Jumat, 25 Januari 2013

Benci Jadi Cinta - Yoshill Part 2

nih guys lanjutanya :)
jangan pernah bosen yah guys buat berkaunjung ke blog saya ;) .
Happy read for this story :D


Hari sudah mulai semakin gelap. Matahari pun siap untuk kembali menyembunyikan tubuhnya. Tetapi pasangan yang satu ini tidak beranjak juga dari tempatnya. Entah apa yang mereka bahas. Mereka masih saja diam memandang pemandangan di hadapannya. Langit yang mulai berubah jadi orange ke kuning-kuningan, mengakibatkan pemandangan di hadapannya.
            2 sejoli ini menikmati masa-masa indahnya bersama sore ini. Di pantai dekat kompleks mereka menghabiskan waktu bersama. Sang gadis menyenderkan tubuhnya di bahu sang pria tampan ini. Sedangkan pria itu melingkarkan tangannya di pinggang sang gadis.
“Indah banget yahh kak, aku pengin lihat ini terus sama kakak.” Ujar gadis ini semakin mempererat tubuhnya untuk mendekat ke tubuh kekasihnya itu.
“Iya Sivia sayang. Aku juga pengin banget sama kamu terus. Aku janji gak akan ninggalin kamu sayang. Aku terlalu cinta sama kamu. Kamu juga harus janji sama aku.” Ujar sang pria seraya menengadahkan kepalanya agar bisa menatap gadisnya itu.
“Iya aku janji my prince. Aku sayang sama kamu ka’ Alvin Jonathan Sindunata.”
“Aku juga sayang sama kamu Sivia Azizah.”
“I love you. I always love you. Now, tomorrow and ever J.”
“Aku juga. I love you too my prince.” Ujar Sivia seraya memeluk kekasihnya itu.
SKIP !!!
            Di sebuah rumah mewah dan megah terlihat seorang gadis yang sedang bermain basket di lapangan depan rumah. Tetapi ada yang berbeda dengan permainan gadis ini, gadis ini bermain secara asal-asalan tidak seperti biasanya yang selalu keren dalam bermain.
“Arggghhhh (mengacak rambutnya sendiri). Gue benci banget sama loe Cakka, sungpahh yahh loe tuh nyebelin banget jadi cowok. Loe gak tahu apa-apa tentang gue, jadi loe gak berhak menilai gue kaya gitu. GUE BENCI LOE CAKKA.” Teriak gadis itu
“Agni.”
            Akibat panggilan itu. Otomatis gadis ini membalikan tubuhnya melihat siapa yang datang.
“Loe, ngapain ke rumah gue kak. Gak ngabarin dulu lagi.” Ujar gadis itu yang bernama Agni
“Hehehe (mendekat ke arah Agni). Gue kan mau buat surprise for you. Kenapa nie. Muka loe kasihan bener ag, lagi ada masalah yah J.” Ucap pria yang datang itu
“gak ada apa-apa kok. Gue Cuma lagi pengin main basket ajah. Pengin main bareng gue gak. One by one. Mau ???” Tawar Agni
“Palingan juga loe yang kalah. Secara kan gue kapten basket (menaikkan kerah bajunya). Shion dilawan.”
“Huhuhu, bisanya Cuma sombong doang loe kak. Coba sini lawan gue.” Tantang Agni
“Ok. Siapa takut. Kalo gue menang dapet apa nie.” Ucap Shion jail
“Dapet apa yahh. Yahh jangan ada kaya gituan deh kak. Ntar kalo gue kalah gimana.” Ujar Agni pesimis.
“Masa udah pesimis gituh. Biasanya juga loe yang nantangin gue. Ada apain sihh. Mau cerita gak.”
“Gak ada apa-apa kok. Oyah sebelum kita tanding gue mau Tanya dong.”
“Tanya apa ???” Tanya Shion
“Tujuan loe kesini mau ngapain kak. Mau ketemu sama gue, atau Keke. Atau loe mau ketemu sama bokap nyokap gue.”
“Mau ketemu loe lakh. Ngapain juga gue ketemu sama Bonyok loe. Gak ada di rumah juga kan ??? gue juga tahu kalau Keke lagi belajar kelompok di rumah Acha. Sekarang loe di rumah sendirian kan ???”
“Hmmm, nasib benget gue yah kak. Sendirian mulu di rumah. Untung loe datang. Jadi kan gue ada temen.” Gumam Agni lirih
“Udah dong. Sahabat gue sejak kapan murung gini. Semangat dong Ag, yaudah kita tanding basket ajah yuk, kalau loe menang loe boleh minta apa ajah ke gue dehh. Kalau gue menang loe harus masakkin makanan buat gue.”
“Ogah. Gue gak bisa masak kak. Loe mau ngehina gue nie ceritanya.” Ucap Agni manyun
“Hahaha J. Bercanda lagi non, Hmmm, loe harus mau nemenin gue jalan hari ini. Full.” Tantang Shion
“Ok, kalau itu gak masalah. Yaudah yuk.”
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Bingung. Itulah yang dirasakan oleh gadis cantik ini. Sedari tadi dia hanya melakukan hal-hal yang tidak jelas. Berkali-kali juga dia melempar BB’nya ke kasur. Sebagai pelampiasan kebingungan dia, guling juga jadi sasarannya.
“Gue bingung banget nie. Gue telepon kak Rio gak yah. Udah mepet banget waktunya. Kak Rio juga sihh yang salah. Dia gak pernah ngajakkin gue belajar bareng. Tapi emang gue sihh yang butuh. Gue telepon gak yahh.” Celoteh gadis ini sendiri seraya berjalan bolak-balik di kamarnya
            Setelah beberapa menit dalam posisi seperti itu akhirnya gadis ini mempunyai kesimpulannya. Dia mengambil BB’nya yang telah di lempar sebelumnya ke kasur setelah itu membuka contact dan mencari nama seseorang setelah itu menekan tombol hijau
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Di tempat lain. Seorang pria sedang membaca buku di balkon kamarnya seraya bersender ke dinding tembok. BB’nya ia taruh di atas meja belajarnya.
            Beberapa saat kemudian lagu One Time dari Justin Bieber terdengar nyaring. Panggilan masuk terlihat dari layar BB’nya. Tetapi pria ini tetap tidak bergeming. Pria ini tetap asyik membaca buku.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Gadis ini sedari tadi terus terusan bersungut sungut seraya menggenggam BB’nya yang terpasang di telingannya.
“Ihhhh kak Rio, angkat dong teleponya. Pasti nie anak lagi baca buku dehh, ahhh kak Rio, angkat buruan.” Celoteh gadis ini kesal
“Gue ke rumahnya ajah dehh. Sekalian belajar ajah. Nie kan hari minggu.” Tekad gadis ini seraya mematikan sambungan teleponya.
            Kemudian mengambil sweater’nya dan mengambil kunci mobil seraya turun ke bawah dan menuju ke garasi mobil setelah itu memasuki mobil dan CABUT J.
SKIP !!!
            Gadis ini sampai di sebuah rumah di daerah kompleks yang sangat asri dengan perpaduan warna putih dengan kuning menjadikan rumah ini bertambah asri. Berbagai macam tumbuhan berdiri kokoh (?) di samping pagar. Gadis ini langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah itu dan turun.
“(menekan bel). Permisi. Permisi.” Teriak gadis ini
            Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan terlihat wanita paruh baya di balik pintu.
“Iya non, cari siapa yah.” Tanya wanita paruh baya itu.
“Maaf Bi, saya mencari Rio bi, Mario’nya ada ???” Tanya gadis ini
“Ada non, non ini siapa yahh. Ada keperluan apa yah datang kemari ???” Tanya Bibi
“Hmm nama saya Shilla bi, saya mau belajar bersama dengan dia. Bisa di panggilkan bi.”
“Bisa non, silahkan masuk dulu. Bibi panggilkan den Rio’nya dulu.”
“Iya bi, terima kasih.” Ucap Shilla seraya duduk di sofa ruang tamu
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Di lain tempat. Di sebuah mall yang sangat megah dan besar yang bernama Dinasty mall. Terlihat sepasang muda mudi yang sedang berjalan-jalan.terlihat gadisnya itu merangkul lengan pria itu. Mereka berkeliling mall sudah 4 jam. Terlihat raut wajah kesal yang terpancar di wajah sang pria.
“Istirahat dulu yukk. Capek banget nie.” Ujar sang pria
“Adduhhh Cakka, jangan istirahat dong. Aku pengin beli barang-barang lagi. Katanya aku boleh beli apa ajah. Terus yang bayarin kamu. Masa udah istirahat sihh. Aku kan belum beli Tas, Sepatu, Baju, Celana, Aksesoris. Gimana sihh.” Celoteh gadis ini. Aren.
“Diem bisa gak, gue tuhh udah capek. Loe mau meras gue yah. Gila apa barang-barang itu semuanya mau loe beli. Beli aja sendiri. Gue mau pulang. Duit gue udah abiss.” Bentak pria itu yang bernama Cakka seraya pergi meninggalkan gadis itu.
“Cak, yahh kok pergi sihh.” Ucap gadis itu manja seraya merangkul lengan Cakka
“Lepas nona Aren, gue mau pulang. Mulai sekarang kita gak ada hubungan apa-apa lagi. Gue sama loe END. Gue mutusin loe hari ini juga. Ngerti loe.” Bentak Cakka seraya pergi meninggalkan gadis itu
“Cak gue gak terima loe mutusin gue. Lihat aja nanti. Gue itu emang gak butuh loe. Tapi gue butuh semua duit loe. Pokoknya sebelum gue beli barang-barang itu dari loe gue gak akan menyerah buat dapetin loe.” Gumam Gadis itu seraya tersenyum licik
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Terlihat seorang pria sedang menuruni tangga dan memasang muka datar. Sedangkan sang gadis mengembangkan senyumnya seraya melihat pria itu turun. Akhirnya orang yang sedari tadi di nantinya muncul juga. Itulah yang ada di benak sang gadis.
“Ngapain sihh loe kesini.” Tanya pria itu datar
“Mmm, mau belajar bareng kak, maafin gue. Gue gak bilang dulu sama loe. Tapi gue kesini Cuma mau minta loe ngajarin gue buat prepare test nanti kak.” Ujar gadis itu ragu
“Oh gituh. (menghampiri sang gadis). Yaudah lahh. Ini juga perintah Kepsek kan. Dan tugas gue juga buat ngajarin loe buat prepare test. Bentar yahh, gue ambilin minum dulu buat loe.” Ucap pria itu seraya pergi menuju dapur
            Beberapa menit kemudian pria ini kembali dengan membawa es jeruk 2 dengan beberapa cemilan kemudian meletakkan di depan mereka (meja). Kemudian pria itu duduk tepat di sebelah sang gadis.
“Minum dulu tuhh.” Suruh pria itu datar
“Makasih kak (mengambil minumannya dan meminumnya). Mmm, sepi sihh kak. Pada kemana ???” Tanya gadis ini basa basi.
“Apa urusan loe. Gak ada sangkut pautnya sama loe dehh perasaan.”
“Maaf kak Rio, bukannya gituh. Aku kan Cuma Tanya kalau gak di jawab juga gapapa sihh.”
“Bokap Nyokap gue lagi ke luar kota. Adek gue lagi main di rumah temen.” Jawab Rio datar
“Oh gituh.”
“Yaudah mulai, ngapain loe bengong gitu. tambah jelek aja loe.”
“Eh iya iya.”
            Kemudian mereka berdua memulai belajar bersama. Sesekali sang pria memberi pertanyaan kepada gadis itu seusai menerangkan. Sedangkan sang gadis dengan patuh menuruti apa yang di suruh oleh ketua osis SMA Tunas Bangsa itu.
SKIP !!!
            Pagi yang cerah. Matahari telah menampakan dirinya. SMA Tunas Bangsa telah dipenuhi siswa siswi yang baru datang untuk melaksanakan tugas mereka sebagai siswa.
            Terlihat 4 pria tampan yang sedang berjalan memasuki sekolahnya setelah mereka berhasil memarkirkan motor ninja mereka di parkiran. Semua siswi terpana melihat 4 pria paling tampan di sekolahnya. Mereka bukan hanya tampan tapi juga memiliki prestasi akademik maupun non akademik.
            Mereka berjalan memasuki kelas mereka yaitu XI IPA 2. Sedangkan para gadis dengan hebohnya meneriakan nama mereka ketika mereka berjalan di hadapannya. Berbeda dengan 4 gadis yang sedang asyik memakan pesanan mereka di kantin. Keempat gadis ini terlihat seperti biasa saja.
“Gila, kurang kerjaan banget sih teriak-teriak pagi-pagi.” Ucap gadis berambut panjang seraya memasukan sesuap nasi goring ke dalam mulutnya.
“Addduhhhh Shilla. Please deh. Bukanya gue udah pernah cerita yah tentang mereka.” Ujar gadis chubby
“Cowo gue makin lama makin banyak aja fans’nya. Jadi takut tersingkir nie gue.” Keluh gadis berbehel seraya meminum Es The Manis yang di pesannya.
“Please deh fy, gak usah lebay. Mereka kan bisanya Cuma tebar pesona doang. Loe marahin aja cowo loe supaya gak sering tebar pesona.” Ketus gadis tomboy.
“Siapa yang lebay Agnii. Gue ngomong nyata lagi. Cowo gue tuh gak pernah tebar pesona. Mereka nya aja yang kecentilan banget.” Bela gadis berbehel.
“Ekh, udah udah. Ngapain kalian ributin mereka sih. Aneh-aneh aja deh.” Lerai Shilla
“Gitu-gitu my prince tahu salah satu di antara mereka J.” Bangga Sivia
“He’empt. Oya Shill, kemarin loe minta di ajarin sama kak Rio yah.” Ujar Ify kepada Shilla.
“Iyah. Bener-bener sabar banget gue. Huft, ada gitu orang yang sedingin dia.” Keluh Shilla
“Itu karena faktor tertentu tahu Shill. Gue yakin kok, loe yang bakal ngerubah dia kaya dulu lagi.” Yakin Agni seraya memakan makanannya.
“Emang dia dulu kaya gimana ???” Tanya Shilla.
“Anaknya rame, suka bercanda, jail lagi dan dia ramah sama semua orang gak sedingin sekarang.” Jawab Sivia mendiskripsikan Rio dulu
“Iya Shill, dia juga anaknya gak se jaim sekarang. Dan loe pasti bisa ngerubah dia. Gue juga yakin kok, just you yang bisa bikin kak Rio kaya dulu lagi.” Ucap Ify
“Kok gue ??? Apa hubungannya sama gue ??? Yakin banget loe bertiga. Kalo dia ketemu gue aja penginya marah mulu.” Ketus Shilla.
“Santai aja non ngomongnya. Suatu saat nanti loe bakal tahu. Masuk Yuk, udah mau bel masuk nie.” Ucap Agni seraya beranjak dari duduknya. Diikuti yang lain. Kemudian mereka masuk ke kelas mereka yaitu kelas X.1.
SKIP !!!
            Pelajaran Fisika di kelas X.1 membuat semua murid pusing setengah mati. Apalagi banyak rumus yang harus mereka hafalkan. Guru yang mengajar mereka juga sangat Killer menurut pandangan mereka. 1 kesalahan yang di perbuat oleh murid akan dapat hukuman 2 x lipat dari kesalahan itu.
            Semua murid memilih untuk sibuk dengan kegiatanya masing-masing daripada harus memahami apa yang di ajarkan oleh guru Killer di depan mereka yang sedang sibuk menulis itu. Kemudian.
“Ok anak-anak. Ini ada 1 soal yang harus kalian selesaikan. Dan pak guru akan meminta salah satu di antara kalian untuk mengejarkan soal ini. SHILLA, kamu maju untuk mengejarkan soal ini.” Ucap Pak Roy seraya menujuk Shilla yang sedang asyik menggambar di buku tulisnya itu.
“Ah eh, iya pak.” Ucap Shilla gugup.
“Cepat kerjakan. Maju kamu.” Perintah Pak Roy.
            Mau tidak mau gadis ini maju untuk mengerjakan soal yang di berikan guru Killer itu. Dengan langkah gontai gadis ini berjalan akhirnya sampai di hadapan Pak Roy. Mengambil sepidol dan memulai mengerjakan soal itu.
“Mengapa kamu diam saja. Cepat kerjakan.” Perintah Pak Roy
“Maaf pak. Tadi saya tidak mendengarkan apa yang bapak ajarkan. Jadi saya tidak bisa mengerjakan soal ini.” Ucap Shilla menunduk.
“Kamu itu anak baru disini. Berani sekali kamu tidak mendengarkan ajaran saya. Kamu tahu, pelajaran ini itu sangat penting untuk masa depan kamu. Malah kamu tidak mendengarkan apa yang saya ajarkan. Jagan ikut-ikutan teman-teman kamu yang lain. Bla ….. Bla ...... Bla.” Celoteh Pak Roy. Sedangkan para murid memilih untuk tidak mendengarkan celotehan Pak Roy.
“Sekarang kamu bersihkan Kamar mandi putri sekarang. Cepat.” Suruh Pak Roy kepada Shilla
“I iiya pak.” Ucap Shilla seraya berlari keluar kelas dan menuju ke kamar mandi putri.
SKIP !!!
            Seorang gadis cantik sedang mengepel lantai kamar mandi putrid dan membersihkan lantai kamar mandi itu. Sungguh malang nasib gadis cantik ini.
“Huft, bau banget lagi. Gila apa gue di suruh ngerjain tugas kaya gini. Pak Roy kurang kerjaan banget sih nyuruh gue ngepel lantai sama bersihin kamar mandi kaya gini. Baru juga masuk ke sekolah ini, udah dapet hukuman berat kaya gini … Bla … Bla …. Bla.” Celoteh gadis ini sendiri.
“Loe yang kurang kerjaan. Ngomong sendiri. Di kamar mandi lagi. Kaya orang gila loe.” Ucap seorang pria yang sedang membaca buku seraya menyenderkan tubuhnya di tembok.
“Kak Rio. Ngapain loe di situ.” Tanya Shilla bingung.
“Terserah gue dong. Ini tempat umum kan ??? Justru gue yang mau bilang sama loe. Jadi anak baru itu yang sopan dikit sama guru. Ngapain loe jelek-jelekin Pak Roy. Loe’nya aja yang salah.”
“Heh, kenapa loe yang sewot sih. Terserah gue dong. Mau di hukum kek mau di kasih hadiah kek. Itu urusan gue. Suka-suka gue dong.” Balas Shilla gak kalah nyolot
“Loe jadi cewe gak ada sopan-sopannya banget sih. Biasa aja dong. Pantesan aja loe pindah ke sini. Pasti sekolah loe yang dulu ngusir loe yah. Makannya loe pindah ke sini.”
“Heh, sembarangan aja loe bilang. Gue di usir ??? Gue tuh pindah karena bokap gue ada kerjaan disini. Makannya gue pindah. Enak aja gue di usir.” Ketus Shilla yang tidak terima dengan kata-kata pria itu seraya menaruh kedua tangan di pinggangnya.
“Masa. Bukannya di usir ???”
“Ihhh, loe tuh nyebelin banget sih jadi cowo. Bisa-bisanya loe jadi ketua osis. Songong gitu. kalo misalkan gak ada test itu juga gue gak akan minta tolong sama loe.”
“Yaudah, mulai sekarang loe gak boleh minta bantuan sama loe lagi. Ini permintaan loe sendiri. Dasar cewe gila. Kerjain tuh yang bersih. Jangan ada yang kotor.” Suruh Rio seenaknya.
“Oh tentu dong. Kamar mandi ini bakalan BERSIH. Dan mulai sekarang gue gak akan minta bantuan sama loe lagi. Tenang aja. Gue gak akan ngomong sama Bu Kepsek. Dan makasih udah ngajarin gue kemarin.” Nyolot Shilla seraya masuk kamar mandi membawa ember dan alat pel lainnya.
“Huft. Akhirnya gue bebas juga dari nenek sihir itu. Males banget harus ngajarin cewe kaya gitu. kurang kerjaan banget.” Gumam Rio seraya berjalan meninggalkan kamar mandi.
SKIP !!!
            Beberapa hari kemudian. Gadis ini masih setia dengan buku-bukunya. Selama beberapa hari ini gadis ini bekerja keras untuk bisa mengerjakan Test nanti. Gadis ini selalu belajar dan belajar agar bisa lulus Test dan menjadi siswa SMA Tunas Bangsa tanpa ada orang yang membantu. Dan besok pagi gadis ini harus sudah siap untuk melaksanakan test dari Sekolah.
            Pagi ini adalah hari terakhir gadis ini belajar. Karena, keesokan harinya gadis ini harus melaksanakan Test itu. Di perpustakaan gadis ini sedang belajar sekarang. Setelah bel masuk berbunyi gadis ini menata bukunya dan bersiap untuk masuk kelas.
“Tuh anak belagu banget sih. Pake belajar sendiri lagi. Kita liat aja nanti. Apa loe bisa ngerjain soal Test nanti.” Gumam seorang pria seraya melanjutkan membacanya yang sempat tertunda tadi.
SKIP !!!
            Pagi yang cerah membuat semangat para murid SMA Tunas Bangsa. Semua murid dengan santainya memasukin sekolah mereka. Berbeda dengan gadis cantik ini. Gadis ini dengan langkah ragu memasuki sekolahnya. Dan melangkah menuju kelasnya.
            Terlihat sahabatnya yang sedang menunggu dirinya di depan kelas.
“Shill, loe udah siap belum buat ngikutin test hari ini.” Ucap Ify
“Siap gak siap gue harus bisa. Doain yah guys. Semoga gue bisa ngerjain tu soal dengan mudah.”
“Amiiinnn. Loe harus yakin Shill. Gue juga yakin kok kalau loe bisa ngerjain tuh soal dengan mudah. Semangat !!!” Ucap Agni menyemangati disertai anggukan Sivia
“Iyah J. Thanks yah guys. Kalian emang sahabat gue yang paling baik.” Ucap Shilla memeluk sahabatnya itu.
“Iyah sama sama Shilla.” Ucap Sahabatnya kompak.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Bro, hari ini Shilla test kan ??? tanggung jawab loe gimana tuh bro.” Ucap Alvin seraya menyenderkan tubuhnya di tembok. Sekarang sedang berada di ruang osis bersama sahabatnya itu.
“Hahaha J. Loe ngebiarin dia belajar sendiri ??? Parah loe.” Kata Cakka mengutak atik laptopnya.
“Iya lah. dia sendiri yang minta gue buat gak ngajarin dia kok. Bukan salah gue dong. Belagu banget sich tuh anak. Gue pengin lihat kemampuan dia itu seberapa.” Ucap Rio, matanya gak lepas dari buku yang di bacanya.
“Gak berubah ternyata sifat loe bro, yaudah gue mau ke perpus dulu. Mau pinjem buku. Ada yang mau ikut ???” Ucap Cakka
“Gue Cak, sekalian mau ngembaliin buku.” Jawab Gabriel.
“Yaudah Yuk, bro gue pergi dulu yah.” Pamit Cakka dan Gabriel
            Setelah itu Cakka dan Gabriel pergi meninggalkan ruang osis. Sedangkan Alvin masih sibuk dengan BB’nya dan ketua osis SMA Tunas Bangsa masih sibuk dengan buku yang lagi dibacanya.
“Bro, loe gak bosen apa (menyimpan BB’nya di saku celananya). Setiap hari kerjaan loe baca bukuuuu mulu. Have fun dong bro.” Ucap Alvin menghampiri Rio
“Gue Have fun kok. Dengan baca buku kaya gini kita lebih banyak wawasan.” Ucap Rio seenaknya
“Wawasan wawasan. Justru itu yang bikin loe itu gak gaul bro. sekali-sekali nyari cewe gitu. Noh, fans loe pada klepek-klepek sama loe. Tinggal tembak ntar juga mereka terima bro.”
“Seenaknya aja loe ngomong, gue itu masih belum bisa nemuin cewe kaya Sylvia. Dia itu cewe special di hati gue setelah nyokap gue. Dan gue belum bisa nemuin cewe yang bisa bikin gue tenang dan bisa bikin gue merasa nyaman ada di deketnya setelah Sylvia pergi ninggalin gue Vin.” Terang Rio sedih
“Ckckck, loe masih mikirin dia??? Lupain aja bro, dia udah tenang di alam sana. Dan gue yakin banget dia pasti lagi sedih ngelihat loe yang putus semangat gini bro. gue yakin, sebenernya Sylvia pengin banget ngelihat loe jadian sama cewe lain. Dan gak terus-terusan trauma kaya gini.” Ucap Alvin
“Alvin, loe jangan seenaknya ngomong gitu deh. Gue masih belum mau nyari cewe. Loe ngerti gak. Sekalipun ada cewe yang ngemis-ngemis cinta sama gue. Gue gak bakalan terima. Gue bakalan nyari cewe baru kalau gue nemuin cewe yang bikin gue nyaman.” Terang Rio seraya duduk di depan Alvin
“Ok, gue harap loe secepatnya nyari cewe.”
“Hempt.” Jawab Rio sekenanya.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Bro, gue balik ke kelas yah. Mau ngerjain sesuatu.” Ucap Gabriel setelah berhasil mengembalikan buku perpus.
“Ya udah deh. Terserah loe aja.” Ucap Cakka seraya memilih buku yang akan dia pinjam.
“Ok Bro, gue cabut.” Pamit Gabriel seraya pergi meninggalkan Cakka yang sedang sibuk-sibuknya memilih buku.
“Iyah, mana sih bukunya, dari tadi gue cariin gak ada. Padahal kemarin gue lihat tuh buku ada disini, kenapa sekarang malah gak ada yah.” Ucap Cakka
            Setelah beberapa menit memutar perpustakaan akhirnya Cakka menemukan bukunya. Tetapi pada saat Cakka mau mengambil bukunya ada tangan lain yang mendahului mengambil buku itu. Sehingga tangan Cakka seperti sedang memegang tangan seseorang yang mendahului mengambil buku.
            Setelah tahu siapa yang mengambil buku itu, Cakka segera menarik tangannya yang sedang memegang tangan itu. Dan Cakka menggaruk rambut belakang kepalannya yang sama sekali tidak gatal.
“Eh itu buku gue, gue dulu yang nemuin.” Ucap Cakka nyolot.
“Enak ajah. Ini buku yang ngambil gue duluan, dasar cowo playboy, ngapain loe tadi megang-megang tangan gue.” Ketus orang yang mengambil buku itu.
“Enak ajah loe ngatain gue cowo playboy. Mending gue normal masih suka sama cowo nah loe. Cewe bukan cowo bukan, ribet idup loe. Nama loe ajah kaya cowo gitu. Agni Tri Wati. Hahaha J.”
“(menatap Cakka tajam). Iyah, gue itu emang gak jelas, gue bukan cewe maupun Cowo, dan 1 lagi. Nama gue itu emang kaya cowo. Tapi 1 yang harus loe inget nama gue itu Agni Tri Nubuwati bukan Agni Tri Wati, ngerti loe. Nih bukunya. Gue udah gak butuh.” Ketus Agni seraya menyerahkan bukunya dan berjalan meninggalkan Cakka.
“Ag tunggu (memegang lengan Agni). Ok, gue ngerti kalau gue udah keterlaluan, gue minta maaf.” Ucap Cakka lirih dengan nada penuh penyesalan.
“Cowo playboy kaya loe minta maaf ??? Gak usah main-main sama gue. Gue itu bukan orang yang mudah loe kibulin kaya cewe-cewe loe yang lain.” Ucap Agni Tajam seraya berjalan cepat.
“Gue itu emang playboy Ag, tapi loe harus tahu, gue nglakuin kaya gini supaya loe juga bales perbuatan gue, jadi setiap hari gue bisa lihat loe dan bertengkar sama loe. Entah kenapa gue itu nyaman kalo ada di deket loe ag.” Gumam Cakka seraya menaruh bukunya dan berjalan keluar Perpus.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Terlihat seorang gadis yang sedang seius membaca buku di taman sekolah. Prepare buat test nanti. Gadis ini tidak henti-hentinya membaca buku dan memahami materi yang ada.
“Pusing banget kepala gue, huft. Loe harus bisa Shil, semangat.” Gumam Shilla menyemangati dirinya sendiri.
            Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di samping gadis yang sedang membaca buku ini. Otomatis gadis ini menengok ke arah orang yang duduk di sebelahnya. Kemudian keningnya mengerit tanda dia bingung dengan pria yang sedang duduk di sebelahnya.
“Hay, gue boleh duduk disini kan ???” Tanya pria itu.
“Iya, Hmm, loe siapa ???” Tanya gadis ini ragu
“Gue Riko, anak kelas XI IPA 4. Loe Shilla kan ??? Anak baru di kelas X.1 ???” Ucap pria yang bernama Riko itu memastikan.
“Iya kak.” Jawab Shilla singkat.
“Oh. Lagi ngapain sih. Sibuk banget kayaknya.” Tanya Riko
“Lagi belajar kak, buat prepare test nanti. Kakak sendiri ngapain disini ???” Tanya Shilla
“Hmm iseng aja sih. Lagi belajar yah. Bukanya loe di tolongin sama ketua osis yang sok itu.”
“Kok kakak ngomong gitu. Namanya kak Rio. Kenapa kakak bilang kalo kak Rio itu sok.”
“Ya iyalah. Siapa juga yang suka sama sikapnya yang sok itu. Sok kegantengan, sok pinter, sok segalanya deh pokoknya. Loe juga sependapat sama gue kan ???”
“Hmm, gatau. Gue kan baru disini. Jadi gue gak tahu sifat semua orang yang ada disini kak.”
“Iya juga sih. Suatu saat nanti loe juga bakalan setuju sama kata-kata gue tadi.”
            Setelah itu mereka berdua belajar bersama di selingin dengan canda tawa. Tetapi dibalik keceriaan mereak ada seorang pria yang sedang melihat adegan mereka dengan membawa buku.
“Kenapa nie perasaan gue. Ck, jangan sampai gue suka sama tuh cewe. Akh, kenapa gue gak suka yah tuh cewe deket-deket sama cowo lain. Apaan sih gue.” Gumam Rio seraya melanjutkan jalannya.
SKIP !!!
            Bel pulang sekolah sudah terdengar sangat nyaring. Siswa-siswi SMA Tunas Bangsa berhamburan keluar kelas dan bersiap untuk menuju ke rumah masing-masing. Berbeda dengan keempat gadis cantik yang masih berada di bangku kelas mereka.
“Shill, kita temenin loe buat nglaksanain test’nya yah.” Pinta Sivia
“Gausah guys. Gue juga tahu kok, loe berdua udah di tungguin sama cowo loe masing-masing. Dan Agni gue juga tahu kalo loe punya janji sama kak Shion.” Jawab Shilla seraya memasukkan buku ke dalam tas.
“Gue bisa batalin janji gue Shill.” Jawab Agni
“Gue juga bisa pulang naik taksi kok Shill. Kita temenin yah. Gue gak mau loe ngadepin test’nya sendiri. Sahabat macam apa kita, masa sahabat sendiri lagi kesusahan kita malah tega ninggalin.” Ucap Ify
“Adduuhh Ify, santai aja lagi. Makasih juga karena kalian mau berkorban demi gue. Tapi gue yakin gue bisa ngadepin test itu sendiri. Doain gue aja yang penting.” Ucap Shilla tersenyum manis.
“Serius Shill, loe yakin ??? Tenang aja Shill, gue pasti doain loe supaya lancar.” Ucap Agni menyemangati seraya merangkul Shilla.
“Yaudah Shill, gue duluan yah. Semangat, gue yakin loe pasti bisa.” Ucap Ify senyum manis
“Iyah, gue yakin. Semangat yah. Hubungi kita kalo test’nya udah kelar. Ok.” Ucap Sivia.
“Sippt, hati hati yah guys.” Teriak Shilla setelah sahabatnya berjalan meninggalkan dirinya di kelas. kemudian Shilla melangkah menuju ke ruang Osis dimana test akan berlangsung.
YYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Yo, gue duluan yah. Gapapa kan kalo loe sendirian yang ngurus test nanti ???” Tanya Alvin memastikan
“Iya Bro, kalo loe keberatan kita bisa nemenin loe kok.” Lanjut Cakka
“Tenang aja bro, gapapa kok. Santai aja lagi. Ini kan emang tugas gue. Loe semua pulang aja. Gue bisa ngurusin sendiri.” Jawab Rio seraya membereskan paper yang sempat berantakan
“Ok. Deh bro. gue cabut yah. Cewe gue udah nungguin nie. Bye.” Pamit Gabriel seraya pergi diikuti Alvin dan Cakka.
            Baru beberapa menit setelah kepergian sahabatnya itu, ada seseorang yang mengetuk pintunya. Otomatis ketua osis ini berteriak menyebutkan kata ‘MASUK’. Setelah itu seorang gadis membuka pintunya dan berjalan menghampiri ketua osis ini yang masih sibuk membereskan paper’nya.
“Kak.” Gumam gadis itu.
“Loe ??? Ah eh, loe mau test kan ???” Tanya Rio gugup.
“Iyah.” Jawab Shilla singkat dan lemas.
“Yaudah loe duduk di situ (menunjuk kursi di hadapannya). Tunggu Bu.Ira, Bu Maya sama Pak Duta bentar lagi.”
“Makasih.” Lirih Shilla seraya duduk dan menaruh tas’nya di meja sebelahnya.
            Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintunya dan langsung membuka pintunya seraya masuk dan menutup pintunya. Bu Maya terlihat membawa soal dan kertas jawaban yang akan di isi oleh Shilla nanti. Setelah itu mereka duduk tepat di hadapan Shilla, sementara Rio berdiri di sebelah Shilla.
“Ok, Bisa di mulai sekarang Shilla.” Tanya Bu.Ira
“Bisa bu.”
“Bagus, materi yang kalian dapatkan udah banyak kan ??? Dengan dibantu sama Rio. Ibu harap kamu mendapatkan nilai yang memuaskan nanti.” Ucap Bu. Maya menaruh soal test di meja sebelah Shilla.
“Iya Bu.”
“Baik Shilla, kerjakan soal ini (menaruh soal test di depan meja Shilla). Waktu kamu adalah 2 jam. Dan kamu Rio, kamu bisa keluar sekarang.” Suruh Pak Duta.
“Baik Pak, permisi semuanya.” Pamit Rio seraya keluar dari ruang osis dan menutup pintunya lagi.
            Setelah Rio berhasil keluar dari ruangan osis, Shilla mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh walaupun tubuhnya terasa lemas karena waktu yang dia gunakan untuk istirahat malah dia gunakan untuk belajar dan belajar. Sementara di depan ruang osis.
“Addduuhhh, gue ngerasa bersalah banget sama tuh cewe. Gimana nie kalo dia gak bisa ngerjainya, tapi gue yakin 100 % kalo misalkan dia bisa ngerjainnya. Tungguin dia aja deh. Gue ngerasa bersalah juga sama tuh anak.” Gumam Rio seraya mondar mandir di depan ruang osis.
SKIP !!!
            2 jam kemudian. Test yang dilakukan oleh murid baru ini telah selesai di kerjakan. Bu kepsek keluar ruangan diikuti oleh Bu Maya dan Pak Duta. Sedangkan gadis ini memilih untuk tetap di dalam seraya menelungkupkan wajahnya di meja.
“Akhirnya selesai juga test’nya. Capek banget gue. Mana belum ke isi lagi nie perut.” Keluh Shilla lirih
            Kemudian terdengar derap langkah memasuki ruang osis mendekati gadis yang sedang menelungkupkan wajahnya itu.
“Ngapain loe masih disini. Bukannya pulang.” Suruh Rio tajam.
“Maaf kak,” Mengambil tas dan berjalan keluar ruang osis dengan langkah gontai.
“Heh Tunggu (memegang lengan Shilla). Ya ampun, panas banget lengan loe. Heh kenapa loe. Loe sakit ???” Tanya Rio khawatir seraya memegang dahi Shilla.
“(menurunkan tangan Rio dari dahinya). Gapapa kok kak, Cuma kecapekan aja kali. Gue duluan kak.”
“Ekh tunggu, gue anterin loe pulang.” Tawar Rio lembut.
“Gak usah kak, gue bisa pulang naik taksi.”
“Loe gak lihat nie udah jam berapa ??? Mana ada taksi jam segini. Udah loe gue anterin pulang aja. Keadaan loe gak memungkinkan untuk pulang sendiri.”
“(memegang kepalanya) Gapapa kak, gue ….”
            Belum sempat gadis ini melanjutkan kata-katanya, dia sudah Ambruk atau pingsan. Dengan sigap Rio menangkap tubuh Shilla dengan raut wajah khawatir.
“Shil, Shilla bangun, adduhh gimana nie, bangun Shil.” Ucap Rio dengan nada khawatir seraya menepul pelan pipi Shilla. “Gue bawa ke UKS aja deh.” Ceplos Rio seraya menggendong Shilla menuju UKS.
            Pria tampan ini menggendong Shilla ke UKS. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hati ketua osis ini. Entah kenapa dia merasa sangat khawatir dengan gadis ini. Setelah itu Rio membaringkan Shilla di ranjang yang ada di UKS.
Kemudian dirinya beranjak keluar UKS dan menuju ke kantin dengan berlari. Setelah berhasil membeli nasi goreng serta the hangat, pria ini kembali ke UKS dan meletakkan makanan dan minumanya di meja di samping ranjang.
Kemudian dirinya duduk di pinggir kasur seraya menggenggam tangan gadis itu lembut. Entah kenapa pria ini berani melakukannya. Terasa hangat tangan gadis ini. Beberapa saat kemudian tangan gadis ini bergerak dan matanya terbuka. Otomatis pria tampan ini bangun dan melepaskan genggamanya.
“Loe udah sadar.” Pekik Rio kaget seraya bangun dari pinggir tempat tidur.
“Iyah kak (berusaha bangun dan menyenderkan dirinya ke tembok belakang). Gue kenapa kak, ada di mana sekarang ???” Tanya Shilla bingung
“Loe ada di UKS, tadi loe pingsan jadi gue bawa loe kesini. Nie makan dulu, gue tahu loe pasti belum makan kan ???” Ucap Rio seraya memberikan nasi gorengnya kepada Shilla.
“Makasih, karena kakak udah nolongin gue. Tapi kalau kakak mau pulang juga gak papa kok.”
“Gak, gue mau disini sampai loe merasa baikan. Sejak kapan loe gak makan ???” Tanya Rio
“Baru tadi pagi kok.” Jawab Shilla singkat.
“Bohong banget loe. Udah jujur aja. Ini semua gara-gara gue kan ??? Sorry kalau gitu, gue tahu gue salah dengan ngebiarin loe belajar sendiri, gue minta maaf, gue sadar kalau gue salah.”
“Gak, kakak gak salah kok. Gue yang minta kakak buat gak ngajarin gue kan ???”
“Udah. Pokoknya gue yang salah, dan sekarang gue mau tanggung jawab. Sekarang loe makan.” Suruh Rio lembut seraya memberikan nasi gorengnya lagi.
“Gak akh kak, mual banget soalnya.”
“Justru karena loe belum makan makanya mual, udah nie gue suapin, pokoknya loe harus makan.”
“Gak usah kak, gue bisa sendiri (merebut nasi gorengnya dari tangan Rio).”
“Yaudah.” Ucap Rio seraya duduk di pinggir tempat tidur ngelihatin Shilla makan.
“Kak, jangan nglihatin gue mulu napa, risih tahu.”
“Eh, iya maaf.” Jawab Rio gugup.
            Beberapa menit kemudian. Shilla telah selesai makan dan menaruh piringnya di meja lagi. Dan Rio mengambilkan teh hangatnya untuk di minum Shilla.
“Makasih kak. Sekarang gue mau pulang.” Ujar Shilla lirih seraya turun dari ranjang.
“Gue anterin yah. Badan loe masih panas nie. Ntar kalo ada apa-apa sama loe gue tambah merasa bersalah.” Tawar Rio membantu Shilla berjalan.
“Iyah kak, makasih.”
            Rio terus membantu Shilla sampai ke parkiran mobilnya. Kebetulan hari ini Rio membawa mobil. Jadi gadis ini tidak merasa kedinginan di perjalanan nanti. Rio membuka pintu mobil samping dan membantu Shilla masuk ke dalam mobil. Setelah itu dirinya memutar mobil lewat depan mobilnya dan masuk ke dalam kursi kemudi.
“Loe make jaket gue yah, biar loe anget badanya (melepas jaketnya dan memakaikan jaketnya ke tubuh Shilla).”
“Makasih kak, tapi loe gapapa ???” Ucap Shilla memastikan seraya membetulkan jaket Rio.
“Gapapa, santai aja. Rumah loe di mana Shill ????” Tanya Rio seraya menjalankan mobilnya
“Di kompleks perumahan Bahari no.69 (ngarang.com).” Jawab Shilla singkat.
“Ok, loe tiduran aja. Nanti kalau udah sampe dirumah loe gue bangunin.”
“Iya kak, makasih.”
            Selama di perjalanan. Gadis ini memang tidur, terlihat dari raut wajahnya kalau gadis ini sangat kecapekan dan kelelahan. Perasaan bersalah lagi lagi menyelimuti hati pria tampan yang sedang konsen untuk menyetir mobilnya. Sesekali pria ini menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik gadis di sampingnya. “Gue minta maaf banget sama loe Shil, gue yang udah bikin loe kaya gini, sekali lagi gue minta maaf.” Ucap Rio lirih seraya menatap gadis cantik di sampingnya.
            Beberapa menit kemudian mobil Rio sudah memasuki kompleks perumahan Bahari dan dengan cepat pria ini menemukan rumah no.69. Setelah itu pria tampan ini menatap gadis di sampingnya sejenak kemudian dirinya turun dan memasuki rumah megah itu. Kemudian menekan bel rumah itu.
            Kemudian terlihat wanita paruh baya membukakan pintunya.
“Iya den, ada apa yah.”
“Maaf Bi sebelumnya. Orang tua Shilla ada di dalam bi ???” Tanya Rio sopan
“Oh, nyonya sama tuan lagi keluar Kota den sama adik non Shilla juga, rumah ini kosong den, Cuma ada non Shilla, tapi non Shilla’nya belum pulang.” Celoteh wanita paruh baya itu.
“Oh gitu. Mmm, Shilla lagi tidur di mobil saya Bi, tadi dia habis ngikutin test jadi baru pulang sekarang.”
“Oh gitu den, yaudah bawa ke kamarnya aja den, ada di atas (menunjuk kamar Shilla).”
“Iya bi, sebentar yah.” Ucap Rio seraya kembali menuju ke pintu samping mobilnya tempat Shilla tidur dan membukanya serta melepaskan sabuk pengaman yang di pakai Shilla setelah itu menggendong gadis ini memasuki rumahnya dan menuju ke kamarnya.
            Setelah sampai di kamarnya. Rio kembali membaringkan gadis ini dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuh gadis ini. Sementara Rio sudah berlari menuju kearah Bibi di dapur dan meminta kompresan untuk Shilla. Setelah selesai pria ini kembali ke kamar gadis cantik itu dan mengompresnya.
“Shil, gue minta maaf banget sama loe. Kalau gue gak egois waktu itu pasti loe gak akan kaya gini.” Gumam Rio seraya membetulkan kompresan Shilla.
            Selama beberapa jam Rio singgah di rumah gadis cantik ini. Tidak mungkin jika dia meninggalkan gadis ini yang dalam keadaan sakit di rumah sendirian. Sekarang jam di dinding sudah menunjukkan pukul 17.25, dan beberapa saat kemudian gadis cantik ini bangun dari tidurnya.
            Setelah berhasil mendudukan dirinya di kasur, gadis ini baru menyadari jika ada orang lain selain dirinya di dalam kamar. Terlihat pria ini sedang menelungkupkan wajahnya di pinggir tempat tidur sementara dirinya duduk di kursi samping ranjangnya.
“Makasih buat semuanya kak, gue baru tahu loe baik banget.” Gumam Shilla kemudian menaruh kain yang sedari tadi digunakan Rio untuk mengompres dirinya di meja samping. Setelah itu gadis ini turun dan keluar kamar.
            Belum sempat gadis ini melangkah keluar kamar, terdengar suara yang memberhentikan langkahnya. Itu suara Rio. Ternyata pria tampan ini sudah bangun dari tidurnya.
“Mau kemana loe ???” Tanya Rio heran
“Mau keluar kak, bosen banget di kamar mulu.” Jawab Shilla sekenanya dan melanjutkan langkahnya
“Gue ikut. (mengejar Shilla). Kenapa loe gak ngebangunin gue.”
“Hmmm, habis tidur loe pulas banget, jadi gue gak tega buat bangunin loe. Makasih yah kak.”
“For What ???” Tanya Rio heran.
“For all, loe udah ngebantuin gue dan nungguin gue sampe gue siuman serta udah ngasih makanan sama minuman serta nganterin gue pulang dan ngompres gue.” Terang Shilla senyum manis.
“Itu gak seberapa lagi, dibandingkan dengan kesalahan gue sama loe. gue masih ngerasa bersalah sama loe.” Kata Rio
“Loe gak salah apa-apa sama gue kok kak. Makasih buat semuanya.” Ucap Shilla seraya duduk di sofa diikuti Rio yang duduk disebelahnya.
            Kemudian mereka berdua bercanda dan tertawa bersama. Entah apa yang menyebabkan 2 insan ini menjadi dekat seperti sekarang, padahal dulunya mereka seperti kucing dan tikus yang tak pernah akur. Setelah jam dinding menunjukkan pukul 18.30 Rio memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Adduhh rumah Agni dimana sih. Daritadi gak ketemu-temu.” Sungut pria tampan ini seraya mengendarai motornya di sebuah kompleks perumahan.
“Tadi kata Ify, rumah Agni itu di kompleks perumahan Kasih Bunda no……… akh iya, no. 14. Berarti disana.” Ceplos pria ini dan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
            Akhirnya pria ini sampai di sebuah rumah megah dan mewah di kompleks perumahan. Setelah berhasil memarkirkan motornya pria ini masuk ke dalam dan menekan bel rumah itu.
“Permisi. Permisi.” Teriak pria ini sesekali menekan bel rumah itu.
“(membuka pintu). Iya, cari siapa yah.” Ucap wanita paruh baya tapi terlihat anggun.
“Maaf tante mengganggu. Saya Cakka teman Agni. Bisa bertemu dengan agni tante.” Pinta Cakka ramah.
“Oh Agni. Ada di dalam, mari masuk. Tante panggilkan Agni dulu di kamarnya yah.”
“Iya Tante terima kasih.” Jawab Cakka seraya duduk di sofa ruang tamu.
SKIP !!!
            Seorang gadis sedang menuruni tangga menggunakan baju yang sangat sederhana. Hanya memakai kaos merah dengan celana pendek selutut gadis ini menghampiri tamu yang mengaku sebagai teman Agni. Dengan langkah gontai dia berjalan. Jika mamahnya tidak memaksa untuk menemui tamu yang tidak di undang ini mungkin dia masih berada di dalam kamar dan tidak menemui tamunya itu.
“Ngapain sih loe kesini. Tahu dari mana lagi rumah gue.” Ucap Agni sewot.
“Santai aja dong non, niat gue kesini bukan mau nyari ribut sama loe. gue tahu rumah loe dari Ify sahabat loe.” Jawab Cakka berdiri menghampiri Agni
“Terus ngapain, udah deh gak usah basa basi gue ngantuk pengin tidur. Loe tahu, kehadiran loe itu sangat mengganggu gue.” Ketus Agni
“Iya sorry, gue kesini Cuma mau minta maaf atas kesalahan gue selama ini sama loe. maafin gue karena gue selalu bikin loe kesel bikin loe sakit hati dan bikin loe nangis karena perlakuan gue selama ini, gue sadar kok kalau gue udah kelewatan sama loe. maka dari itu gue mau minta maaf sama loe.” terang Cakka
“permintaan Maaf loe gak gue terima. Enak banget loe ngomong maaf, loe tahu kesalahan loe itu udah banyak  banget sama gue.” Ucap Agni seraya melipat tangannya di dadanya.
“Iya Agni, gue bakal nglakuin apa aja yang loe suruh deh. Asal loe mau maafin gue.” Pinta Cakka
“Sejak kapan loe ngemis ngemis minta maaf sama gue. Bukanya selama ini loe paling anti sama yang namanya minta maaf yah. Selama ini juga loe selalu ngajak gue ribut. Loe minta maaf sama Rival loe sendiri, gak masuk akal lagi.”
“Terserah loe deh mau ngomong apa sama gue. Yang jelas gue minta maaf sama loe. gue juga mau kalau setiap hari loe suruh buat ngebersihan semua rumah loe. atau nguras kolam renang yang ada di belakang rumah loe. gue juga mau kalau loe suruh gue buat mutusin semua cewe gue.”
“Itu mah masalah kecil buat loe. loe mutusin semua cewe loe sekarang, besoknya loe udah dapetin yang lebih banyak lagi kan ??? coba gue suruh loe loncat ke jurang atau minta loe buat berdiri di jalan raya yang rame banget, pasti loe gak mau kan ???”
“Ya jangan gitu juga dong. Itu mah mau bunuh gue namanya.” Sungut Cakka kesal dengan perkataan Agni tadi.
“Iya, dengan loe gak ada di dunia ini itu lebih baik. Daripada setiap hari ada cewe yang nangis kejer gara-gara loe putusin secara sepihak.”
“Ag, please. Loe jangan ngungkit masalah itu. Gue kesini Cuma mau minta maaf sama loe, bukan mau nyari ribut. Maafin gue ag.” Pinta Cakka dengan raut wajah memelas.
“Ok, gue bakal maafin loe asal ada 1 syarat yang harus loe lakuin.”
“Apa syaratnya ???” Tanya Cakka curiga.
“Besok pas loe berangkat sekolah. Gue mau loe berangkat sekolah pake angkutan umum dan simpan motor loe itu. Dan gue mau loe bawa poster yang intinya minta maaf sama gue. Itu loe lakuin setelah loe turun dari angkutan umum itu dan jadiin tuh poster kaya kalung loe. pake di leher dan jalan sampai kekelas gue. Apa loe sanggup ???” Terang Agni.
“Gue, gue …….”
“Loe gak sanggup kan ??? Jangan harap gue mau maafin loe sebelum loe nglakuin apa yang gue suruh tadi. Ngerti.” Ucap Agni seraya berjalan menuju ke kamarnya.
“Ok Ag (Agni menghentikan langkahnya tanpa menengok kearah Cakka) gue bakal nglakuin itu semua demi loe. gue bakal buktiin sama loe kalau gue bisa. Loe lihat aja besok. Ok, sekarang gue pamit pulang dulu. Sampaiin rasa terima kasih gue sama nyokap loe. permisi.” Pamit Cakka seraya menuju ke motornya dan pergi meninggalkan rumah Agni.
“(melepas kepergian Cakka dengan menatap Cakka). Gue yakin loe gak mungkin nglakuin apa yang gue suruh tadi kak, gue tahu loe kaya gimana.” Gumam Agni seraya kembali melanjutkan langkahnya.
SKIP !!!
            Keesokan harinya. Terlihat seorang pria yang menggulung sebuah kertas besar seraya keluar dari rumahnya dan berlari menuju ke jalan depan kompleks perumahanya. Pria ini terus berlari guna mencari angkutan umum yang akan ia tumpangi untuk bisa sampai di sekolahnya. Setelah sampai di sebuah halte depan kompleks perumahanya dia berhenti dan mencari angkutan umum itu.
            Beberapa menit kemudian terlihat angkutan umum berhenti di depan halte. Otomatis penunggu yang sedari tadi menunggu berebut menaiki Metromini itu. Begitu pula dengan pria tampan ini, dia segera menaiki metromini itu, ternyata semua kursi sudah penuh, mau gak mau pria ini harus berdiri dengan berpegangan tali yang ada di atasnya. Berdesak desakan mengakibatkan pria ini tidak tenang. Karena baru pertama kalinya pria tampan merasakan berdesak desakan dengan orang dan menggunakan metromini.
            Penderitaan pria ini belum berakhir. Karena metromini yang ia tumpangi mengalami kemacetan. Keringat bercucuran membasahi tubuh pria ini terutama bagian wajah. Selama beberapa menit kemudian metromini ini berhenti di sebuah terminal yang letaknya tidak jauh dari sekolah Cakka. Otomatis Cakka harus kembali berlari setelah memberikan beberapa lembar uang.
“Oya, posternya.” Ceplos Cakka seraya memakai poster untuk di kalungkan di lehernya. Kemudian Cakka kembali berjalan meuju ke kelas Agni.
            Selama di perjalanan, banyak pasang mata yang melihat dirinya dengan heran. Apakah yang mereka lihat memang benar personil dari D’Orions Atau bukan. Tapi pria ini tidak memperdulikan ucapan mereka dan mempercepat langkahnya untuk bisa sampai di kelas Agni.
            Setelah sampai pria ini segera menuju ke bangku Agni. Terlihat Agni yang sedang mengobrol dengan para sahabatnya itu. Dan teman-teman Agni langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap Cakka tajam, sedangkan Agni hanya menganga seraya menutupi mulutnya dengan tangannya.
“Kak Cakka.” Pekik Ify, Sivia dan Shilla.
“Sorry semuanya gue ganggu. Gue Cuma mau ketemu sama Agni.” Ucap Cakka santai.
“(melihat Cakka dari bawah ke atas). Dandanan loe berantakan banget kak.” Ucap Sivia heran
“(menarik tangan Cakka dan membawanya ke taman belakang sekolah). Loe habis ngapain sih. Dandanan loe jadi ancur banget gini. Baju keluar, rambut berantakan. Mana tuh celana kotor banget lagi.” Ucap Agni heran seraya melihat dandanan Cakka.
“Kan gue habis nurutin apa yang loe saranin. Gue naik metromini dan bikin poster ini serta di kalungkan ke leher gue kan ??? Sekarang gue udah nglakuin itu semua buat loe. sekarang loe mau kan maafin gue.”
“Kak, tapi ini tuh bisa merusak image loe kak. Leo gak lihat tatapan fans loe yang gak percaya sama dandanan loe sekarang. Seorang Cakka Kawekas Nuaraga yang setiap harinya selalu dandan menarik dan bersih juga wangi sekarang jadi kotor, bau dan sama sekali gak menarik.”
“Gue rela lakuin itu semua demi mendapatkan maaf dari loe.”
“Tapi gak usah kaya gini juga dong.”
“Sekarang gue Tanya sama loe, loe udah maafin gue kan ???” Tanya Cakka memastikan
“Iyah, gue udah maafin loe. udah sekarang ganti baju loe dan bersihin dandanan loe yang acak-acakkan kaya gini. Bisa di labrak gue sama fans anarkis loe. udah sana.” Suruh Agni gak nyante.
“Ok, Thanks yah Ag, gue ganti baju dulu.” Ucap Cakka seraya pergi meninggalkan Agni.
“Ag, dia gila sejak kapan sih ???” Tanya Gabriel yang muncul dari belakang Agni bersama dengan anggota D’Orions yang lain kecuali Cakka serta ada Shilla, Ify dan Sivia.
“Tahu, merusak Image dia banget. Seorang Cakka Kawekas Nuraga yang biasanya tampil menarik jadi dekil banget gitu.” Timpal Alvin seraya merangkul Sivia
“Sorry guys. Gue yang nyuruh kak Cakka kaya gitu. tapi gue beneran gak ada fikiran kalau kak Cakka bakal nglakuin hal memalukan kaya tadi. Beneran deh.” Ucap Agni merasa bersalah.
“Loe yang nyuruh ???” Tanya Rio kaget
“Iya kak, gue yang nyuruh. Yah habis dia kemarin ke rumah gue. Terus minta maaf sama gue. Gue kira maaf dia untuk main-main doang. Yaudah gue kasih syarat aja.” Jawab Agni lirih
“Gila Ag, keren banget loe. gue salut sama loe. bisa ngerubah Cakka 100 % gitu. Ckckck.” Decak Alvin kagum disertai anggukan Rio dan Gabiel.
“Yaudah cabut yuk, temuin Cakka.” Usul Gabiel seraya menggenggam tangan Ify.
“Yaudah Yuk.” Jawab yang lain dan langsung pergi. Shilla baru saja ingin melangkah, tangannya sudah di tarik oleh seseorang dan orang itu langsung membawa Shilla ke atap gedung tua itu.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Ada apa kak ???” Tanya Shilla setelah sampai di atap gedung sekolah
“Gue pengin ngomong sama loe.” Jawab Rio seraya duduk di sebelah tiang diikuti Shilla yang juga ikut duduk di sebelah Rio “Ngomong apa ???” Tanya Shilla
“Gue pengin minta maaf sama loe. kelakuan gue selama ini emang udah keterlaluan sama loe. dan loe harus tahu, baru kali ini gue minta maaf sama cewe. Loe cewe kedua yang bikin gue ngerasa bersalah kalau gue nglakuin sesuatu yang menurut gue salah. Setelah nyokap gue.” Terang Rio
“kenapa loe minta maaf sama gue ???”
“Gue gatahu. Yang jelas gue ngerasa bersalah sama loe dan gue pengin minta maaf sama loe. loe mau kan maafin gue ???” Tanya Rio seraya menatap Shilla
“(menganggukkan kepalannya 2x). gue maafin loe kok kak. Gue boleh Tanya ???”
“Boleh, Tanya apa ???”
“Kenapa sih, loe selalu berkutat sama buku. Setiap loe lagi baca pasti loe selalu susah untuk di ganggu. Kalau ada orang yang ganggu mesti loe selalu marah dan kesel. Maaf kak, gue lancang Tanya ini sama loe. gue Cuma penasaran aja.” Tanya Shilla dengan perasaan bersalah.
“Iya, gapapa kok. Gue Cuma lagi mencari kesibukkan aja. Soalnya sebelum gue berkutat sama buku terus, gue itu selalu ngelamun. Ngelamunin hal yang gak penting tepatnya. Dulu, gue punya cewe, gue cinta banget sama dia, gue sayang banget sama dia. Dan dia selalu ngasih gue kebahagiaan yang gak pernah gue dapet dari siapa-siapa kecuali dari keluarga gue. Dia selalu ada di saat gue lagi butuhin dia. dia selalu jadi sandaran gue kalau gue punya masalah atau gue lagi seneng.” Terang Rio menghela nafas kemudian melanjutkan.
“Tapi gara-gara gue, dia gak ada untuk selamanya. Dia pergi ninggalin gue selamanya dan itu semua gara-gara gue. Gue yang bunuh dia. gue yang bikin dia meninggal.” Gumam Rio lirih seraya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
“Kok loe bisa mikir gitu sih kak. Emang kejadiannya gimana ???”
“Gue pernah ngajakkin dia ke puncak berdua buat refreshing. Gue ngendarain mobil gue dengan kecepatan tinggi karena gue mikir jalanan menuju puncak itu sepi banget. Dan cewe gue berkali kali meringatin gue supaya gue gak ngebut karena bahaya. Tapi gue gak pernah ngedengerin perkataan dia.” Terang Rio seraya mengambil nafas sejenak
“Gue tetep ngebut dan pas di perempatan jalan gue lihat ada truk yang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Karena gue gak konsen gara-gara gue ngajakkin cewe gue bercanda mulu, akhirnya mobil gue menabrak truk itu. Karena laju mobil gue dan truk itu sama sama tinggi dan gue gak bisa mengendalikan mobil gue akhirnya mobil gue nabrak pohon dan terbalik.”
“Gue masih sadar pas itu. Dan gue lihat cewe gue pingsan, dan gue berusaha keluar mobil dan langsung nyelamatin cewe gue. Akhirnya pas gue bisa nyelamatin dia, nyawa dia gak tertolong dan dia meninggal.” Lanjut Rio dengan nada lirih
“Itu bukan salah loe kak. Itu semua tuh takdir, bukan loe yang nyebabin cewe loe meninggal.” Ucap Shilla seraya memegang bahu Rio berusaha menguatkan hati pria di hadapannya.
”Itu salah gue Shil, kalau gue nurutin perkataan cewe gue, dia bakalan masih ada sekarang.”
“Loe yakin banget. Takdir itu gak bisa di rubah kak. Semuannya udah di atur. Dan cewe loe emang udah takdirnya buat gak ada. Dan loe harus terima itu. Gue juga pernah ngalamin kejadian yang sama kaya loe. gue pernah kehilangan kakak gue satu-satunya. Dia juga kecelakaan pesawat pada saat dia mau pergi ke Amerika buat kuliah. Tapi tiba-tiba pesawatnya itu mengalami kesalahan terknis dan gak bisa mengimbangi akhinya pesawat itu jatuh ke dalam laut dan semua penumpangnya itu meninggal. Pada saat itu gue juga sempat syok. Tapi beberapa saat kemudian gue sadar kalau kakak gue itu emang udah takdirnya buat gak ada.” Terang Shilla seraya menatap lurus kedepan dan sedari tadi Rio melihat wajahnya seraya mendengarkan cerita Shilla.
“loe jangan sedih gitu dong, gue yakin kok. Kakak loe pasti akan selalu ada di hati loe. dan dia pasti lagi tersenyum disana ngelihat loe. Thanks yah Shil, gue udah lega sekarang. Gue sadar kalau itu semua takdir. Dan gue ngucapin terima kasih banyak sama loe yang udah nyadarin gue.”
“Iyah kak, santai aja lagi. Gue seneng kok bisa bantuin loe.” Ujar Shilla tersenyum manis.
“Sorry yah atas kesalahan gue selama ini yang selalu kasar sama loe.”
“Iyah kak, gue juga minta maaf kalau gue sering bikin loe kesel.”
“Iyah Shill, sekarang kita temen.” Rio mengangkat jari kelingkinya
“Temen.” Ucap Shilla seraya menautkan kelingkinya pada kelingking Rio.
“yaudah, gabung Sama yang lainya yuk.” Usul Rio seraya berdiri.
“Ayok.” Setuju Shilla dan mengikuti langkah Rio berusaha menjajarkan langkahnya dengan Rio dan kembali ke temen-temen yang lain.
SKIP !!!
            Bel pulang berbunyi nyaring. Seluruh siswa SMA Tunas Bangsa berhamburan keluar dari kelas setelah guru yang mengajar mereka memberikan ucapan penutup. D’Orions langsung berkumpul dengan Shilla, Ify, Sivia dan Agni. Mereka sedang berada di koridor sekolah.
“Ag, gue anterin pulang yuk. Loe kan udah damai sama gue.” Ucap Cakka kepada Agni
“Gimana yah. Tapi gue tuh udah minta di jemput kak.” Tolak Agni halus.
“Batalin aja Ag, lagian Cakka nawarin loe sebagai tanda pertemanan tahu. Masa loe tolak sih.” Sela Gabriel seraya merangkul Ify.
“Guys, gue duluan yah. Mau pergi bareng Sivia. Ok.” Ujar Alvin
“Mau kemana loe, kencan gak ngajak-ngajak. Bahaya tahu pergi berdua.” Ucap Gabriel
“Kaya loe gak aja sama Ify.” Jawab Alvin sekenannya.
“Apaan sih loe kak. Kok gue di bawa-bawa.” Protes Ify.
“Iyalah. Loe berdua kan sering pergi berdua tanpa pengetahuan kita-kita. Gak pengin di ganggu yah.” Goda Alvin seraya menggenggam tangan Sivia.
“Sialan loe. pergi sana, bosen gue ngelihat loe mulu.” Ujar Gabriel
“Jangan gitu dong abang Iyel.” Goda Alvin mencolek lengan Gabriel.
“Hih, amit-amit jabang baby dah. Loe homo yah Vin, jangan gue dong yang jadi sasarannya.” Protes Gabriel seraya mengumpat di belakang Ify.
“Ihhh, kak Alvin.” Bentak Sivia yang tidak terima.
“Peace sayang. Aku sayang sama kamu kok. Tadi Cuma bercanda. Suwer deh.” Ucap Alvin ketakutan
“Mampus loe kak. Makannya jangan jail jadi orang.” Ucap Agni ngakak.
“Kak Alvin ternyata selingkuh sama kak Gabriel vi.” Tambah Shilla juga ikutan ngakak.
“Gak sayang. Jangan dengerin mereka yah. Tadi Cuma bercanda. Kita pergi aja yuk.” Ajak Alvin
“Hahaha J. Alvin ternyata bukan pria tulen.” Sela Cakka yang jadi ngakak abis.
“Diem loe. guys gue cabut dulu yah. Bye semua.” Pamit Alvin seraya menarik tangan Sivia.
“Gue juga deh, Guys, gue cabut dulu yah. Bye.” Pamit Gabriel seraya menarik tangan Ify.
“Ag, gimana ??? Loe mau kan gue anter pulang ???” Tanya Cakka lagi.
“Iya deh. Tadi supir gue bilang katannya mau jemput mama juga. Tapi gue gak ngrepotin ???”
“Di jamin gak Ag.” Sela Rio “Bener nggak sob ???” Lanjutnya.
“(menggaruk tengkuknya yang sama sekali gak gatal). Yah gitu lah pokoknya.” Jawab Cakka malu-malu
“Yaudah deh, kak, Shill. Gue pulang dulu yah.” Pamit Agni.
“Iya sob. Gue juga pamit dulu.” Tambah Cakka “Bye Shilla.” Lanjutnya seraya menerik tangan Agni dan meninggalkan tempat itu.
“Shil, loe di jemput gak.” Ujar Rio
“Gak kak, hari ini gue pulang naik taksi.”
“Yaudah, bareng gue aja yuk.” Ajak Rio
“Mmmm, gak ngrepotin ???” Tanya Shilla.
“Gak kok, loe mau nggak.”
“Yaudah deh. Gue mau.” Jawab Shilla seraya tersenyum manis.
“Yaudah, pulang yuk.” Ajak Rio dan segera beranjak menuju ke parkiran motor cagiva’nya kemudian melajukannya dengan Shilla yang berada di belakangnya.
“Pegangan Shil. Gue mau ngebut ntar loe jatuh” Suruh Rio “Tapi kak.” “Udah, pegangan aja (menarik tangan Shilla agar mau melingkar di perutnya). Ntar loe bisa jatuh.” Lanjut Rio
            Terjadi keheningan di antara keduannya selama di perjalanan. Hanya bunyi beberapa kendaraan yang lalu lalang di jalan itu. Mereka berdua terlihat kikuk dalam menghadapi satu sama lain. Jantung mereka terasa berdetak lebih kencang satu sama lain. Entah kenapa.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Sementara Rio dan Shilla sedang berdiam diaman. Berbeda dengan di keadaan mall. Tepatnya di sebuah cafĂ© Rise yang terdapat di mall tersebut yang terkenal dengan masakannya yang lezat.
“Sayang, kamu tahu gak bedannya kamu sama monas.” Ujar Gabiel
“Gak tahu. Emang apa ???” Tanya Ify seraya mengaduk minumannya.
“Mmm, kalau monas itu milik Negara, kalau kamu hanya milik aku.” Ucapan Gabriel mengakibatkan kedua pipi Ify menjadi merah merona.
“Gombal banget sih kak.”
“Gapapa dong. Yang penting kamu seneng. Iya kan ??? Sampe merah gitu pipinya. Hayoooo J.”
“Udah deh kak. Jangan godain aku terus. Ngambek nie.” Sungut Ify pura-pura ngambek.
“Ngambek kok pake pengumuman sih. Ada-ada aja deh kamu.”
“Biarin, yang jelas aku ngambek. Aku benci sama kakak.”
“Jangan dong sayang. Jangan ngambek yah, juga jangan benci sama aku. Kalau masih ngambek aku cium nie.” Ancam Gabriel seraya mendekatkan wajahnya kea rah Ify.
“Apaan sih kak. Iya deh, aku gak ngambek.” Kalah ify “Daripada aku di cium sama kamu.”
“Eh, jadi gak mau aku cium ??? Beneran ??? Bukannya waktu pertama kali aku cium kamu, kamu seneng yah. Pake sok-sok’an gak mau segala lagi.” Goda Gabriel.
“Apaan sih kak, Ihhh. Gak usah di bahas deh. Itukan kamu yang mulai duluan.”
“Aku emang mulai duluan. Tapi kamu seneng kan aku cium ???” Goda Gabriel seraya mengangkat dagu Ify yang sedari tadi sedang manunduk.
“Apaan sih kak. Kalau terus-terusan jail aku pergi nie.” Ucap Ify seraya beranjak dari duduknya.
“Ihhh (menarik tangan Ify agar duduk lagi), jangan ngambek dong, maaf deh, janji deh gak akan jail lagi”
“Janji yah.”
“Iyah sayang. Janji.” Ucap Gabriel seraya memegang tangan Ify lembut.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Sementara di sebuah taman yang terdapat banyak permainan anak-anak. Di sebuah taman itu terdapat beberapa orang dewasa selain anak-anak. Karena selain di taman itu sedang ada wisata anak-anak, di taman itu juga terdapat berbagai penjual yang menjual barang-barang lainnya. Sementara kedua sejoli ini sedang duduk di rumput yang tidak jauh dari permainan anak-anak.
“Aku seneng banget lihat mereka jadi happy gitu deh Vin, ceria banget mereka. Ngegemesin banget.” Ujar Sivia seraya menyandarkan kepalannya ke bahu Alvin
“Iya, aku juga seneng banget. Kenapa kamu suka sama anak kecil.” Tanya Alvin seraya merangkul kekasihnya itu.
“Karena mereka itu lucu, dulu aku pengin banget punya ade. Jadi aku punya temen di rumah. Tapi ternyata Tuhan gak ngabulin permintaan aku.” Gumam Sivia.
“Yang sabar yah sayang. Memang jalannya udah kaya gitu. Kamu kalau pengin lihat anak kecil dateng aja ke sini. Terus kamu main deh sama mereka.” Alvin membelai rambut halus Sivia.
“Iyah kak. Mereka lucu yah. Kaya Acha ade kakak. Aku juga suka sama dia. habis Acha lucu sih. Ngegemesin banget. Kapan-kapan aku boleh yah ngajakkin Acha main bareng.”
“Boleh lah sayang. Anggep aja Acha ade kamu sendiri.”
“Iyah kak. Makasih.”
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Ag udah sampai.” Ujar Cakka kepada Agni ketika mereka sudah sampai di rumah Agni yang sangat mewah dan megah.
“Eh iyah kak. Makasih.” Ucap Agni seraya turun dari motor Cakka. “Mau mampir gak kak.” Lanjutnya
“Gak usah lakh Ag, gue ada urusan.” Tolak Cakka halus.
“Oh, ada janji sama cewe loe yah.”
“Gak kok, gue gak punya cewe. Gue udah putus.”
“Oh, mau nyari lagi ceritanya ???”
“Ag, loe tuh kenapa sih. Gue kan emang udah minta maaf sama loe. masa loe masih dendam sama gue ??? Loe masih nganggep gue temen loe kan ???”
“Iyah kak, loe sekarang udah jadi temen gue. Tapi bukan berarti sifat playboy loe ilang kan ???”
“Gue emang lagi nyari cewe, dan gue udah nemuin tuh cewe. Gue janji, setelah gue bisa dapetin tuh cewe gue akan rubah sifat gue yang suka main-main sama cewe.”
“Oh gituh yah. Selamat deh kalau gitu. loe buru-buru nembak dia deh. Daripada makin banyak cewe yang selalu loe bikin mereka patah hati.” Ucap Agni melipat tangannya di dada dan cuek
“Iyah. Gue akan buru-buru nyatain perasaan gue sama dia, setelah gue dapetin jawaban IYA dari dia, gue janji gue akan ngilangin sifat playboy gue.”
“Bagus deh. Makin cepat makin baik.”
“Yaudah deh Ag, gue cabut dulu yah. Bye .” Pamit Cakka seraya mengendarai motornya dan pergi
(“Kenapa gue gak suka gini yah si Cakka mau nembak cewe lagi, Addduhhh Agni, loe gak mungkin suka sama playboy tengik kaya dia. lupakan Agni. Bodo ahh.” BAtin Agni seraya memasuki rumahnya)
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Sementara di tempat Rio Shilla. Terjadi keheningan antara mereka berdua selama berada di perjalanan. Mereka memilih untuk diam dan menikmati satu sama lain. Jantung mereka berdua serasa berdetak lebih kencang. Ada rasa nyaman yang menyelimuti hati mereka berdua.
            Setelah beberapa menit mereka sampai di sebuah rumah yang sangat megah dan mewah bercat perpaduan antara putih dan kuning mengakibatkan rumah itu bertambah asri.
“Thanks yah kak (turun dari motor). Loe udah mau nganterin gue.” Ucap Shilla gugup
“Iyah sama-sama.” Jawab Rio singkat gak kalah gugup.
“Ehmmm kak, mau mampir ke rumah gue gak, sepi kok. Bokap sama nyokap gue gak ada di rumah.”
“Ehm, boleh deh. Di rumah gue juga bosen, tapi gue gak ngrepotin kan ???” Tanya Rio memastikan
“Gak lah, malah gue seneng, soalnya gue ada temen di rumah.”
“Yaudah deh.”
            Rio langsung memarkirkan di depan rumah Shilla, dan mereka langsung masuk dan menghempaskan tubuh mereka berdua di sofa ruang tamu.
“Kak, gue bikin minum dulu yah. Loe mau minum apa ???” Tawar Shilla.
“Jus Alpokat ada gak, kalau gak ada jus Apel aja deh.” Jawab Rio sekenanya.
“Yeee, loe pikir rumah gue restoran apa.”
“Ya lagian loe nawarin minum ke gue, yaudah gue jawab apa adanya.”
“Serius dong kak, mau minum apa nie.”
“Tuh kan tawarin lagi. Tadi kan gue udah jawab.”
“Kak Rio, gak usah rese deh, permintaan loe tadi gak ada semua.”
“Ngomong dong, es jeruk aja deh. Ada gak ???”
“Ada, bentar yah gue ambilin dulu.” Ucap Shilla seraya menuju ke dapur untuk mengambil minuman.
            Sedangkan Rio hanya menyandarkan kepalannya ke tembok. Beberapa saat kemudian Shilla kembali membawa 2 es jeruk dan beberapa cemilan.
“Nie kak minumannya. Loe kenapa ??? Sakit ???” Tanya Shilla heran
“Gak kok, kenapa loe mikir gue sakit ???”
“Yah habis muka loe pucet banget. Loe sakit ??? (menempelkan punggung tangannya ke dahi Rio). Astaga, panas banget kak, loe beneran sakit ???”
“Gatahu nie, badan gue emang gak enak banget. Pegel gitu deh.” Jawab Rio lirih
“Yaudah, gue bikinin the anget aja yah, sekalian ngambil kompresan dulu. Bentar.”
“Badan gue kok panas yah, pegel banget lagi. Kenapa yah, perasaan tadi baik-baik aja deh.” Gumam Rio
            Beberapa saat kemudian, Shilla kembali dan langsung duduk di samping Rio.
“Ini kak minumannya. Di minum dulu yah.”
“Thanks Shill (meminumnya).”
“Loe tiduran aja kak di kamar tamu gue noh. Istirahat sebentar sampe panas loe turun.”
“Gak akh, gue tidur sini aja deh yah. Takut dikira macem-macem sama tetangga loe. sebentar lagi juga panasnya turun.” Ujar Rio seraya merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu itu.
“Yaudah deh, gue kompres yah kak, supaya panasnya cepet turun.” Ujar Shilla seraya mengompres Rio
“Thanks Shill, gue tidur dulu yah.” Ijin Rio seraya memejamkan matanya.
“Selamat tidur kak.” Gumam Shilla dan naik ke atas menuju ke kamarnya.
            Setelah selesai ganti baju Shilla langsung turun seraya membawa selimut untuk Rio dan langsung menyelimuti Rio dengan selimut yang dia bawa. Setelah itu dia duduk di depan Rio.
“Gue gatahu kak, kenapa rasa ini muncul, setiap gue di deket loe gue pasti gue ngerasa nyaman, maafin gue karena gue udah berani punya rasa ini buat loe kak, tapi gue mohon ijinkan gue mencintai loe dengan cara gue sendiri. Loe lagi tidur aja masih kelihatan ganteng, apa lagi kalo loe lagi senyum.” Gumam Shilla seraya terus menerus memandang Rio yang sedang tidur.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Gabriel dan Ify sekarang lagi berada di rumah Ify. Setelah mereka puas berjalan-jalan berdua mereka akhirnya pulang dan Gabriel memutuskan untuk singgah sebentar di rumah Ify.
“Aku pulang yah sayang. Udah sore nie.” Ujar Gabriel seraya beranjak dari duduknya di ruang tamu.
“Jangan dong, Jahat banget sih. Masa mau ninggalin aku sendirian disini.” Ucap Ify manyun seraya mengapit lengan Gabriel supaya Gabriel tidak pergi
“Terus sampe kapan aku disini ??? Daritadi kan kita udah jalan-jalan sayang. Masa belum puas.”
“Udah puas banget, tapi aku lagi sendirian nie dirumah. Kamu gak kasihan sama aku ??? temenin bentar doang aja gak mau. Yaudah deh, sana pergi, pulang sana.” Usir Ify ngambek.
“Jangan ngambek dong sayang. Aku Cuma gak enak sama mama. Yaudah deh aku temenin kamu disini, jangan ngambek lagi yah sayang.”
“Beneran. Kamu mau temenin aku disini.” Ucap Ify antusias.
“Iyah.”
“Asyik, gitu dong, makasih sayang. Aku tambah sayang deh sama kamu.” Ucap Ify seraya mengapit lenganj Gabriel dan merebahkan kepalanya di bahu Gabriel.
“Iyah, aku juga tambah sayang sama kamu.” Ujar Gabriel mengusap usap rambut Ify.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar