seorang pria yang sedang membaca buku seraya menyenderkan tubuhnya
di tembok.
“Kak
Rio. Ngapain loe di situ.” Tanya Shilla bingung.
“Terserah
gue dong. Ini tempat umum kan ??? Justru gue yang mau bilang sama loe. Jadi
anak baru itu yang sopan dikit sama guru. Ngapain loe jelek-jelekin Pak Roy.
Loe’nya aja yang salah.”
“Heh,
kenapa loe yang sewot sih. Terserah gue dong. Mau di hukum kek mau di kasih
hadiah kek. Itu urusan gue. Suka-suka gue dong.” Balas Shilla gak kalah nyolot
“Loe
jadi cewe gak ada sopan-sopannya banget sih. Biasa aja dong. Pantesan aja loe
pindah ke sini. Pasti sekolah loe yang dulu ngusir loe yah. Makannya loe pindah
ke sini.”
“Heh,
sembarangan aja loe bilang. Gue di usir ??? Gue tuh pindah karena bokap gue ada
kerjaan disini. Makannya gue pindah. Enak aja gue di usir.” Ketus Shilla yang
tidak terima dengan kata-kata pria itu seraya menaruh kedua tangan di
pinggangnya.
“Masa.
Bukannya di usir ???”
“Ihhh,
loe tuh nyebelin banget sih jadi cowo. Bisa-bisanya loe jadi ketua osis.
Songong gitu. kalo misalkan gak ada test itu juga gue gak akan minta tolong
sama loe.”
“Yaudah,
mulai sekarang loe gak boleh minta bantuan sama loe lagi. Ini permintaan loe
sendiri. Dasar cewe gila. Kerjain tuh yang bersih. Jangan ada yang kotor.”
Suruh Rio seenaknya.
“Oh
tentu dong. Kamar mandi ini bakalan BERSIH. Dan mulai sekarang gue gak akan
minta bantuan sama loe lagi. Tenang aja. Gue gak akan ngomong sama Bu Kepsek.
Dan makasih udah ngajarin gue kemarin.” Nyolot Shilla seraya masuk kamar mandi
membawa ember dan alat pel lainnya.
“Huft.
Akhirnya gue bebas juga dari nenek sihir itu. Males banget harus ngajarin cewe
kaya gitu. kurang kerjaan banget.” Gumam Rio seraya berjalan meninggalkan kamar
mandi.
SKIP !!!
Beberapa hari kemudian. Gadis ini
masih setia dengan buku-bukunya. Selama beberapa hari ini gadis ini bekerja
keras untuk bisa mengerjakan Test nanti. Gadis ini selalu belajar dan belajar
agar bisa lulus Test dan menjadi siswa SMA Tunas Bangsa tanpa ada orang yang
membantu. Dan besok pagi gadis ini harus sudah siap untuk melaksanakan test
dari Sekolah.
Pagi ini adalah hari terakhir gadis
ini belajar. Karena, keesokan harinya gadis ini harus melaksanakan Test itu. Di
perpustakaan gadis ini sedang belajar sekarang. Setelah bel masuk berbunyi
gadis ini menata bukunya dan bersiap untuk masuk kelas.
“Tuh
anak belagu banget sih. Pake belajar sendiri lagi. Kita liat aja nanti. Apa loe
bisa ngerjain soal Test nanti.” Gumam seorang pria seraya melanjutkan
membacanya yang sempat tertunda tadi.
SKIP !!!
Pagi yang cerah membuat semangat
para murid SMA Tunas Bangsa. Semua murid dengan santainya memasukin sekolah
mereka. Berbeda dengan gadis cantik ini. Gadis ini dengan langkah ragu memasuki
sekolahnya. Dan melangkah menuju kelasnya.
Terlihat sahabatnya yang sedang
menunggu dirinya di depan kelas.
“Shill,
loe udah siap belum buat ngikutin test hari ini.” Ucap Ify
“Siap
gak siap gue harus bisa. Doain yah guys. Semoga gue bisa ngerjain tu soal
dengan mudah.”
“Amiiinnn.
Loe harus yakin Shill. Gue juga yakin kok kalau loe bisa ngerjain tuh soal
dengan mudah. Semangat !!!” Ucap Agni menyemangati disertai anggukan Sivia
“Iyah J. Thanks yah guys. Kalian emang
sahabat gue yang paling baik.” Ucap Shilla memeluk sahabatnya itu.
“Iyah
sama sama Shilla.” Ucap Sahabatnya kompak.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Bro,
hari ini Shilla test kan ??? tanggung jawab loe gimana tuh bro.” Ucap Alvin
seraya menyenderkan tubuhnya di tembok. Sekarang sedang berada di ruang osis
bersama sahabatnya itu.
“Hahaha J. Loe ngebiarin dia belajar
sendiri ??? Parah loe.” Kata Cakka mengutak atik laptopnya.
“Iya
lah. dia sendiri yang minta gue buat gak ngajarin dia kok. Bukan salah gue
dong. Belagu banget sich tuh anak. Gue pengin lihat kemampuan dia itu
seberapa.” Ucap Rio, matanya gak lepas dari buku yang di bacanya.
“Gak
berubah ternyata sifat loe bro, yaudah gue mau ke perpus dulu. Mau pinjem buku.
Ada yang mau ikut ???” Ucap Cakka
“Gue
Cak, sekalian mau ngembaliin buku.” Jawab Gabriel.
“Yaudah
Yuk, bro gue pergi dulu yah.” Pamit Cakka dan Gabriel
Setelah itu Cakka dan Gabriel pergi
meninggalkan ruang osis. Sedangkan Alvin masih sibuk dengan BB’nya dan ketua
osis SMA Tunas Bangsa masih sibuk dengan buku yang lagi dibacanya.
“Bro,
loe gak bosen apa (menyimpan BB’nya di saku celananya). Setiap hari kerjaan loe
baca bukuuuu mulu. Have fun dong bro.” Ucap Alvin menghampiri Rio
“Gue
Have fun kok. Dengan baca buku kaya gini kita lebih banyak wawasan.” Ucap Rio
seenaknya
“Wawasan
wawasan. Justru itu yang bikin loe itu gak gaul bro. sekali-sekali nyari cewe
gitu. Noh, fans loe pada klepek-klepek sama loe. Tinggal tembak ntar juga
mereka terima bro.”
“Seenaknya
aja loe ngomong, gue itu masih belum bisa nemuin cewe kaya Sylvia. Dia itu cewe
special di hati gue setelah nyokap gue. Dan gue belum bisa nemuin cewe yang
bisa bikin gue tenang dan bisa bikin gue merasa nyaman ada di deketnya setelah
Sylvia pergi ninggalin gue Vin.” Terang Rio sedih
“Ckckck,
loe masih mikirin dia??? Lupain aja bro, dia udah tenang di alam sana. Dan gue
yakin banget dia pasti lagi sedih ngelihat loe yang putus semangat gini bro.
gue yakin, sebenernya Sylvia pengin banget ngelihat loe jadian sama cewe lain.
Dan gak terus-terusan trauma kaya gini.” Ucap Alvin
“Alvin,
loe jangan seenaknya ngomong gitu deh. Gue masih belum mau nyari cewe. Loe
ngerti gak. Sekalipun ada cewe yang ngemis-ngemis cinta sama gue. Gue gak
bakalan terima. Gue bakalan nyari cewe baru kalau gue nemuin cewe yang bikin
gue nyaman.” Terang Rio seraya duduk di depan Alvin
“Ok, gue
harap loe secepatnya nyari cewe.”
“Hempt.”
Jawab Rio sekenanya.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Bro,
gue balik ke kelas yah. Mau ngerjain sesuatu.” Ucap Gabriel setelah berhasil
mengembalikan buku perpus.
“Ya udah
deh. Terserah loe aja.” Ucap Cakka seraya memilih buku yang akan dia pinjam.
“Ok Bro,
gue cabut.” Pamit Gabriel seraya pergi meninggalkan Cakka yang sedang
sibuk-sibuknya memilih buku.
