saya datang lagi ke hadapan kalian :D (kaya hantu yah)
oke deh ... keep reading and enjoy reading ;)
cekidott !!!
Beberapa
Hari kemudian. Terlihat seorang gadis dan seorang pria berjalan beriringan
memasuki sekolahnya itu. Apalagi kalau bukan SMA Bintang. Sepertinya mereka
baru berangkat bersama pagi ini. Selama beberapa hari ini mereka selalu bersama
dan Pulang pergi bareng. Keakraban yang terjadi pada 2 insan ini sepertinya
membuat iri semua orang.
“Syifa”
Tiba-tiba ada seseorang yang
memanggil Syifa. Otomatis 2 insan itu membalikan tubuhnya dan mendapati
sahabatnya yang sedang berjalan kearahnya. Siapa kalau bukan Vika.
“Ciyeeee
… makin hari makin lengket aja sih kalian. Jangan-jangan udah jadian lagi.”
“Hush
sembarangan. Kami belum jadian tau.” Ucap Syifa salting
“Belum,
berarti nanti akan jadian dong. Asyik asyik bentar lagi ada yang mau jadian.
Ciyeeee”
“Vika
apaan sih (membekap mulut Vika) ka’ Ivan maafin Vika yah. Dia kalau bicara
memang seperti itu.” Ucap Syifa pada pria disebelahnya dengan gugup.
“Gapapa
fa, yaudah kakak duluan yah, udah mau masuk. Sampai jumpa nanti Syifa Vika”
“Iyah
kak (melepaskan bekapan di mulut sahabanya itu)”
“Kamu
gila yah. Kalau aku sampai sesak nafas bagaimana ???” Ucap Vika sebal dengan
sahabatnya itu
“Maaf
maaf. Lagian kamu bicara seperti itu di depan ka’ Ivan. Aku kan jadi malu Vik.”
“Hehehe
J Iya iya maaf. Ke kelas yuk” Ajak
Vika
“yuk
J” Ucap Syifa seraya berjalan
menuju kelasnya itu
2 gadis yang selalu menjadi pusat
perhatian bagi kaum adam ini segera melangkah menuju kelas mereka. Seharian ini
mereka selalu bersama. Semenjak Vika dekat dengan Yudha selama beberapa hari
ini dan Syifa dekat dengan Ivan beberapa hari ini. Vika dan Syifa tidak pernah
ke kantin bersama dan jalan-jalan bersama. Makanya seharian ini mereka selalu
berdua kemanapun mereka pergi.
SKIP !!!
Aksi persahabatan yang sedang
dijalankan oleh mereka berdua akhirnya berakhir ketika bel pulang sekolah telah
dibunyikan. Dan mereka segera keluar sekolah untuk mencari taksi.Tiba-tiba ada
seseorang yang telah muncul di hadapan mereka menggunakan motor ninja berwarna
putih dengan helm fullface’nya yang kaca helm’nya telah terbuka menambah sosok
dihadapannya bertambah keren.
“hai
Vik, Hai fa”
“Ka
Ivan, ngapain disini ???” Tanya Syifa
“Aku
mau mengajakmu untuk pulang bersama. Bagaimana ???”
“Tapi
aku mau pergi sama ….” Potong Syifa karena mulutnya dibekap oleh sahabatnya
sendiri
“Tidak
kak, maksud Syifa, Syifa mau pulang bareng kakak. Iya kan fa (senyum ke Vika
seraya melototkan matanya kearah Syifa)”
“(Syifapun
mengangguk anggukan kepalanya) tuh kan kak. Yaudah sana pergi J hati hati yah” Ucap Vika seraya
mendorong Syifa agar mau menaiki motor ninja putih dihadapannya
“Beneran
tidak apa-apa Vik ???”
“Iya
kak, tidak apa-apa. Hati-hati yah kak. Jagain sahabatku yah.”
“Pasti.
Ayo fa J sampai jumpa Vika”
Motor Ninja Putih itupun
meninggalkan Vika seorang diri di depan sekolahnya. Beberapa menit kemudian ada
seseorang menggunakan Ninja Merahnya berhenti tepat di depan Vika. Vikapun tau
siapa orang yang mengendarainya. Walaupun orang dihadapannya menutup kaca helm
fullface’nya.
“Ada
apa kak ???” Tanya Vika ramah kepada orang dihadapannya
“Naik”
Perintah pria dihadapannya
“Heh,
aku kan bicara padamu baik-baik, mengapa kau malah menyuruhku.” Jawab Vika
Nyolot
“Apa
kamu tau apa yang akan dilakukan oleh Ivan kepada sahabatmu itu.”
“Memangnya
apa yang akan ka’ Ivan lakukan pada Syifa. Kalau sampai terjadi apa-apa sama
Syifa aku tidak akan memafkan ka’ Ivan. Bahkan aku juga akan membenci kakak.”
“Heh,
mengapa kau malah menuduh sahabatku yang bukan-bukan sih, mengapa juga kau
membenciku, yang berbuat itu kan sahabatku bukan aku (sebal). Ivan itu mau
mengungkapkan perasaanya kepada Syifa. Bukan untuk melukai atau menyakiti
Syifa”
“kakak
serius !!! (kaget). Bukanya mereka itu marahan yah. Tapi akhir-akhir ini aku
melihat mereka sangat akur dan sangat akrab. Apa benar mereka saling munyukai
satu sama lain.”
“Benar.
Sangat benar malah. Bagaimana, kau mau melihatnya tidak. Kalau tidak yasudah.
Aku mau pergi sekarang juga.” Ucap Yudha seraya berpura-pura menyalakan gas motornya.
“Tunggu
kak, aku ingin melihat bagaimana ka’ Ivan menyatakan perasaanya kepada Syifa,
aku mau ikut kakak.” Jawab Vika cepat sebelum pria dihadapannya benar-benar
pergi.
“yasudah
naik. Kita berangkat sekarang”
èèèèèèèèèèèè
“kak,
ini kan bukan jalan menuju ke arah rumahku.” Tanya Syifa bingung seraya
berteriak karena mereka sedang ada di jalan raya dan banyak kendaraan lalu
lalang
“Sudah.
Kamu diam saja fa. Aku tidak akan menyakitimu
dan aku juga tidak akan melukaimu. Sungguh !!! kamu harus percaya sama
aku.”
“Iya,
tapi kakak mau membawaku kemana sih.”
“Ke
Danau.”
Beberapa menit kemudian mereka sudah
sampai di Danau. Anehnya, danau itu sangat sepi dan hanya ada mereka berdua
disana yang ditemani dengan bunga mawar yang disusun rapi di sepanjang jalan dan
membentuk LOVE di tengah-tengah danau itu. Dan dilengkapi dengan lampu-lampu
yang sangat indah. Syifapun tidak berkedip melihat pemandangan indah
dihadapannya. Ternyata di tengah tengah bunga mawar yang berbentuk LOVE itu ada
tulisan I LOVE YOU SYIFA.
“Kak.”
Ucap Syifa yang masih bingung dengan pemandangan dihadapannya
“Bagaimana
??? Apa kamu suka fa.”
“Ini
semua yang membuat ka’ Ivan (terkejut). Tapi apa maksudnya ???”
“Tulisan
itu melambangkan perasaanku terhadapmu. I LOVE YOU fa, aku cinta sama kamu, aku
sayang sama kamu sejak pertama kali aku mengenalmu. Pasti kau akan berfikir
kalau kata-kataku hanya Bulshit semata kan, karena selama ini aku selalu
membuatmu marah. Tapi aku melakukan itu semua karena aku ingin dekat denganmu
fa. Aku tidak mau jauh darimu. Dan sekarang danau ini menjadi saksi bahwa aku
sangat menyayangimu. Would you be my girlfriend Syifa Rahma Izzati ???”
“kak
Ivan”
“Apa
kamu mau menjadi kekasihku fa, aku janji tidak akan menyakitimu lagi.”
“Aku…
aku” jawab Syifa bingung mau menjawab apa
“Please
fa, kasih aku kesempatan. Aku janji akan selalu menjagamu.” Ucap Ivan
sungguh-sungguh
“Yes,
I would J. Aku mau jadi kekasih kakak.”
“Serius,
beneran J”
Syifa
menjawab hanya dengan mengangguk anggukan kepalanya.
“Makasihh
banget ya fa, Aishitteru fa.” Ucap Ivan girang seraya memeluk Syifa J
èèèèèèèèèèèè
2 insan yang sedang melihat
sahabatnya manyatakan perasaanya satu sama lain ini hanya bisa mengintip di
semak-semak tersenyum setelah Syifa
menjawab pertanyaan Ivan. Senyum merekah di bibir Yudha dan Vika setelah mereka
tau bahwa Syifa menerimanya.
“So
sweet.” Ucap Vika berkomentar dengan apa yang dilihatnya
“Kau
mau seperti itu ???”
“Ih,
sok tau. Aku kan hanya berkomentar saja kak. Kau pasti juga kagum kan dengan
apa yang kau lihat ini. Kau pasti iri dengan ka’ Ivan karena tidak bisa
menyatakan perasaanmu kepada gadis yang kau suka di tempat romantic seperti ini
kan ???”
“Iri
??? Heh, apa kau tau. Yang membuat ide untuk acara ini itu aku tau. Bukan ivan.
Apa kau masih mengatakan bahwa aku iri dengan sahabatku sendiri.” Ujar Yudha
nyolot
“Maaf
(menunduk). Aku kan hanya bercanda kak. Kenapa kau jadi marah beneran
terhadapku. Aku tadi Cuma …” Potong Vika
“Maafkan
aku juga yah (mengangkat wajah Vika dengan menggunakan tanganya di dagu Vika
agar Vika mau melihat kearahnya). Aku tadi bicara kasar terhadapmu J maukan maafin aku.”
“(tersenyum)
Iyah kak. Aku maafin kakak. Kakak hebat bisa menemukan ide sebagus ini J”
“Tadi
ngatain aku. Sekarang aja muji-muji gak jelas.” Goda Yudha
“Iyah
iyah. Maaf.” Jawab Vika cemberut
“hehehe
J gak usah cemberut gitu dong.
Pulang yuk. Kasih kesempatan buat mereka supaya bisa berduaan.” Ucap Yudha
seraya menarik tangan Vika menuju kea rah motornya berada.
SKIP !!!
Malam harinya Ivan datang ke rumah
Yudha untuk menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu. Ivan tidak tau kalau
sahabatnya sudah tau apa yang terjadi di Danau itu. Ivan pun menceritakan
semuanya kepada sahabatnya itu. Yudha yang mendengarkan hanya tersenyum.
“……
Jadi gitu Yudh.” Ucap Ivan mengakhiri cerintanya
“Aku
sudah tau.” Tanggap Yudha datar seraya menyunggingkan senyum manisnya
“Maksudmu
???” Tanya Ivan bingung dengan tanggapan sahabatnya itu
“Aku
tadi mengikutimu dari belakang. Dan aku mengintip semuanya di semak-semak.”
“Wahh,
ini bukan termasuk rencana kita yah. Ini termasuk di luar rencana ni.” Ucap
Ivan pura-pura sebal setelah mendengarkan penuturan sahabatnya itu.
“Hehehe
J. Aku takut jika Syifa menolakmu.
Makanya tadi aku mengikutimu bersama Vika.”
“Jadi
tadi kau bersama Vika ??? Ada lampu hijau ni kayaknya. Kapan nyusul aku yudh.”
“Huhhh
L aku juga tidak tau. Dia tidak
menyukaiku van.”
“Jangan
berfikiran seperti itu Yudh. Dia itu menyukaimu. Aku bisa melihatnya dari
matanya yang menatapmu berbeda. Sorotan tajam yang selalu menatapmu dengan
hangat.”
“Aku
akan membuktikan kata-katamu itu. Selama beberapa hari kedepan aku akan
mendekati dia dan akan mencari tau apakah dia benar-benar menyukaiku atau
tidak.” Ucap Yudha semangat J
“Nah
gitu dong. Ini baru sahabatku. Semangat yah J”
“Senangnya
yang udah diterima sama Syifa (menyindir). Kayaknya kalau dapat pajak gak
apa-apa ni.”
“Iya
dong. Besok pagi kau akan makan gratis di kantin sekolah. Ajak Vika juga yah.
Aku juga ingin mengajaknya besok.”
“Mengapa
kau menyuruhku. Bukanya kekasihmu yang lebih akrab dengannya yah.”
“Aku
ingin kau yang menyampaikannya. Aku pulang yah. Sampai jumpa kawan” Ucap Ivan
seraya bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah mewah Yudha.
SKIP !!!
2 minggu kemudian. Pasangan Ivan
Dika Prasetya dan Syifa Marcelina Putri setiap harinya makin lengket aja
seperti perangko. Membuat semua orang iri terhadapnya. Sikap mesra yang selalu
ditunjukkan Ivan kepada Syifa membuat Orang-orang yang melihatnya iri termasuk
sahabatnya.
“Kalau
mau mesra-mesraan tuh jangan di depan public dong. Udah tau ini kantin dan
banyak orang malah mesra-mesraan disini” Sindir Yudha
“Iyah
kak, bener. Memangnya gak ada tempat lain apa yang lebih enak buat berduaan.”
Sungut Vika
“Hahahaha
J.” Ivan dan Syifa hanya tertawa
melihat 2 orang dihadapanya.
“Ada
yang lucukah !!!” Ucap Vika
“Kalian
berdua kalau mau bilang aja. Makanya jadian dong. Jangan Cuma di simpen aja
perasaanya.” Ucap Ivan seraya menyodorkan Es Jeruknya kepada kekasihnya
“Sudah
Vik, jangan didengarkan omongan dia. Ke kelas aja yuk. Di sini kayaknya kita
ganggu deh.”
“Yaudah
yuk kak. Daaahh Ka’ Ivan daaaah Syifa.”
SKIP !!!
1 minggu telah berlalu semenjak
kejadian di kantin itu. Keakraban yang terjadi di antara Vika dan Yudha pun
makin kelihatan. Membuat fans ketua osis SMA Bintang ini pada iri setengah mati
melihatnya. Dan Yudhapun sudah mulai mengetahui perasaan gadis yang dicintainya
itu.
Pulang sekolah Yudha mengajak Vika
untuk pulang bersamanya. Vikapun tidak menolaknya. Tapi yudha tidak mengantar
Vika pulang melainkan mengajak Vika ke Mall. Dan Yudha memilih Rise Mall
sebagai tempatnya.
“kak,
ko kakak mengajakku ke mall sih. Memangnya kakak mau membeli apa.” Tanya Vika
“Hanya
ingin mampir ke Toko music. Kebetulan jika peralatan music di sekolah kita
sedang ada yang rusak atau kurang, kakak-kakak osis selalu ke toko music Rise
Mall ini.” Jawab Yudha
“Oh.
Tapi kenapa kakak malah mengajakku. Bukanya lebih enak kalau pergi sama
temen-temen kakak yah. Kan bisa minta pendapat juga.”
“Memangnya
kalau aku mengajakmu, kamu tidak bisa memberikan pendapat yah. Kamu kan jago
main piano. Bisa diajak sharing juga dong pastinya.”
“Mmmm…
iyah sih. Tapi kan lebih enak sama temen-temen kakak.” Ujar Vika
“Bilang
aja kalau kamu gak mau pergi sama kakak. Kalau kamu tidak suka yasudah pulang
aja sana. Aku juga bisa mencarinya
sendiri.” Jawab Yudha seraya mempercepat langkahnya
“Ih
L. Kok kakak malah marah sih
(mengejar Yudha). Aku kan tidak bermaksud seperti itu sama kakak. Aku Cuma ….”
Potong Vika
“Cuma
apa. Bilang aja kalau kamu gak mau jalan sama aku.” Ucap Yudha tambah
mempercepat langkahnya dan masih terlihat cuek di depan Vika
“(menarik
tangan Yudha) Tunggu dong kak. Please don’t angry with me. I’m sorry kak.” Ucap
Vika seraya masang muka memelas
“Ok
J. Tapi ada syaratnya.”
“Ok.
But apa syaratnya ???.”
“Temenin
aku seharian ini kemanapun aku pergi J. Gimana, mau ???”
“Mmmm
… kalau aku ga’ mau gimana.”
“Yaudah
.. kakak gak akan maafin kamu.” Ucap Yudha seraya kembali melangkah
meninggalkan Vika
“Ok.
Iya aku mau. Tapi, please maafin aku L”
“Ok
J. No problem honey J”
“honey
honey. Memangnya kakak siapa aku. Berani-beraninya kakak manggil aku dengan
sebutan seperti itu.” Ucap Vika nyolot dan tidak terima
“Iya
iya maaf. Kakak kan Cuma bercanda. Yaudah ayo. Gak sampai-sampai ke tokonya
kan.” Ujar Yudha seraya menarik tangan Vika dan kembali melangkah menuju ke
toko music.
2 insan yang terlihat sedang senang
ini menghabiskan waktunya di Rise Mall dari pukul 14.00 sejak pulang sekolah
tadi sampai jam 15.00 hanya untuk melihat lihat peralatan music di toko music
yang ada di Rise Mall. Setelah selesai melihat-lihat mereka melangkah keluar
toko.
“sepertinya
cukup lama kita melihat lihat peralatan musiknya tadi.” Ucap Yudha
“Bukan
sepertinya lagi tapi memang sangat lama. Kakak gatau sih, kakiku sudah pegal
sekali rasanya. 1 jam kita hanya muter muter gak jelas melihat lihat peralatan
music tadi.” Ujar Vika sebal
“Heh,
bukannya kamu sudah berjanji tadi. Bahwa kau akan menemaniku kemanapun aku
pergi.”
“Iya
iya. Sekarang kita mau kemana lagi. Kakiku sudah pegal sekali rasanya kak.”
“Baru
juga muterin tokonya, udah langsung capek. Dasar cewe, semuanya sama aja.
Manja”
“Ih
L. Jangan ngatain aku lagi deh.
Kakak kan cowo. Pantas saja kalau tidak merasakan capek.”
“Huh
K. Yasudah cepat (menarik tangan
Vika). Nanti keburu sore.” Ujar Yudha sedikit mengancam
“Kakak.
Kita mau kemana lagi sih. Aku sudah capek. Istirahat dulu kak. Please L”
“(berhenti
jalan) Diam atau kau, aku tinggal disini sendirian (melanjutkan jalan)” Ucap
Yudha cuek
Akhirnya Vika hanya menuruti
keinginan dari pria yang sedang menarik tangannya ini. Sepertinya pria ini
tidak mengerti bahwa Vika sudah sangat lelah dan ingin istirahat walau sejenak.
Jika dia tidak mengucapkan janji tadi kepadanya mungkin sekarang dia bisa bebas
tanpa harus mengikuti kemauan pria dihadapannya. Tapi waktu sudah berlalu dan
tak mungkin bisa diputar kembali.
èèèèèèèèèèèè
Terlihat 2 insan ini yang sedang
berjalan beriringan sambil bergandengan tangan di Pantai. Wakil ketua osis yang
dulunya terlihat cuek dan tidak perduli terhadap siapa saja langsung bisa
berubah 100 % karena gadis yang sekarang resmi menjadi kekasihnya itu.
Syifa
yang dulunya selalu tidak perduli terhadap pria manapun sekarang malah tertarik
dengan Wakil ketua Osis di sekolahnya. Entah karena apa dia bisa menyukai pria
yang tidak pernah baik padanya dan selalu cuek kepadanya serta selalu
membuatnya marah ini.
“pantainya
bagus yah. Kapan-kapan aku akan mengajakmu pergi kesini di sore hari menjelang
malam untuk melihat sunset yang sangat indah disini.” Ujar Ivan
“Makasih.
Aku memang tidak pernah melihat sunset secara langsung. Hanya lewat jauh saja
kak.”
“Oh
yah. Masa sih (menatap tajam Syifa). Aku akan mengajakmu nanti. Ayo duduk
disini.” Ucap Ivan seraya duduk diatas rerumputan yang terdapat di pantai itu.
“(mengikuti
Ivan duduk dan duduk disebelahnya) Indah sekali yah. Seandainya disini ada ka’
Yudha sama Vika pasti tambah seru deh.” Ujar Syifa menatap lurus ke depan
“Memangnya
jika kau sedang bersamaku, rasanya tidak seru yah.”
“Bukan
seperti itu. Kakak tau. Baru kakak yang bisa membuatku bingung jika sedang
bersama kakak.”
“Why
???” Tanya Ivan
“Aku
tidak tau apa alasanya, tapi yang jelas dulu aku tidak pernah mau mendengarkan
informasi tentang pria manapun. Aku juga selalu tidak perduli jika ada pria
yang mengatakan bahwa dia menyukaiku.”
“Tapi
mengapa kau suka padaku. Dari awal kau masuk SMA Bintang kau sudah menyukaiku
bukan.”
“Heh
jangan kegeeran deh. Darimana kau tahu aku menyukaimu sejak awal.” Ucap Syifa
nyolot
“Dari
surat yang kau berikan khusus buatku. Benar kan ??? aku juga sudah menyukaimu
dari awal MOS itu. Entah karena apa aku langsung tertarik terhadapmu.”
“(Wajahnya
memerah) benarkah ???”
“Iyah.
Masa kamu tidak percaya kepadaku sih fa. Aku serius. Seorang Ivan Dika Prasetya
tidak pernah berbohong dalam masalah hati.” Ujar Ivan yakin
“Iya
deh aku percaya. Aku juga sudah menyukai kakak waktu masuk MOS pertama kali”
“Hahaha
J aku sudah tau kok. I love you My
honey (Memeluk Syifa)
“I
love you too J
(membalas pelukan Ivan) aku sayang sama kakak.”
“Aku
lebih sayang dari pada kamu J”
èèèèèèèèèèèè
Vika dan Yudha ternyata memasuki
sebuah Café yang terdapat di Rise Mall. Café itu bernama Café friendship. Vika
yang dari tadi hanya diam dan bingung dengan pria dihadapannya inipun membuka
suaranya. Tadi pria dihadapannya terlihat marah dan sangat kesal dengannya.
Tetapi mengapa sekarang dia malah mengajaknya ke Café.
“Kak.
Kakak gak salah masuk kan ???”
“Maksudmu
apa.” Tanya Yudha dingin
“Mmmm
gak. Tadi kan kakak membentakku pada saat aku meminta ijin untuk istirahat.
Tetapi sekarang malah mengajakku ke tempat ini.” Jawab Vika setengah takut
dengan pria dihadapannya
“jadi
kau tidak mau aku ajak ke tempat ini. Yasudah ayo kita jalan lagi (menarik
tangan Vika)”
Pada saat ketua osis ini menarik
tangan gadis ini. Vika malah tidak mengikuti langkah pria dihadapannya. Dia
justru diam di tempat dan sebal dengan pria dihadapannya. Mengapa dia bisa
kenal dengan pangeran es seperti Yudha ??? Sesungguhnya Vika daritadi sudah
sebal dengan pria dihadapannya yang melakukan apa saja kepada dirinya dengan
seenaknya. Yudhapun yang mengetahui bahwa gadisnya tidak mengikuti langkahnya
membalikan tubuhnya dan melihat gadisnya itu.
“Mengapa
kau berhenti ???” Tanya Yudha heran
Bukanya menjawab pertanyaan Yudha.
Vika malah melangkahkan kakinya meninggalkan Yudha seorang diri di depan Café
Friendship itu. Yudhapun bingung harus berbuat apa. Sepertinya pria ini sudah
mengetahui bahwa Vika sebal dengan semua perbuatannya. Yudhapun berlari
menyusul gadis itu. Yudha bisa menjajarkan langkahnya dengan Vika di depan Toko
bunga yang sedang tutup di café itu. Kebetulan di tempat itu tidak ada penjual
lagi selain toko bunga tersebut.
“(Menarik
tangan Vika) hey … what you are angry with me ???” Tanya Yudha lembut
“Lepas.
Aku mau pulang dan kakak tidak usah mengikutiku lagi (melanjutkan jalanya)”
“Hey,
tunggu dulu. Maafkan aku vik. Tadi aku tidak bermaksud untuk …..” Potong Yudha
“Sudahlah
kak. Kakak memang selalu menjadikanku boneka yang bisa kakak suruh seenaknya
dan bisa kakak manfaatin seenaknya. Cuma demi mendapatkan kata maaf dari kakak
aku rela keliling toko music tadi. Dan kakak tau, aku capek sekali.” Menarik
nafas dalam dalam dan mengehembuskannya secara kasar kemudian melanjutkan
kata-katanya tadi.
“Tapi
kakak tidak mau mengerti perasaanku. Aku ijin untuk beristirahat saja kakak
tidak mengijinkanya. Mau kakak apa sih!!! (berkaca-kaca matanya) Aku sudah
capek dengan sifat kakak selama ini. Aku tau sekarang. Kakak itu dekat denganku
supaya kakak bisa nyuruh aku seenaknya kan ??? supaya kakak bisa menjadikanku
sebuah boneka kan ??? Yang digunakan setiap kakak butuh. Dan dibuang kalau
kakak sudah tidak butuh. Ya kan kak. Jawab !!! (menangis). Mengapa kakak hanya
diam, Hah !!!”
Menangis dan menangis. Perasaan
seorang gadis yang sakit hati akibat perbuatan pangeranya itu. Dan pria
dihadapannya hanya bisa melihatnya dengan Iba dan kasihan serta merasa bersalah
kepada gadis dihadapannya. Yang dia hanya bisa lakukan adalah membiarkan
gadisnya menumpahkan semua emosinya yang sepertinya sudah ditahan cukup lama.
“Terserah
kakak sekarang(menghapus air matanya). Kalau kakak tidak mau memaafkanku pun
aku sudah tidak perduli. Aku pulang. Permisi.” Ucap Vika mengakhiri perkataanya
seraya pergi
Yudha pun langsung berlari menuju ke
tempat parkir dimana motornya ia titipkan di tempat itu. Dia akan mengejar
gadisnya yang emosinya sedang tinggi itu. Dia sangat takut jika sesuatu terjadi
pada gadisnya itu. Sedangakan cuaca di luar tidak memungkinkan Yudha untuk
pergi menggunakan motornya karena sedang Hujan besar. Tapi keinginan dia untuk menjaga
gadisnya lebih besar sehingga dia menaiki motornya dan melaju untuk mencari
gadisnya itu.
Baru beberapa menit dia melaju
menggunakan motornya. Dia melihat seorang gadis di tengah jalan yang sedang
duduk sambil memegang lututnya serta seluruh badannya menggigil karena cuacanya
pada saat itu sangat dingin. Gadis itupun tidak menggunakan jaket. Hanya baju
sekolah yang ia kenakan. Yudhapun langsung berlari menuju gadis itu. Pada saat
Yudha akan menyentuhnya, gadis itu sudah jatuh tak sadarkan diri. Ternyata dia
pingsan.
Pria ini bingung harus bagaimana.
Dia sangat khawatir kepada gadisnya itu. Kebetulan ada taksi yang melintas di
situ. Yudha akhirnya membawa Vika ke rumahnya menggunakan taksi itu. Karena
tidak memungkinkan jika pria ini membawa Vika ke rumah Vika dalam keadaan basah
kuyup dan tak sadarkan diri ini. Akhirnya dia putuskan untuk membawa Vika ke
rumahnya.
Kebetulan di rumahnya sedang sepi
karena kedua orang tuanya ada tugas di luar kota. Di rumah hanya ada 2 bibi’nya
dan pak udin selaku sopir keluarga Yudha serta adik Yudha yang bernama Sivia
yang baru berumur 14 tahun. Yudhapun membawa Vika masuk dan membaringkan Vika
di kamar tamu. Diapun memanggil salah satu bibi’nya.
“Bi,
tolongin Yudha yah. Ganti pakaian gadis ini dengan punya Sivia ya bi. Bibi ambil di kamar sivia. Cepet bi.”
“Ya
den, baik. Sebentar bibi ambilkan.” Ucap Bibi seraya pergi.
Beberapa menit kemudian bibi
kembali dengan membawa satu stell baju milik Sivia.
“ini
den baju non Sivia.”
“Yasudah
bibi gantiin pakaiannya. Yudha menunggu di luar yah.”
“Iya
den baik.”
Selesai mengganti pakaian Vika, bibi
pun keluar menemui tuan mudanya itu di ruang tamu bagian depan. Selang beberapa
menit terdengar bunyi mobil di luar rumahnya. Sepertinya adik Yudha yang masih
berumur 13 tahun itu, siapa lagi kalau bukan Sivia.
“Assalamu’alaikum”
Salam Sivia kepada siapapun yang ada di dalam rumah.
“Wa’alaikum
salam.” Jawab Yudha dan Bibi kompak.
“Kenapa
kak. Kayaknya lelah banget. Habis ngapain sih.”
“kakak
pinjem bajumu sebentar yah. Buat temen kakak.”
“Temen
kakak cewe atau cowo kak.”
“Cewe
lah L masa temen kakak yang cowo mau
pake baju punya kamu sih.” Ujar Yudha sebal
“Hah
(kaget) cewe kak. Kakak bawa temen cewe ke rumah yah. Nanti Via bilangin mama
sama papa loh, biar ka’ Yudha dimarahin” Ancam Sivia kepada kakaknya itu.
“Heh
anak kecil. Jangan sok tau deh. Itu Cuma temen kakak. Udahlah, masuk sana.
Ganti baju terus istirahat.” Suruh Yudha
“Huh
dasar, bibi anterin Via ke kamar yuk. Takut sendirian.” Rengek Sivia kepada
bibinya itu
“Iya
non, permisi den” Ujar bibi seraya mengikuti majikanya ke kamarnya
Setelah bibi dan adik bungsunya itu
meninggalkan Yudha seorang diri di ruang tamu, Yudhapun membanting tubuhnya di
sofa ruang tamu tersebut. Bisa dilihat dari wajahnya kalau dia sedang sangat
lelah dan bingung harus berbuat apa. Di hatinya yang paling dalam dia sangat
khawatir dan merasa bersalah kepada gadis cantik itu. Tapi disisi lain, dia
juga tak ingin jika gadisnya membencinya.
1 jam kemudian Yudha menunggu
gadisnya bangun, tetapi belum ada tanda-tanda Vika untuk bangun akhirnya yudha
memutuskan untuk masuk ke kamar tamu yang sekarang sedang ditempati oleh
gadisnya itu. Perlahan tapi pasti dia membuka pintu kamarnya dan langsung
melihat gadisnya itu sedang tidur dengan dilengkapi selimut tebal yang
menemaninya. Beberapa menit kemudian gadis itu membuka matanya. Yudhapun
menghampirinya.
“Hmmm
(melihat lihat sekelilingnya-bingung) aku dimana, ini rumah siapa dan mengapa
aku berpakaian seperti ini. Perasaan tadi aku menggunakan …” Potong Vika bingung
“Vika”
Panggil Yudha merasa bersalah
“kak
Yudha. Mengapa kau ada disini. Aku dimana kak.” Vika takut
“Maafkan
aku. Aku memang salah terhadapmu. Aku terlalu mementingkan diriku sendiri.
Maafkan aku yah. Kau mau kan maafin aku.” Ujar Yudha lemah
“Kakak
sekarang jawab aku. Mengapa aku bisa berada disini kak. Ini rumah siapa ???
terus siapa yang mengganti bajuku. Atau jangan-jangan kakak sudah melakukanya
kepadaku yah (Berkaca-kaca).”
“Tidak
Vik, sungguh. Aku sama sekali tidak menyentuhmu pada saat kau tidur tadi. Kamu
sekarang ada di rumahku dan kau sekarang memakai baju Adik Bungsuku. Dan yang
mengganti pakaianmu bukan aku tapi bibi aku Vik.” Jelas Yudha panjang lebar
“(bangkit
dari tempat tidurnya) aku sekarang mau pulang. Terima kasih untuk semuannya. Mulai
sekarang anggap aja kita tidak pernah bertemu. Anggap aja kau tidak mengenalku
kak. Anggap aja kalau kau dan aku tidak pernah punya hubungan apa-apa. Thank’s
for all (pergi).”
“Please
vik (menarik tangan Vika), jangan menghukumku seperti itu. Aku minta maaf. Kau
boleh memukulku atau menusuk pisau ke perutku atau kalau kau mau kau boleh
membunuhku. Tapi please Vik, maafkan aku. Aku tau aku salah besar terhadapmu.”
“Sudahlah
kak, gak baik disesali semua yang udah terjadi. Aku emang tidak pantas jika
bersamamu dan aku tidak cocok jika harus mempunyai hubungan lebih dari teman
sama kakak.” Ujar Vika menangis
“Vik,
dengarkan aku (menarik Vika agar mau berhadapan dengannya). Aku janji tidak
akan melukaimu lagi. Siapa bilang kau tidak cocok jika menjadi kekasihku. Aku
yang menentukan gadis mana yang pantas menjadi kekasihku. Dan aku memutuskan
kaulah yang pantas menjadi kekasihku.”
“kakak
tidak usah bicara seperti itu. Apa sih yang harus aku lakukan untuk menyadarkan
kakak. Oke, kalau kakak minta aku supaya memaafkanmu, aku akan memaafkanmu. Dan
sekarang aku sudah memaafkan kakak. Dan aku minta jauhi aku mulai dari
sekarang.”
“Tidak
vik, jangan menghukumku seperti itu. Aku tau aku salah. Jangan menjauhiku. Aku
benar-benar sayang kepadamu dan aku ingin selalu menjagamu.” Teriak Yudha
karena Vika sudah berlari menuruni tangga dan beranjak keluar rumah
Mendengar perkataan Yudha, Vikapun
hanya menolehkan kepalanya dan menatap pria dihadapannya untuk sesaat. Setelah
itu gadis ini melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah mewah milik pria yang
sudah membuat hatinya tidak karuan. Sesungguhnya Vikapun tidak mau menjauh dari
pria yang sangat ia cintai itu. Tapi gadis ini sadar, jika dirinnya sangat
tidak pantas jika bersanding dengan pria tampan yang membuatnya jatuh hati.
“apa
yang harus aku lakukan sekarang ??? Vika sudah sangat membenciku. Sepertinya
dia tidak akan pernah mau memaafkanku.” Gumam Yudha
prikitiwww :D
akhirnya saya kembali melanjutkan walaupun ceritanya gaje b.g.t :D
tinggalkan jejak guys, like and comment yah ;)
Syifa Rahma Izzati?
BalasHapus