“Iyah,
mana sih bukunya, dari tadi gue cariin gak ada. Padahal kemarin gue lihat tuh
buku ada disini, kenapa sekarang malah gak ada yah.” Ucap Cakka
Setelah beberapa menit memutar
perpustakaan akhirnya Cakka menemukan bukunya. Tetapi pada saat Cakka mau
mengambil bukunya ada tangan lain yang mendahului mengambil buku itu. Sehingga
tangan Cakka seperti sedang memegang tangan seseorang yang mendahului mengambil
buku.
Setelah tahu siapa yang mengambil
buku itu, Cakka segera menarik tangannya yang sedang memegang tangan itu. Dan
Cakka menggaruk rambut belakang kepalannya yang sama sekali tidak gatal.
“Eh itu
buku gue, gue dulu yang nemuin.” Ucap Cakka nyolot.
“Enak
ajah. Ini buku yang ngambil gue duluan, dasar cowo playboy, ngapain loe tadi
megang-megang tangan gue.” Ketus orang yang mengambil buku itu.
“Enak
ajah loe ngatain gue cowo playboy. Mending gue normal masih suka sama cowo nah
loe. Cewe bukan cowo bukan, ribet idup loe. Nama loe ajah kaya cowo gitu. Agni
Tri Wati. Hahaha J.”
“(menatap
Cakka tajam). Iyah, gue itu emang gak jelas, gue bukan cewe maupun Cowo, dan 1
lagi. Nama gue itu emang kaya cowo. Tapi 1 yang harus loe inget nama gue itu
Agni Tri Nubuwati bukan Agni Tri Wati, ngerti loe. Nih bukunya. Gue udah gak
butuh.” Ketus Agni seraya menyerahkan bukunya dan berjalan meninggalkan Cakka.
“Ag
tunggu (memegang lengan Agni). Ok, gue ngerti kalau gue udah keterlaluan, gue
minta maaf.” Ucap Cakka lirih dengan nada penuh penyesalan.
“Cowo
playboy kaya loe minta maaf ??? Gak usah main-main sama gue. Gue itu bukan
orang yang mudah loe kibulin kaya cewe-cewe loe yang lain.” Ucap Agni Tajam
seraya berjalan cepat.
“Gue itu
emang playboy Ag, tapi loe harus tahu, gue nglakuin kaya gini supaya loe juga
bales perbuatan gue, jadi setiap hari gue bisa lihat loe dan bertengkar sama
loe. Entah kenapa gue itu nyaman kalo ada di deket loe ag.” Gumam Cakka seraya
menaruh bukunya dan berjalan keluar Perpus.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Terlihat seorang gadis yang sedang
seius membaca buku di taman sekolah. Prepare buat test nanti. Gadis ini tidak
henti-hentinya membaca buku dan memahami materi yang ada.
“Pusing
banget kepala gue, huft. Loe harus bisa Shil, semangat.” Gumam Shilla
menyemangati dirinya sendiri.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk
di samping gadis yang sedang membaca buku ini. Otomatis gadis ini menengok ke
arah orang yang duduk di sebelahnya. Kemudian keningnya mengerit tanda dia
bingung dengan pria yang sedang duduk di sebelahnya.
“Hay,
gue boleh duduk disini kan ???” Tanya pria itu.
“Iya,
Hmm, loe siapa ???” Tanya gadis ini ragu
“Gue
Riko, anak kelas XI IPA 4. Loe Shilla kan ??? Anak baru di kelas X.1 ???” Ucap
pria yang bernama Riko itu memastikan.
“Iya
kak.” Jawab Shilla singkat.
“Oh.
Lagi ngapain sih. Sibuk banget kayaknya.” Tanya Riko
“Lagi
belajar kak, buat prepare test nanti. Kakak sendiri ngapain disini ???” Tanya
Shilla
“Hmm
iseng aja sih. Lagi belajar yah. Bukanya loe di tolongin sama ketua osis yang
sok itu.”
“Kok
kakak ngomong gitu. Namanya kak Rio. Kenapa kakak bilang kalo kak Rio itu sok.”
“Ya
iyalah. Siapa juga yang suka sama sikapnya yang sok itu. Sok kegantengan, sok
pinter, sok segalanya deh pokoknya. Loe juga sependapat sama gue kan ???”
“Hmm,
gatau. Gue kan baru disini. Jadi gue gak tahu sifat semua orang yang ada disini
kak.”
“Iya
juga sih. Suatu saat nanti loe juga bakalan setuju sama kata-kata gue tadi.”
Setelah itu mereka berdua belajar
bersama di selingin dengan canda tawa. Tetapi dibalik keceriaan mereak ada
seorang pria yang sedang melihat adegan mereka dengan membawa buku.
“Kenapa
nie perasaan gue. Ck, jangan sampai gue suka sama tuh cewe. Akh, kenapa gue gak
suka yah tuh cewe deket-deket sama cowo lain. Apaan sih gue.” Gumam Rio seraya
melanjutkan jalannya.
SKIP !!!
Bel pulang sekolah sudah terdengar
sangat nyaring. Siswa-siswi SMA Tunas Bangsa berhamburan keluar kelas dan
bersiap untuk menuju ke rumah masing-masing. Berbeda dengan keempat gadis
cantik yang masih berada di bangku kelas mereka.
“Shill,
kita temenin loe buat nglaksanain test’nya yah.” Pinta Sivia
“Gausah
guys. Gue juga tahu kok, loe berdua udah di tungguin sama cowo loe
masing-masing. Dan Agni gue juga tahu kalo loe punya janji sama kak Shion.”
Jawab Shilla seraya memasukkan buku ke dalam tas.
“Gue
bisa batalin janji gue Shill.” Jawab Agni
“Gue
juga bisa pulang naik taksi kok Shill. Kita temenin yah. Gue gak mau loe
ngadepin test’nya sendiri. Sahabat macam apa kita, masa sahabat sendiri lagi
kesusahan kita malah tega ninggalin.” Ucap Ify
“Adduuhh
Ify, santai aja lagi. Makasih juga karena kalian mau berkorban demi gue. Tapi
gue yakin gue bisa ngadepin test itu sendiri. Doain gue aja yang penting.” Ucap
Shilla tersenyum manis.
“Serius
Shill, loe yakin ??? Tenang aja Shill, gue pasti doain loe supaya lancar.” Ucap
Agni menyemangati seraya merangkul Shilla.
“Yaudah
Shill, gue duluan yah. Semangat, gue yakin loe pasti bisa.” Ucap Ify senyum
manis
“Iyah,
gue yakin. Semangat yah. Hubungi kita kalo test’nya udah kelar. Ok.” Ucap
Sivia.
“Sippt,
hati hati yah guys.” Teriak Shilla setelah sahabatnya berjalan meninggalkan
dirinya di kelas. kemudian Shilla melangkah menuju ke ruang Osis dimana test
akan berlangsung.
YYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Yo, gue
duluan yah. Gapapa kan kalo loe sendirian yang ngurus test nanti ???” Tanya
Alvin memastikan
“Iya
Bro, kalo loe keberatan kita bisa nemenin loe kok.” Lanjut Cakka
“Tenang
aja bro, gapapa kok. Santai aja lagi. Ini kan emang tugas gue. Loe semua pulang
aja. Gue bisa ngurusin sendiri.” Jawab Rio seraya membereskan paper yang sempat
berantakan
“Ok. Deh
bro. gue cabut yah. Cewe gue udah nungguin nie. Bye.” Pamit Gabriel seraya
pergi diikuti Alvin dan Cakka.
Baru beberapa menit setelah
kepergian sahabatnya itu, ada seseorang yang mengetuk pintunya. Otomatis ketua
osis ini berteriak menyebutkan kata ‘MASUK’. Setelah itu seorang gadis membuka
pintunya dan berjalan menghampiri ketua osis ini yang masih sibuk membereskan
paper’nya.
“Kak.”
Gumam gadis itu.
“Loe ???
Ah eh, loe mau test kan ???” Tanya Rio gugup.
“Iyah.”
Jawab Shilla singkat dan lemas.
“Yaudah
loe duduk di situ (menunjuk kursi di hadapannya). Tunggu Bu.Ira, Bu Maya sama
Pak Duta bentar lagi.”
“Makasih.”
Lirih Shilla seraya duduk dan menaruh tas’nya di meja sebelahnya.
Beberapa saat kemudian ada yang
mengetuk pintunya dan langsung membuka pintunya seraya masuk dan menutup
pintunya. Bu Maya terlihat membawa soal dan kertas jawaban yang akan di isi
oleh Shilla nanti. Setelah itu mereka duduk tepat di hadapan Shilla, sementara
Rio berdiri di sebelah Shilla.
“Ok,
Bisa di mulai sekarang Shilla.” Tanya Bu.Ira
“Bisa
bu.”
“Bagus,
materi yang kalian dapatkan udah banyak kan ??? Dengan dibantu sama Rio. Ibu
harap kamu mendapatkan nilai yang memuaskan nanti.” Ucap Bu. Maya menaruh soal
test di meja sebelah Shilla.
“Iya
Bu.”
“Baik
Shilla, kerjakan soal ini (menaruh soal test di depan meja Shilla). Waktu kamu
adalah 2 jam. Dan kamu Rio, kamu bisa keluar sekarang.” Suruh Pak Duta.
“Baik
Pak, permisi semuanya.” Pamit Rio seraya keluar dari ruang osis dan menutup
pintunya lagi.
Setelah Rio berhasil keluar dari
ruangan osis, Shilla mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh walaupun
tubuhnya terasa lemas karena waktu yang dia gunakan untuk istirahat malah dia
gunakan untuk belajar dan belajar. Sementara di depan ruang osis.
“Addduuhhh,
gue ngerasa bersalah banget sama tuh cewe. Gimana nie kalo dia gak bisa
ngerjainya, tapi gue yakin 100 % kalo misalkan dia bisa ngerjainnya. Tungguin
dia aja deh. Gue ngerasa bersalah juga sama tuh anak.” Gumam Rio seraya mondar
mandir di depan ruang osis.
SKIP !!!
2 jam kemudian. Test yang dilakukan
oleh murid baru ini telah selesai di kerjakan. Bu kepsek keluar ruangan diikuti
oleh Bu Maya dan Pak Duta. Sedangkan gadis ini memilih untuk tetap di dalam
seraya menelungkupkan wajahnya di meja.
“Akhirnya
selesai juga test’nya. Capek banget gue. Mana belum ke isi lagi nie perut.”
Keluh Shilla lirih
Kemudian terdengar derap langkah
memasuki ruang osis mendekati gadis yang sedang menelungkupkan wajahnya itu.
“Ngapain
loe masih disini. Bukannya pulang.” Suruh Rio tajam.
“Maaf
kak,” Mengambil tas dan berjalan keluar ruang osis dengan langkah gontai.
“Heh
Tunggu (memegang lengan Shilla). Ya ampun, panas banget lengan loe. Heh kenapa
loe. Loe sakit ???” Tanya Rio khawatir seraya memegang dahi Shilla.
“(menurunkan
tangan Rio dari dahinya). Gapapa kok kak, Cuma kecapekan aja kali. Gue duluan
kak.”
“Ekh
tunggu, gue anterin loe pulang.” Tawar Rio lembut.
“Gak
usah kak, gue bisa pulang naik taksi.”
“Loe gak
lihat nie udah jam berapa ??? Mana ada taksi jam segini. Udah loe gue anterin
pulang aja. Keadaan loe gak memungkinkan untuk pulang sendiri.”
“(memegang
kepalanya) Gapapa kak, gue ….”
Belum sempat gadis ini melanjutkan
kata-katanya, dia sudah Ambruk atau pingsan. Dengan sigap Rio menangkap tubuh
Shilla dengan raut wajah khawatir.
“Shil,
Shilla bangun, adduhh gimana nie, bangun Shil.” Ucap Rio dengan nada khawatir
seraya menepul pelan pipi Shilla. “Gue bawa ke UKS aja deh.” Ceplos Rio seraya
menggendong Shilla menuju UKS.
Pria tampan ini menggendong Shilla
ke UKS. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hati ketua osis ini. Entah
kenapa dia merasa sangat khawatir dengan gadis ini. Setelah itu Rio
membaringkan Shilla di ranjang yang ada di UKS.
Kemudian
dirinya beranjak keluar UKS dan menuju ke kantin dengan berlari. Setelah
berhasil membeli nasi goreng serta the hangat, pria ini kembali ke UKS dan
meletakkan makanan dan minumanya di meja di samping ranjang.
Kemudian
dirinya duduk di pinggir kasur seraya menggenggam tangan gadis itu lembut.
Entah kenapa pria ini berani melakukannya. Terasa hangat tangan gadis ini.
Beberapa saat kemudian tangan gadis ini bergerak dan matanya terbuka. Otomatis
pria tampan ini bangun dan melepaskan genggamanya.
“Loe
udah sadar.” Pekik Rio kaget seraya bangun dari pinggir tempat tidur.
“Iyah
kak (berusaha bangun dan menyenderkan dirinya ke tembok belakang). Gue kenapa
kak, ada di mana sekarang ???” Tanya Shilla bingung
“Loe ada
di UKS, tadi loe pingsan jadi gue bawa loe kesini. Nie makan dulu, gue tahu loe
pasti belum makan kan ???” Ucap Rio seraya memberikan nasi gorengnya kepada
Shilla.
“Makasih,
karena kakak udah nolongin gue. Tapi kalau kakak mau pulang juga gak papa kok.”
“Gak,
gue mau disini sampai loe merasa baikan. Sejak kapan loe gak makan ???” Tanya
Rio
“Baru
tadi pagi kok.” Jawab Shilla singkat.
“Bohong
banget loe. Udah jujur aja. Ini semua gara-gara gue kan ??? Sorry kalau gitu,
gue tahu gue salah dengan ngebiarin loe belajar sendiri, gue minta maaf, gue
sadar kalau gue salah.”
“Gak,
kakak gak salah kok. Gue yang minta kakak buat gak ngajarin gue kan ???”
“Udah.
Pokoknya gue yang salah, dan sekarang gue mau tanggung jawab. Sekarang loe
makan.” Suruh Rio lembut seraya memberikan nasi gorengnya lagi.
“Gak akh
kak, mual banget soalnya.”
“Justru
karena loe belum makan makanya mual, udah nie gue suapin, pokoknya loe harus
makan.”
“Gak
usah kak, gue bisa sendiri (merebut nasi gorengnya dari tangan Rio).”
“Yaudah.”
Ucap Rio seraya duduk di pinggir tempat tidur ngelihatin Shilla makan.
“Kak,
jangan nglihatin gue mulu napa, risih tahu.”
“Eh, iya
maaf.” Jawab Rio gugup.
Beberapa menit kemudian. Shilla
telah selesai makan dan menaruh piringnya di meja lagi. Dan Rio mengambilkan
teh hangatnya untuk di minum Shilla.
“Makasih
kak. Sekarang gue mau pulang.” Ujar Shilla lirih seraya turun dari ranjang.
“Gue
anterin yah. Badan loe masih panas nie. Ntar kalo ada apa-apa sama loe gue
tambah merasa bersalah.” Tawar Rio membantu Shilla berjalan.
“Iyah
kak, makasih.”
Rio terus membantu Shilla sampai ke
parkiran mobilnya. Kebetulan hari ini Rio membawa mobil. Jadi gadis ini tidak
merasa kedinginan di perjalanan nanti. Rio membuka pintu mobil samping dan
membantu Shilla masuk ke dalam mobil. Setelah itu dirinya memutar mobil lewat
depan mobilnya dan masuk ke dalam kursi kemudi.
“Loe
make jaket gue yah, biar loe anget badanya (melepas jaketnya dan memakaikan
jaketnya ke tubuh Shilla).”
“Makasih
kak, tapi loe gapapa ???” Ucap Shilla memastikan seraya membetulkan jaket Rio.
“Gapapa,
santai aja. Rumah loe di mana Shill ????” Tanya Rio seraya menjalankan mobilnya
“Di
kompleks perumahan Bahari no.69 (ngarang.com).” Jawab Shilla singkat.
“Ok, loe
tiduran aja. Nanti kalau udah sampe dirumah loe gue bangunin.”
“Iya
kak, makasih.”
Selama di perjalanan. Gadis ini
memang tidur, terlihat dari raut wajahnya kalau gadis ini sangat kecapekan dan
kelelahan. Perasaan bersalah lagi lagi menyelimuti hati pria tampan yang sedang
konsen untuk menyetir mobilnya. Sesekali pria ini menyingkirkan beberapa helai
rambut yang menutupi wajah cantik gadis di sampingnya. “Gue minta maaf banget
sama loe Shil, gue yang udah bikin loe kaya gini, sekali lagi gue minta maaf.”
Ucap Rio lirih seraya menatap gadis cantik di sampingnya.
Beberapa menit kemudian mobil Rio
sudah memasuki kompleks perumahan Bahari dan dengan cepat pria ini menemukan
rumah no.69. Setelah itu pria tampan ini menatap gadis di sampingnya sejenak
kemudian dirinya turun dan memasuki rumah megah itu. Kemudian menekan bel rumah
itu.
Kemudian terlihat wanita paruh baya
membukakan pintunya.
“Iya
den, ada apa yah.”
“Maaf Bi
sebelumnya. Orang tua Shilla ada di dalam bi ???” Tanya Rio sopan
“Oh,
nyonya sama tuan lagi keluar Kota den sama adik non Shilla juga, rumah ini
kosong den, Cuma ada non Shilla, tapi non Shilla’nya belum pulang.” Celoteh
wanita paruh baya itu.
“Oh
gitu. Mmm, Shilla lagi tidur di mobil saya Bi, tadi dia habis ngikutin test
jadi baru pulang sekarang.”
“Oh gitu
den, yaudah bawa ke kamarnya aja den, ada di atas (menunjuk kamar Shilla).”
“Iya bi,
sebentar yah.” Ucap Rio seraya kembali menuju ke pintu samping mobilnya tempat
Shilla tidur dan membukanya serta melepaskan sabuk pengaman yang di pakai
Shilla setelah itu menggendong gadis ini memasuki rumahnya dan menuju ke
kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya. Rio
kembali membaringkan gadis ini dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuh
gadis ini. Sementara Rio sudah berlari menuju kearah Bibi di dapur dan meminta
kompresan untuk Shilla. Setelah selesai pria ini kembali ke kamar gadis cantik
itu dan mengompresnya.
“Shil,
gue minta maaf banget sama loe. Kalau gue gak egois waktu itu pasti loe gak
akan kaya gini.” Gumam Rio seraya membetulkan kompresan Shilla.
Selama beberapa jam Rio singgah di
rumah gadis cantik ini. Tidak mungkin jika dia meninggalkan gadis ini yang
dalam keadaan sakit di rumah sendirian. Sekarang jam di dinding sudah
menunjukkan pukul 17.25, dan beberapa saat kemudian gadis cantik ini bangun
dari tidurnya.
Setelah berhasil mendudukan dirinya
di kasur, gadis ini baru menyadari jika ada orang lain selain dirinya di dalam
kamar. Terlihat pria ini sedang menelungkupkan wajahnya di pinggir tempat tidur
sementara dirinya duduk di kursi samping ranjangnya.
“Makasih
buat semuanya kak, gue baru tahu loe baik banget.” Gumam Shilla kemudian
menaruh kain yang sedari tadi digunakan Rio untuk mengompres dirinya di meja
samping. Setelah itu gadis ini turun dan keluar kamar.
Belum sempat gadis ini melangkah
keluar kamar, terdengar suara yang memberhentikan langkahnya. Itu suara Rio.
Ternyata pria tampan ini sudah bangun dari tidurnya.
“Mau
kemana loe ???” Tanya Rio heran
“Mau
keluar kak, bosen banget di kamar mulu.” Jawab Shilla sekenanya dan melanjutkan
langkahnya
“Gue
ikut. (mengejar Shilla). Kenapa loe gak ngebangunin gue.”
“Hmmm,
habis tidur loe pulas banget, jadi gue gak tega buat bangunin loe. Makasih yah
kak.”
“For
What ???” Tanya Rio heran.
“For
all, loe udah ngebantuin gue dan nungguin gue sampe gue siuman serta udah
ngasih makanan sama minuman serta nganterin gue pulang dan ngompres gue.”
Terang Shilla senyum manis.
“Itu gak
seberapa lagi, dibandingkan dengan kesalahan gue sama loe. gue masih ngerasa
bersalah sama loe.” Kata Rio
“Loe gak
salah apa-apa sama gue kok kak. Makasih buat semuanya.” Ucap Shilla seraya
duduk di sofa diikuti Rio yang duduk disebelahnya.
Kemudian mereka berdua bercanda dan
tertawa bersama. Entah apa yang menyebabkan 2 insan ini menjadi dekat seperti
sekarang, padahal dulunya mereka seperti kucing dan tikus yang tak pernah akur.
Setelah jam dinding menunjukkan pukul 18.30 Rio memutuskan untuk kembali ke
rumahnya.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Adduhh
rumah Agni dimana sih. Daritadi gak ketemu-temu.” Sungut pria tampan ini seraya
mengendarai motornya di sebuah kompleks perumahan.
“Tadi
kata Ify, rumah Agni itu di kompleks perumahan Kasih Bunda no……… akh iya, no.
14. Berarti disana.” Ceplos pria ini dan mengendarai motornya dengan kecepatan
sedang.
Akhirnya pria ini sampai di sebuah
rumah megah dan mewah di kompleks perumahan. Setelah berhasil memarkirkan
motornya pria ini masuk ke dalam dan menekan bel rumah itu.
“Permisi.
Permisi.” Teriak pria ini sesekali menekan bel rumah itu.
“(membuka
pintu). Iya, cari siapa yah.” Ucap wanita paruh baya tapi terlihat anggun.
“Maaf
tante mengganggu. Saya Cakka teman Agni. Bisa bertemu dengan agni tante.” Pinta
Cakka ramah.
“Oh
Agni. Ada di dalam, mari masuk. Tante panggilkan Agni dulu di kamarnya yah.”
“Iya
Tante terima kasih.” Jawab Cakka seraya duduk di sofa ruang tamu.
SKIP !!!
Seorang gadis sedang menuruni tangga
menggunakan baju yang sangat sederhana. Hanya memakai kaos merah dengan celana
pendek selutut gadis ini menghampiri tamu yang mengaku sebagai teman Agni.
Dengan langkah gontai dia berjalan. Jika mamahnya tidak memaksa untuk menemui
tamu yang tidak di undang ini mungkin dia masih berada di dalam kamar dan tidak
menemui tamunya itu.
“Ngapain
sih loe kesini. Tahu dari mana lagi rumah gue.” Ucap Agni sewot.
“Santai
aja dong non, niat gue kesini bukan mau nyari ribut sama loe. gue tahu rumah
loe dari Ify sahabat loe.” Jawab Cakka berdiri menghampiri Agni
“Terus
ngapain, udah deh gak usah basa basi gue ngantuk pengin tidur. Loe tahu,
kehadiran loe itu sangat mengganggu gue.” Ketus Agni
“Iya
sorry, gue kesini Cuma mau minta maaf atas kesalahan gue selama ini sama loe.
maafin gue karena gue selalu bikin loe kesel bikin loe sakit hati dan bikin loe
nangis karena perlakuan gue selama ini, gue sadar kok kalau gue udah kelewatan
sama loe. maka dari itu gue mau minta maaf sama loe.” terang Cakka
“permintaan
Maaf loe gak gue terima. Enak banget loe ngomong maaf, loe tahu kesalahan loe
itu udah banyak banget sama gue.” Ucap
Agni seraya melipat tangannya di dadanya.
“Iya
Agni, gue bakal nglakuin apa aja yang loe suruh deh. Asal loe mau maafin gue.”
Pinta Cakka
“Sejak
kapan loe ngemis ngemis minta maaf sama gue. Bukanya selama ini loe paling anti
sama yang namanya minta maaf yah. Selama ini juga loe selalu ngajak gue ribut.
Loe minta maaf sama Rival loe sendiri, gak masuk akal lagi.”
“Terserah
loe deh mau ngomong apa sama gue. Yang jelas gue minta maaf sama loe. gue juga
mau kalau setiap hari loe suruh buat ngebersihan semua rumah loe. atau nguras
kolam renang yang ada di belakang rumah loe. gue juga mau kalau loe suruh gue
buat mutusin semua cewe gue.”
“Itu mah
masalah kecil buat loe. loe mutusin semua cewe loe sekarang, besoknya loe udah
dapetin yang lebih banyak lagi kan ??? coba gue suruh loe loncat ke jurang atau
minta loe buat berdiri di jalan raya yang rame banget, pasti loe gak mau kan
???”
“Ya
jangan gitu juga dong. Itu mah mau bunuh gue namanya.” Sungut Cakka kesal
dengan perkataan Agni tadi.
“Iya,
dengan loe gak ada di dunia ini itu lebih baik. Daripada setiap hari ada cewe
yang nangis kejer gara-gara loe putusin secara sepihak.”
“Ag,
please. Loe jangan ngungkit masalah itu. Gue kesini Cuma mau minta maaf sama
loe, bukan mau nyari ribut. Maafin gue ag.” Pinta Cakka dengan raut wajah
memelas.
“Ok, gue
bakal maafin loe asal ada 1 syarat yang harus loe lakuin.”
“Apa
syaratnya ???” Tanya Cakka curiga.
“Besok
pas loe berangkat sekolah. Gue mau loe berangkat sekolah pake angkutan umum dan
simpan motor loe itu. Dan gue mau loe bawa poster yang intinya minta maaf sama
gue. Itu loe lakuin setelah loe turun dari angkutan umum itu dan jadiin tuh
poster kaya kalung loe. pake di leher dan jalan sampai kekelas gue. Apa loe sanggup
???” Terang Agni.
“Gue,
gue …….”
“Loe gak
sanggup kan ??? Jangan harap gue mau maafin loe sebelum loe nglakuin apa yang
gue suruh tadi. Ngerti.” Ucap Agni seraya berjalan menuju ke kamarnya.
“Ok Ag
(Agni menghentikan langkahnya tanpa menengok kearah Cakka) gue bakal nglakuin
itu semua demi loe. gue bakal buktiin sama loe kalau gue bisa. Loe lihat aja
besok. Ok, sekarang gue pamit pulang dulu. Sampaiin rasa terima kasih gue sama
nyokap loe. permisi.” Pamit Cakka seraya menuju ke motornya dan pergi meninggalkan
rumah Agni.
“(melepas
kepergian Cakka dengan menatap Cakka). Gue yakin loe gak mungkin nglakuin apa
yang gue suruh tadi kak, gue tahu loe kaya gimana.” Gumam Agni seraya kembali
melanjutkan langkahnya.
SKIP !!!
Keesokan harinya. Terlihat seorang
pria yang menggulung sebuah kertas besar seraya keluar dari rumahnya dan
berlari menuju ke jalan depan kompleks perumahanya. Pria ini terus berlari guna
mencari angkutan umum yang akan ia tumpangi untuk bisa sampai di sekolahnya.
Setelah sampai di sebuah halte depan kompleks perumahanya dia berhenti dan
mencari angkutan umum itu.
Beberapa menit kemudian terlihat
angkutan umum berhenti di depan halte. Otomatis penunggu yang sedari tadi
menunggu berebut menaiki Metromini itu. Begitu pula dengan pria tampan ini, dia
segera menaiki metromini itu, ternyata semua kursi sudah penuh, mau gak mau
pria ini harus berdiri dengan berpegangan tali yang ada di atasnya. Berdesak
desakan mengakibatkan pria ini tidak tenang. Karena baru pertama kalinya pria
tampan merasakan berdesak desakan dengan orang dan menggunakan metromini.
Penderitaan pria ini belum berakhir.
Karena metromini yang ia tumpangi mengalami kemacetan. Keringat bercucuran
membasahi tubuh pria ini terutama bagian wajah. Selama beberapa menit kemudian
metromini ini berhenti di sebuah terminal yang letaknya tidak jauh dari sekolah
Cakka. Otomatis Cakka harus kembali berlari setelah memberikan beberapa lembar
uang.
“Oya,
posternya.” Ceplos Cakka seraya memakai poster untuk di kalungkan di lehernya.
Kemudian Cakka kembali berjalan meuju ke kelas Agni.
Selama di perjalanan, banyak pasang
mata yang melihat dirinya dengan heran. Apakah yang mereka lihat memang benar
personil dari D’Orions Atau bukan. Tapi pria ini tidak memperdulikan ucapan
mereka dan mempercepat langkahnya untuk bisa sampai di kelas Agni.
Setelah sampai pria ini segera
menuju ke bangku Agni. Terlihat Agni yang sedang mengobrol dengan para
sahabatnya itu. Dan teman-teman Agni langsung menghentikan aktivitasnya dan
menatap Cakka tajam, sedangkan Agni hanya menganga seraya menutupi mulutnya
dengan tangannya.
“Kak
Cakka.” Pekik Ify, Sivia dan Shilla.
“Sorry
semuanya gue ganggu. Gue Cuma mau ketemu sama Agni.” Ucap Cakka santai.
“(melihat
Cakka dari bawah ke atas). Dandanan loe berantakan banget kak.” Ucap Sivia
heran
“(menarik
tangan Cakka dan membawanya ke taman belakang sekolah). Loe habis ngapain sih.
Dandanan loe jadi ancur banget gini. Baju keluar, rambut berantakan. Mana tuh
celana kotor banget lagi.” Ucap Agni heran seraya melihat dandanan Cakka.
“Kan gue
habis nurutin apa yang loe saranin. Gue naik metromini dan bikin poster ini
serta di kalungkan ke leher gue kan ??? Sekarang gue udah nglakuin itu semua
buat loe. sekarang loe mau kan maafin gue.”
“Kak,
tapi ini tuh bisa merusak image loe kak. Leo gak lihat tatapan fans loe yang
gak percaya sama dandanan loe sekarang. Seorang Cakka Kawekas Nuaraga yang
setiap harinya selalu dandan menarik dan bersih juga wangi sekarang jadi kotor,
bau dan sama sekali gak menarik.”
“Gue
rela lakuin itu semua demi mendapatkan maaf dari loe.”
“Tapi
gak usah kaya gini juga dong.”
“Sekarang
gue Tanya sama loe, loe udah maafin gue kan ???” Tanya Cakka memastikan
“Iyah,
gue udah maafin loe. udah sekarang ganti baju loe dan bersihin dandanan loe
yang acak-acakkan kaya gini. Bisa di labrak gue sama fans anarkis loe. udah
sana.” Suruh Agni gak nyante.
“Ok,
Thanks yah Ag, gue ganti baju dulu.” Ucap Cakka seraya pergi meninggalkan Agni.
“Ag, dia
gila sejak kapan sih ???” Tanya Gabriel yang muncul dari belakang Agni bersama
dengan anggota D’Orions yang lain kecuali Cakka serta ada Shilla, Ify dan
Sivia.
“Tahu,
merusak Image dia banget. Seorang Cakka Kawekas Nuraga yang biasanya tampil
menarik jadi dekil banget gitu.” Timpal Alvin seraya merangkul Sivia
“Sorry
guys. Gue yang nyuruh kak Cakka kaya gitu. tapi gue beneran gak ada fikiran
kalau kak Cakka bakal nglakuin hal memalukan kaya tadi. Beneran deh.” Ucap Agni
merasa bersalah.
“Loe
yang nyuruh ???” Tanya Rio kaget
“Iya
kak, gue yang nyuruh. Yah habis dia kemarin ke rumah gue. Terus minta maaf sama
gue. Gue kira maaf dia untuk main-main doang. Yaudah gue kasih syarat aja.”
Jawab Agni lirih
“Gila
Ag, keren banget loe. gue salut sama loe. bisa ngerubah Cakka 100 % gitu.
Ckckck.” Decak Alvin kagum disertai anggukan Rio dan Gabiel.
“Yaudah
cabut yuk, temuin Cakka.” Usul Gabiel seraya menggenggam tangan Ify.
“Yaudah
Yuk.” Jawab yang lain dan langsung pergi. Shilla baru saja ingin melangkah,
tangannya sudah di tarik oleh seseorang dan orang itu langsung membawa Shilla
ke atap gedung tua itu.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Ada apa
kak ???” Tanya Shilla setelah sampai di atap gedung sekolah
“Gue
pengin ngomong sama loe.” Jawab Rio seraya duduk di sebelah tiang diikuti
Shilla yang juga ikut duduk di sebelah Rio “Ngomong apa ???” Tanya Shilla
“Gue pengin
minta maaf sama loe. kelakuan gue selama ini emang udah keterlaluan sama loe.
dan loe harus tahu, baru kali ini gue minta maaf sama cewe. Loe cewe kedua yang
bikin gue ngerasa bersalah kalau gue nglakuin sesuatu yang menurut gue salah.
Setelah nyokap gue.” Terang Rio
“kenapa
loe minta maaf sama gue ???”
“Gue
gatahu. Yang jelas gue ngerasa bersalah sama loe dan gue pengin minta maaf sama
loe. loe mau kan maafin gue ???” Tanya Rio seraya menatap Shilla
“(menganggukkan
kepalannya 2x). gue maafin loe kok kak. Gue boleh Tanya ???”
“Boleh,
Tanya apa ???”
“Kenapa
sih, loe selalu berkutat sama buku. Setiap loe lagi baca pasti loe selalu susah
untuk di ganggu. Kalau ada orang yang ganggu mesti loe selalu marah dan kesel.
Maaf kak, gue lancang Tanya ini sama loe. gue Cuma penasaran aja.” Tanya Shilla
dengan perasaan bersalah.
“Iya,
gapapa kok. Gue Cuma lagi mencari kesibukkan aja. Soalnya sebelum gue berkutat
sama buku terus, gue itu selalu ngelamun. Ngelamunin hal yang gak penting
tepatnya. Dulu, gue punya cewe, gue cinta banget sama dia, gue sayang banget
sama dia. Dan dia selalu ngasih gue kebahagiaan yang gak pernah gue dapet dari
siapa-siapa kecuali dari keluarga gue. Dia selalu ada di saat gue lagi butuhin
dia. dia selalu jadi sandaran gue kalau gue punya masalah atau gue lagi
seneng.” Terang Rio menghela nafas kemudian melanjutkan.
“Tapi
gara-gara gue, dia gak ada untuk selamanya. Dia pergi ninggalin gue selamanya
dan itu semua gara-gara gue. Gue yang bunuh dia. gue yang bikin dia meninggal.”
Gumam Rio lirih seraya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
“Kok loe
bisa mikir gitu sih kak. Emang kejadiannya gimana ???”
“Gue
pernah ngajakkin dia ke puncak berdua buat refreshing. Gue ngendarain mobil gue
dengan kecepatan tinggi karena gue mikir jalanan menuju puncak itu sepi banget.
Dan cewe gue berkali kali meringatin gue supaya gue gak ngebut karena bahaya.
Tapi gue gak pernah ngedengerin perkataan dia.” Terang Rio seraya mengambil
nafas sejenak
“Gue
tetep ngebut dan pas di perempatan jalan gue lihat ada truk yang melaju dengan
kecepatan tinggi juga. Karena gue gak konsen gara-gara gue ngajakkin cewe gue
bercanda mulu, akhirnya mobil gue menabrak truk itu. Karena laju mobil gue dan
truk itu sama sama tinggi dan gue gak bisa mengendalikan mobil gue akhirnya
mobil gue nabrak pohon dan terbalik.”
“Gue
masih sadar pas itu. Dan gue lihat cewe gue pingsan, dan gue berusaha keluar
mobil dan langsung nyelamatin cewe gue. Akhirnya pas gue bisa nyelamatin dia,
nyawa dia gak tertolong dan dia meninggal.” Lanjut Rio dengan nada lirih
“Itu
bukan salah loe kak. Itu semua tuh takdir, bukan loe yang nyebabin cewe loe
meninggal.” Ucap Shilla seraya memegang bahu Rio berusaha menguatkan hati pria
di hadapannya.
”Itu
salah gue Shil, kalau gue nurutin perkataan cewe gue, dia bakalan masih ada
sekarang.”
“Loe
yakin banget. Takdir itu gak bisa di rubah kak. Semuannya udah di atur. Dan
cewe loe emang udah takdirnya buat gak ada. Dan loe harus terima itu. Gue juga
pernah ngalamin kejadian yang sama kaya loe. gue pernah kehilangan kakak gue
satu-satunya. Dia juga kecelakaan pesawat pada saat dia mau pergi ke Amerika
buat kuliah. Tapi tiba-tiba pesawatnya itu mengalami kesalahan terknis dan gak
bisa mengimbangi akhinya pesawat itu jatuh ke dalam laut dan semua penumpangnya
itu meninggal. Pada saat itu gue juga sempat syok. Tapi beberapa saat kemudian
gue sadar kalau kakak gue itu emang udah takdirnya buat gak ada.” Terang Shilla
seraya menatap lurus kedepan dan sedari tadi Rio melihat wajahnya seraya
mendengarkan cerita Shilla.
“loe jangan
sedih gitu dong, gue yakin kok. Kakak loe pasti akan selalu ada di hati loe.
dan dia pasti lagi tersenyum disana ngelihat loe. Thanks yah Shil, gue udah
lega sekarang. Gue sadar kalau itu semua takdir. Dan gue ngucapin terima kasih
banyak sama loe yang udah nyadarin gue.”
“Iyah
kak, santai aja lagi. Gue seneng kok bisa bantuin loe.” Ujar Shilla tersenyum
manis.
“Sorry
yah atas kesalahan gue selama ini yang selalu kasar sama loe.”
“Iyah
kak, gue juga minta maaf kalau gue sering bikin loe kesel.”
“Iyah Shill,
sekarang kita temen.” Rio mengangkat jari kelingkinya
“Temen.”
Ucap Shilla seraya menautkan kelingkinya pada kelingking Rio.
“yaudah,
gabung Sama yang lainya yuk.” Usul Rio seraya berdiri.
“Ayok.”
Setuju Shilla dan mengikuti langkah Rio berusaha menjajarkan langkahnya dengan
Rio dan kembali ke temen-temen yang lain.
SKIP !!!
Bel pulang berbunyi nyaring. Seluruh
siswa SMA Tunas Bangsa berhamburan keluar dari kelas setelah guru yang mengajar
mereka memberikan ucapan penutup. D’Orions langsung berkumpul dengan Shilla,
Ify, Sivia dan Agni. Mereka sedang berada di koridor sekolah.
“Ag, gue
anterin pulang yuk. Loe kan udah damai sama gue.” Ucap Cakka kepada Agni
“Gimana
yah. Tapi gue tuh udah minta di jemput kak.” Tolak Agni halus.
“Batalin
aja Ag, lagian Cakka nawarin loe sebagai tanda pertemanan tahu. Masa loe tolak
sih.” Sela Gabriel seraya merangkul Ify.
“Guys,
gue duluan yah. Mau pergi bareng Sivia. Ok.” Ujar Alvin
“Mau
kemana loe, kencan gak ngajak-ngajak. Bahaya tahu pergi berdua.” Ucap Gabriel
“Kaya loe
gak aja sama Ify.” Jawab Alvin sekenannya.
“Apaan
sih loe kak. Kok gue di bawa-bawa.” Protes Ify.
“Iyalah.
Loe berdua kan sering pergi berdua tanpa pengetahuan kita-kita. Gak pengin di
ganggu yah.” Goda Alvin seraya menggenggam tangan Sivia.
“Sialan
loe. pergi sana, bosen gue ngelihat loe mulu.” Ujar Gabriel
“Jangan
gitu dong abang Iyel.” Goda Alvin mencolek lengan Gabriel.
“Hih,
amit-amit jabang baby dah. Loe homo yah Vin, jangan gue dong yang jadi
sasarannya.” Protes Gabriel seraya mengumpat di belakang Ify.
“Ihhh,
kak Alvin.” Bentak Sivia yang tidak terima.
“Peace
sayang. Aku sayang sama kamu kok. Tadi Cuma bercanda. Suwer deh.” Ucap Alvin
ketakutan
“Mampus
loe kak. Makannya jangan jail jadi orang.” Ucap Agni ngakak.
“Kak
Alvin ternyata selingkuh sama kak Gabriel vi.” Tambah Shilla juga ikutan
ngakak.
“Gak
sayang. Jangan dengerin mereka yah. Tadi Cuma bercanda. Kita pergi aja yuk.”
Ajak Alvin
“Hahaha J. Alvin ternyata bukan pria
tulen.” Sela Cakka yang jadi ngakak abis.
“Diem
loe. guys gue cabut dulu yah. Bye semua.” Pamit Alvin seraya menarik tangan
Sivia.
“Gue
juga deh, Guys, gue cabut dulu yah. Bye.” Pamit Gabriel seraya menarik tangan
Ify.
“Ag,
gimana ??? Loe mau kan gue anter pulang ???” Tanya Cakka lagi.
“Iya
deh. Tadi supir gue bilang katannya mau jemput mama juga. Tapi gue gak
ngrepotin ???”
“Di
jamin gak Ag.” Sela Rio “Bener nggak sob ???” Lanjutnya.
“(menggaruk
tengkuknya yang sama sekali gak gatal). Yah gitu lah pokoknya.” Jawab Cakka
malu-malu
“Yaudah
deh, kak, Shill. Gue pulang dulu yah.” Pamit Agni.
“Iya
sob. Gue juga pamit dulu.” Tambah Cakka “Bye Shilla.” Lanjutnya seraya menerik
tangan Agni dan meninggalkan tempat itu.
“Shil,
loe di jemput gak.” Ujar Rio
“Gak
kak, hari ini gue pulang naik taksi.”
“Yaudah,
bareng gue aja yuk.” Ajak Rio
“Mmmm,
gak ngrepotin ???” Tanya Shilla.
“Gak
kok, loe mau nggak.”
“Yaudah
deh. Gue mau.” Jawab Shilla seraya tersenyum manis.
“Yaudah,
pulang yuk.” Ajak Rio dan segera beranjak menuju ke parkiran motor cagiva’nya
kemudian melajukannya dengan Shilla yang berada di belakangnya.
“Pegangan
Shil. Gue mau ngebut ntar loe jatuh” Suruh Rio “Tapi kak.” “Udah, pegangan aja
(menarik tangan Shilla agar mau melingkar di perutnya). Ntar loe bisa jatuh.”
Lanjut Rio
Terjadi keheningan di antara
keduannya selama di perjalanan. Hanya bunyi beberapa kendaraan yang lalu lalang
di jalan itu. Mereka berdua terlihat kikuk dalam menghadapi satu sama lain.
Jantung mereka terasa berdetak lebih kencang satu sama lain. Entah kenapa.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Sementara Rio dan Shilla sedang berdiam
diaman. Berbeda dengan di keadaan mall. Tepatnya di sebuah café Rise yang
terdapat di mall tersebut yang terkenal dengan masakannya yang lezat.
“Sayang,
kamu tahu gak bedannya kamu sama monas.” Ujar Gabiel
“Gak
tahu. Emang apa ???” Tanya Ify seraya mengaduk minumannya.
“Mmm,
kalau monas itu milik Negara, kalau kamu hanya milik aku.” Ucapan Gabriel
mengakibatkan kedua pipi Ify menjadi merah merona.
“Gombal
banget sih kak.”
“Gapapa
dong. Yang penting kamu seneng. Iya kan ??? Sampe merah gitu pipinya. Hayoooo J.”
“Udah
deh kak. Jangan godain aku terus. Ngambek nie.” Sungut Ify pura-pura ngambek.
“Ngambek
kok pake pengumuman sih. Ada-ada aja deh kamu.”
“Biarin,
yang jelas aku ngambek. Aku benci sama kakak.”
“Jangan
dong sayang. Jangan ngambek yah, juga jangan benci sama aku. Kalau masih
ngambek aku cium nie.” Ancam Gabriel seraya mendekatkan wajahnya kea rah Ify.
“Apaan
sih kak. Iya deh, aku gak ngambek.” Kalah ify “Daripada aku di cium sama kamu.”
“Eh,
jadi gak mau aku cium ??? Beneran ??? Bukannya waktu pertama kali aku cium
kamu, kamu seneng yah. Pake sok-sok’an gak mau segala lagi.” Goda Gabriel.
“Apaan
sih kak, Ihhh. Gak usah di bahas deh. Itukan kamu yang mulai duluan.”
“Aku
emang mulai duluan. Tapi kamu seneng kan aku cium ???” Goda Gabriel seraya mengangkat
dagu Ify yang sedari tadi sedang manunduk.
“Apaan
sih kak. Kalau terus-terusan jail aku pergi nie.” Ucap Ify seraya beranjak dari
duduknya.
“Ihhh
(menarik tangan Ify agar duduk lagi), jangan ngambek dong, maaf deh, janji deh
gak akan jail lagi”
“Janji
yah.”
“Iyah
sayang. Janji.” Ucap Gabriel seraya memegang tangan Ify lembut.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Sementara di sebuah taman yang
terdapat banyak permainan anak-anak. Di sebuah taman itu terdapat beberapa
orang dewasa selain anak-anak. Karena selain di taman itu sedang ada wisata
anak-anak, di taman itu juga terdapat berbagai penjual yang menjual
barang-barang lainnya. Sementara kedua sejoli ini sedang duduk di rumput yang
tidak jauh dari permainan anak-anak.
“Aku
seneng banget lihat mereka jadi happy gitu deh Vin, ceria banget mereka.
Ngegemesin banget.” Ujar Sivia seraya menyandarkan kepalannya ke bahu Alvin
“Iya,
aku juga seneng banget. Kenapa kamu suka sama anak kecil.” Tanya Alvin seraya
merangkul kekasihnya itu.
“Karena
mereka itu lucu, dulu aku pengin banget punya ade. Jadi aku punya temen di
rumah. Tapi ternyata Tuhan gak ngabulin permintaan aku.” Gumam Sivia.
“Yang
sabar yah sayang. Memang jalannya udah kaya gitu. Kamu kalau pengin lihat anak
kecil dateng aja ke sini. Terus kamu main deh sama mereka.” Alvin membelai
rambut halus Sivia.
“Iyah
kak. Mereka lucu yah. Kaya Acha ade kakak. Aku juga suka sama dia. habis Acha
lucu sih. Ngegemesin banget. Kapan-kapan aku boleh yah ngajakkin Acha main
bareng.”
“Boleh
lah sayang. Anggep aja Acha ade kamu sendiri.”
“Iyah
kak. Makasih.”
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Ag
udah sampai.” Ujar Cakka kepada Agni ketika mereka sudah sampai di rumah Agni
yang sangat mewah dan megah.
“Eh
iyah kak. Makasih.” Ucap Agni seraya turun dari motor Cakka. “Mau mampir gak
kak.” Lanjutnya
“Gak
usah lakh Ag, gue ada urusan.” Tolak Cakka halus.
“Oh,
ada janji sama cewe loe yah.”
“Gak
kok, gue gak punya cewe. Gue udah putus.”
“Oh,
mau nyari lagi ceritanya ???”
“Ag,
loe tuh kenapa sih. Gue kan emang udah minta maaf sama loe. masa loe masih dendam
sama gue ??? Loe masih nganggep gue temen loe kan ???”
“Iyah
kak, loe sekarang udah jadi temen gue. Tapi bukan berarti sifat playboy loe
ilang kan ???”
“Gue
emang lagi nyari cewe, dan gue udah nemuin tuh cewe. Gue janji, setelah gue
bisa dapetin tuh cewe gue akan rubah sifat gue yang suka main-main sama cewe.”
“Oh
gituh yah. Selamat deh kalau gitu. loe buru-buru nembak dia deh. Daripada makin
banyak cewe yang selalu loe bikin mereka patah hati.” Ucap Agni melipat
tangannya di dada dan cuek
“Iyah.
Gue akan buru-buru nyatain perasaan gue sama dia, setelah gue dapetin jawaban IYA
dari dia, gue janji gue akan ngilangin sifat playboy gue.”
“Bagus
deh. Makin cepat makin baik.”
“Yaudah
deh Ag, gue cabut dulu yah. Bye .” Pamit Cakka seraya mengendarai motornya dan
pergi
(“Kenapa
gue gak suka gini yah si Cakka mau nembak cewe lagi, Addduhhh Agni, loe gak
mungkin suka sama playboy tengik kaya dia. lupakan Agni. Bodo ahh.” BAtin Agni
seraya memasuki rumahnya)
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Sementara di tempat Rio Shilla. Terjadi
keheningan antara mereka berdua selama berada di perjalanan. Mereka memilih
untuk diam dan menikmati satu sama lain. Jantung mereka berdua serasa berdetak
lebih kencang. Ada rasa nyaman yang menyelimuti hati mereka berdua.
Setelah beberapa menit mereka sampai
di sebuah rumah yang sangat megah dan mewah bercat perpaduan antara putih dan
kuning mengakibatkan rumah itu bertambah asri.
“Thanks
yah kak (turun dari motor). Loe udah mau nganterin gue.” Ucap Shilla gugup
“Iyah
sama-sama.” Jawab Rio singkat gak kalah gugup.
“Ehmmm
kak, mau mampir ke rumah gue gak, sepi kok. Bokap sama nyokap gue gak ada di
rumah.”
“Ehm,
boleh deh. Di rumah gue juga bosen, tapi gue gak ngrepotin kan ???” Tanya Rio
memastikan
“Gak
lah, malah gue seneng, soalnya gue ada temen di rumah.”
“Yaudah
deh.”
Rio langsung memarkirkan di depan
rumah Shilla, dan mereka langsung masuk dan menghempaskan tubuh mereka berdua
di sofa ruang tamu.
“Kak,
gue bikin minum dulu yah. Loe mau minum apa ???” Tawar Shilla.
“Jus
Alpokat ada gak, kalau gak ada jus Apel aja deh.” Jawab Rio sekenanya.
“Yeee,
loe pikir rumah gue restoran apa.”
“Ya
lagian loe nawarin minum ke gue, yaudah gue jawab apa adanya.”
“Serius
dong kak, mau minum apa nie.”
“Tuh
kan tawarin lagi. Tadi kan gue udah jawab.”
“Kak
Rio, gak usah rese deh, permintaan loe tadi gak ada semua.”
“Ngomong
dong, es jeruk aja deh. Ada gak ???”
“Ada,
bentar yah gue ambilin dulu.” Ucap Shilla seraya menuju ke dapur untuk
mengambil minuman.
Sedangkan Rio hanya menyandarkan
kepalannya ke tembok. Beberapa saat kemudian Shilla kembali membawa 2 es jeruk
dan beberapa cemilan.
“Nie
kak minumannya. Loe kenapa ??? Sakit ???” Tanya Shilla heran
“Gak
kok, kenapa loe mikir gue sakit ???”
“Yah
habis muka loe pucet banget. Loe sakit ??? (menempelkan punggung tangannya ke
dahi Rio). Astaga, panas banget kak, loe beneran sakit ???”
“Gatahu
nie, badan gue emang gak enak banget. Pegel gitu deh.” Jawab Rio lirih
“Yaudah,
gue bikinin the anget aja yah, sekalian ngambil kompresan dulu. Bentar.”
“Badan
gue kok panas yah, pegel banget lagi. Kenapa yah, perasaan tadi baik-baik aja
deh.” Gumam Rio
Beberapa saat kemudian, Shilla
kembali dan langsung duduk di samping Rio.
“Ini
kak minumannya. Di minum dulu yah.”
“Thanks
Shill (meminumnya).”
“Loe
tiduran aja kak di kamar tamu gue noh. Istirahat sebentar sampe panas loe
turun.”
“Gak
akh, gue tidur sini aja deh yah. Takut dikira macem-macem sama tetangga loe.
sebentar lagi juga panasnya turun.” Ujar Rio seraya merebahkan tubuhnya di sofa
ruang tamu itu.
“Yaudah
deh, gue kompres yah kak, supaya panasnya cepet turun.” Ujar Shilla seraya
mengompres Rio
“Thanks
Shill, gue tidur dulu yah.” Ijin Rio seraya memejamkan matanya.
“Selamat
tidur kak.” Gumam Shilla dan naik ke atas menuju ke kamarnya.
Setelah selesai ganti baju Shilla
langsung turun seraya membawa selimut untuk Rio dan langsung menyelimuti Rio
dengan selimut yang dia bawa. Setelah itu dia duduk di depan Rio.
“Gue
gatahu kak, kenapa rasa ini muncul, setiap gue di deket loe gue pasti gue
ngerasa nyaman, maafin gue karena gue udah berani punya rasa ini buat loe kak,
tapi gue mohon ijinkan gue mencintai loe dengan cara gue sendiri. Loe lagi
tidur aja masih kelihatan ganteng, apa lagi kalo loe lagi senyum.” Gumam Shilla
seraya terus menerus memandang Rio yang sedang tidur.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
Gabriel dan Ify sekarang lagi berada
di rumah Ify. Setelah mereka puas berjalan-jalan berdua mereka akhirnya pulang
dan Gabriel memutuskan untuk singgah sebentar di rumah Ify.
“Aku
pulang yah sayang. Udah sore nie.” Ujar Gabriel seraya beranjak dari duduknya
di ruang tamu.
“Jangan
dong, Jahat banget sih. Masa mau ninggalin aku sendirian disini.” Ucap Ify
manyun seraya mengapit lengan Gabriel supaya Gabriel tidak pergi
“Terus
sampe kapan aku disini ??? Daritadi kan kita udah jalan-jalan sayang. Masa
belum puas.”
“Udah
puas banget, tapi aku lagi sendirian nie dirumah. Kamu gak kasihan sama aku ???
temenin bentar doang aja gak mau. Yaudah deh, sana pergi, pulang sana.” Usir
Ify ngambek.
“Jangan
ngambek dong sayang. Aku Cuma gak enak sama mama. Yaudah deh aku temenin kamu
disini, jangan ngambek lagi yah sayang.”
“Beneran.
Kamu mau temenin aku disini.” Ucap Ify antusias.
“Iyah.”
“Asyik,
gitu dong, makasih sayang. Aku tambah sayang deh sama kamu.” Ucap Ify seraya
mengapit lenganj Gabriel dan merebahkan kepalanya di bahu Gabriel.
“Iyah,
aku juga tambah sayang sama kamu.” Ujar Gabriel mengusap usap rambut Ify.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar