cekidott !!!
Keesokan
harinya di sekolah megah SMA Bintang. Pagi ini ada rapat osis sehingga membuat
para anggota osis berkumpul di ruang osis dan menggunakan Dispen selama 1 jam.
Setelah rapat usai dan semua anggota osis berhambur ke kelas masing-masing,
justru ketua osis SMA Bintang malah memilih untuk menyendiri di sudut ruangan
itu.
“Hey
bro, kau kenapa. Tidak biasanya kau seperti ini. Oh ya aku lupa. Semenjak ada
gadis manis kelas sepuluh itu kan kau jadi sering seperti ini yah.
Jangan-jangan sekarang kau seperti ini juga karena gadis itu. Ya kan ???”
cerocos sahabatnya itu seraya duduk disebelah ketua osis ini.
“Diem
deh. Bukanya membantu atau gimana malah mengejek. Huh L dasar kau. Dulu aja waktu kau
lagi bersama Syifa aku yang terus membantu. Sekarang giliran aku yang susah kau
seenaknya mengejekku.”
“iya
deh sobat, gak usah cemberut begitu dong. Aku kan hanya bercanda. Sekarang
ceritakan masalahmu kepada sahabatmu yang setia kawan ini.” Ucap Ivan narsis
“siapa
bilang kau setia, kayaknya Cuma gadismu yang bilang kalau kau setia.”
“Hahaha
J sudahlah. Cepetan cerita, aku
akan dengarkan dan memberi saran …”
“Jadi
gini …..” Yudha memulai ceritanya tentang kejadian kemarin bersama gadisnya itu
“Gila
kamu, itu sih memang salahmu. Pantas saja Vika benci dan tidak mau memaafkanmu.
Menurutku kau sudah sangat keterlaluan terhadapnya. Jadi jangan salahkan dia
jika dia tidak mau memaafkanmu. Karena itu semua salahmu. Menurutku, lebih baik
kau berusaha untuk mendapatkan maaf darinya. Apapun caranya kau harus
melakukanya supaya Vika mau memaafkanmu. Aku tau, kau sangat menyayanginya dan
sangat menyukainya. Tetapi sekarang kau malah membuat hatinya sedih.” Ucap Ivan
memberi saran untuk sahabatnya itu setelah mendengarkan cerita Yudha.
Yudha hanya diam mendengarkan ucapan
sahabat baiknya itu. Ucapanya memang amat sangat benar, apalagi kalau masalah
Yudha menyukai dan menyayangi Vika, itu malah 100 % benar. Tapi Yudha sudah
kelewat batas sehingga sekarang Vika malah marah kepadanya.
“Kapan
yah waktu yang tepat untuk meminta maaf kepadannya.” Tanya Yudha
“Secepatnya.
Jangan menunda nunda waktu selagi sekarang kau bisa melakukannya. Sudah yah. Aku
mau ketemu dengan Syifa. Kasihan dia daritadi menungguku di loby. Bye Yudh.”
Ucap Ivan seraya pergi
“Huft
L. Sekarang setelah mempunyai
kekasih, dia lebih sering meninggalkanku. Ckckck L terus aku harus bagaimana yah. Pulang sekolah nanti
aku akan coba.” Gumam Yudha seraya beranjak dari duduknya dan pergi menuju ke
kelasnya.
èèèèèèèèèèèè
“hey,
sudah lama yah menunggunya. Maaf yah. Tadi Yudha ada problem dengan sahabatmu.”
Ucap Ivan seraya duduk di sebelah gadisnya yang kini sedang duduk di Loby
sekolah
“Iyah
gapapa J. Aku mengerti ko’. Aku juga baru
datang kesini. Mengapa kakak menyuruhku untuk datang kesini. Padahal kan kita
bisa bertemu di sekolah.” Tanya Syifa
“Mmm,
ada sesuatu yang aku mau bilang sama kamu. Di kelas kamu tidak ada guru yang
mengajar kan ??? kalau ada mending nanti saja aku bilangnya.”
“Tidak
ada kak, kebetulan anak Ibu Ida (Guru matematika) sedang sakit. Jadi beliau
tidak masuk. Jadi apa yang akan kakak katakana kepadaku.”
“I
LOVE YOU.” Ucap Ivan seraya menyungginggkan senyum manisnya
“Just
it ??? itu yang kakak bilang pentingkah.” Tanya Syifa heran dengan kekasihnya
itu
“Ah,
kamu tuh gak pernah bisa diajak romantic. Memangnya kata-kataku tadi tidak
penting untukmu yah.” Ucap Ivan manyun dan mengalihkan pandanganya dari
gadisnya itu.
“Bukan
maksudku seperti itu kak. Ku kira ada sesuatu yang sangat penting sehingga
kakak menyuruhku kesini. Tahu’nya hanya ingin mengucapkan itu. Bukanya setiap
kakak sedang bersamaku kakak selalu mengatakan itu yah.” Ujar Syifa
Ivan hanya diam mendengarkan ucapan
gadisnya itu. Pertanyaan gadisnya itu sungguh menyebalkan baginya. Gadis lain
jika mendengarkan Ivan berbicara seperti itu akan terasa dirinya sedang berada
di langit ke tujuh. Tapi gadis disebelahnya malah bertanya tentang hal yang
tidak penting.
“kak,
jawab dong. Masa kakak marah sih sama aku. Iya deh, aku minta maaf. Tadi kan
aku pikir….” Ucapan Syifa langsung dipotong oleh Ivan.
“Sudahlah,
aku ingin ke kelas. Pak Hendrawan (Guru bahasa inggris) sudah sampai di kelas.
Mending sekarang kamu juga masuk ke kelasmu.” Ucap Ivan dingin seraya
meninggalkan gadisnya itu.
“Kak,
tunggu …” teriak Syifa
Ivan terus saja melangkah dan tidak
perduli dengan gadisnya itu yang sedari tadi berteriak seraya memanggil namanya
itu. Perasaan Ivan kini sedang tidak enak. Maka dari itu dia bersikap seperti
itu dengan gadisnya. Sedangkan Syifa hanya menatap punggung pangeran hatinya
itu yang semakin menghilang. Setelah benar-benar tidak kelihatan Syifa kembali
ke kelasnya.
èèèèèèèèèèèè
Syifa duduk dengan lesu dan tidak bersemangat
ketika dia sudah sampai di kelasnya. Dan dia segera duduk di samping sahabatnya
itu.
“Kamu
kenapa fa. Ada masalah yah.”
“Ka’
Ivan. Dia marah padaku Vik.” Ucap Syifa seraya menopang dagunya menggunakan
kedua tanganya dan menatap lurus dengan pandangan kosong
“Mengapa
ka’ Ivan marah. Memangnya kau berbuat apa kepadanya.” Tanya Vika bingung
“
Tadi kan aku disuruh ka’ Ivan untuk menunggunya di Loby karena ada sesuatu hal
yang ingin ka’ Ivan sampaikan. Tetapi dia malah…….” Ucap Syifa panjang lebar
menceritakan semua yang dialaminya bersama pangeran hatinya itu di Loby sekolah
“Oh
jadi begitu. Menurutku tidak sepenuhnya salah kamu fa, ka’ Ivan juga salah.
Seharusnya dia tidak usah mengatakan jika ada hal penting yang harus
dibicarakan. Dan sudah seharusnya kamu bertanya seperti itu kepada ka’ Ivan,
karena menurutku itu juga bukan hal yang penting. Aku tau ko’, jika ka’ Ivan
sedang bersamamu dia selalu mengatakan kata itu kepadamu.” Ujar Vika member
saran.
“Iya,
makasih yah. Nanti aku akan menyelesaikan semuanya. Bagaimana dengan ka’ Yudha vik ??? Aku lihat sekarang kau
lebih sering menghindar jika akan bertemu ka’ Yudha.”
“Ya
begitulah. Aku sudah lelah dengannya. Dia memang tidak pernah bisa untuk
menyayangiku. Dia sama sekali tidak suka padaku. Jadi kenapa aku harus
mempertahankan rasa ini untuknya ???”
“That’s
all cause love. I know You love him sis. And I know too him love you. Jadi pertahankan jika kau yakin
kalau ka’ Yudha adalah cinta sejatimu.” Ujar Syifa member semangat kepada
sahabatnya
“Love.
1 kata yang sangat mudah mengatakannya tetapi sangat sulit untuk melakukannya.
Itulah yang kini diarasakan oleh ka’ Yudha. Mungkin dia bicara seperti itu
kepada ka’ Yudha hanya untuk sesaat. Dan setelah dia bosan mencintaiku dia akan
seenaknya meninggalkanku.”
“Kau
tidak boleh berfikiran seperti itu Vik. Siapa tau ka’ Yudha memang benar-benar
mencintaimu.”
“Hmmm
L sudahlah, tidak usah membahas
dia lagi. Aku sudah cukup sakit dengan perlakuan dia kemarin terhadapku.” Ucap
Vika seraya tersenyum pahit.
“Yasudahlah.
Tetap semangat dong. Kita berdua harus selalu tetap Smile J. Okeh.”
“Iyah.”
Jawab Vika singkat seraya tersenyum sangat manis.
SKIP !!!
Bel pulang pun nyaring terdengar
hamper di seluruh ruangan SMA Bintang. Semua siswa pun berhamburan keluar kelas
dan pulang dengan kendaraan masing-masing dan ada yang menggunakan kendaraan
umum. Berbeda dengan seorang gadis yang berjalan sendirian menyusuri jalanan
sekolah untuk menuju ke depan sekolah. Tiba-tiba ada seseorang yang
mengagetkannya.
“Vika
Riyyana Della” Panggil seseorang dari belakang Vika
Setelah
tau siapa yang memanggil gadis ini pun meneruskan jalannya tanpa melihat lebih
lama siapa orang yang memanggilnya. Baginya, dia seperti tidak ada di sekolah
ini
“Wait
me Vik, please !!!” Ucap pria yang memanggilnya yg ternyata adalah ketua osis
SMA Bintang. Dan pria tampan ini langsung menyamakan dirinnya sehingga berjajar
dengan gadis cantik itu.
“Ada
apa.” Ucap Vika dingin
“Aku
ingin berbicara kepadamu. Ikut aku sekarang.” Ucap Yudha seraya menarik tangan
gadis dihadapannya dengan kasar
“kakak
sakit, lepasin !!!” Bentak Vika dan berusaha melepaskan tangannya
“(Bukannya
melepas tapi semakin kencang menarik tangannya) Ikut aku jika kau tidak mau
terjadi apa-apa denganmu. Ayo !!!” Ajak Yudha
“(menangis)
kakak lepasin, sakit banget kak. Aku mohon lepaskan.” Ucap Vika dengan suaranya
yang bergetar karena menahan sakit di tangannya
Yudha
langsung membalikan tubuhnya karena mendengar suara isakkan tangis yang berasal
dari gadisnya dan melepaskan tangannya dan menatap gadis di hadapannya yang
sedang kesakitan akibat perbuatannya tadi.
“Aw
(memegang tangannya) sakkkittt L.” Pekik Vika
“Maafkan
aku, tangan kamu sudah tidak apa-apa kan ???” Tanya Yudha lembut
“I
hate you kak. Kakak bilang tangan aku tidak sakit, Hah !!! Sakkkittt banget
kak, kenapa kakak tidak membunuhku sekalian daripada harus menyiksaku seperti
ini.” Gumam Vika bergetar
“Vika,
maafkan aku, aku tau aku sangat salah terhadapmu, aku min ….” Potong Yudha
“Sudahlah,
aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Dan kakak jangan pernah memanggilku lagi,
jangan pernah menganggapku lagi, anggap aja kita tidak pernah bertemu.” Ucap
Vika menahan tangis dan berlari meninggalkan Yudha seorang diri di lorong
sekolah yang sudah sangat sepi.
“Mungkin
ini belum waktunya.” Gumam Yudha seraya pergi ke rumahnya
èèèèèèèèèèèè
“Kak
tunggu dong, kakak kenapa sih. Dari tadi kakak juga tidak kelihatan, aku tidak
melihatmu seharian ini, kakak kenapa sih sebenarnya, maafkan aku jika aku punya
salah kak.” Ucap Syifa memohon kepada pangerannya itu setelah Syifa berhasil
menghentikan langkah Wakil ketua Osis ini.
“Aku
tidak marah kepadamu. Aku hanya merasa lelah setelah seharian mengerjakan tugas
Osis.”
“Tapi
kakak tuh kelihatan sekali kalau kakak marah kepadaku. Maafkan aku kak.”
“Aku
kan sudah bilang, aku hanya merasa lelah. Kau ini kenapa sih, kamu memang tidak
pernah mengerti apa yang aku rasakan. Kamu selalu membuatku jadi tambah merasa
lelah” Bentak Ivan dan reaksi gadisnya hanya menangis dan menangis
“Fa,
tadi aku tidak bermaksud untuk …” Potong Ivan
“Jadi
aku hanya merepotkanmu selama ini. Maafkan aku kak, aku tidak akan merepotkanmu
lagi sekarang.” Ujar Syifa seraya meninggalkan Ivan
Ivanpun hanya bisa melihat gadisnya
itu dengan perasaan campur aduk. Marah, kesal, merasa bersalah, khawatir,
kangen. Itulah yang saat ini dirasakan oleh pria tampan ini. Sedangkan Syifa
langsung menjauh keluar sekolah dengan berlinangan air mata dan menghentikan
taksi serta pulang menuju ke rumahnya.
“Aku
harus mengikutinya … perasaanku tidak enak.” Ucap Ivan seraya berlari menuju
motornya dan melaju mengikuti taksi yang membawa kekasinya itu
èèèèèèèèèèèè Di dalam taksi
“Non,
kenapa menangis. Kekasih non ya, yang membuat non seperti ini.” Tanya Pak Sopir
“Mmmm,
tidak pak. Bukan kekasih saya ko’ yang membuat saya seperti ini.” Ucap Syifa
seraya menghapus air matanya yang mengalir deras
(“Ternyata
hubungan kita selama ini hanya membuatmu lelah kak. Aku baru sadar kalau kakak
selama ini tidak mencintaiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang ??? Haruskah
aku memutuskan hubunganku dengan kakak supaya kakak bisa merasa nyaman”) Batin
Syifa
Pada saat Syifa sibuk dengan
pikirannya itu. Tiba-tiba ada sekelompok pemuda yang sepertinya seusia Yudha
dan Ivan berhenti tepat di depan taksi yang ditumpangi oleh Vika dengan menggunakan
motornya masing-masing. Kira-kira ada 4 orang yang berhenti tepat di depan
mereka.
“Pak,
ada apa. Siapa mereka.” Ucap Syifa ketakutan dengan pemuda yang kini sudah ada
di samping kaca jok belakang taksi
“Saya
juga tidak tau non, harus bagaimana ini.” Ujar Pak Sopir gemetar
“Heh,
Cepat keluar dari mobil kalian atau kalau tidak aku akan membakar mobil ini
sekarang. Cepat keluar !!!” Bentak salah satu dari kelompok pemuda itu
“Non,
sebaiknya kita keluar mengikuti saran mereka, tenang saja non, bapak akan
melindungi non.”
“I
… ii .. ya pak …” Ucap Syifa gemetar dan keringat dingin mulai membasahi
pelipisnya
2 orang langsung menodong Pak Sopir
dan 2 orang lainnya sudah mendekap Syifa dan membekap mulutnya dengan tangan
mereka dengan kasar ..
“Mmmppppp.”
Gumam Syifa berkaca -kaca yang sedang dibekap oleh salah satu dari mereka.
Pak Sopir pun langsung melawan
dengan 2 orang di hadapannya. Karena dia terus-teruan melawan maka salah satu
dari 2 orang yang membekap Syifa akhirnya ikut melawan Pak Sopir. Pak Sopir pun
kalah dan dia jatuh dengan muka yang berdarah karena terus-terusan di hantam
oleh ketiga kelompok itu. Sedangkan Syifa langsung menangis setelah tau pak
Sopir kalah
“Lepaskan
aku, mau apa kalian. Tolong tolong. Hmmmppppp …” Ucap Syifa ketika tanganya
sudah mulai mengendur dalam membekap mulut Syifa
“Heh,
jika kau ingin selamat mending kau diam saja yah. Aku tidak mau apa-apa dari
barang-barangmu, aku hanya ingin kamu. Hahahaha ….”
“Hmmmmpppp,
lepaskan aku…” teriak Syifa menangis dan yang masih dibekap oleh pemuda jahat
itu.
“Hey,
lepaskan dia.” Teriak seseorang dan sepertinya Syifa sangat mengenali orang
itu.
“Siapa
kau. Berani-beraninya kau berbicara seperti itu. Memangnya apa hubungan kau
dengan gadis ini.”
“Hey,
kau dengar ya, dia itu kekasihku, aku ini kekasihnya. Jadi lepaskan dia atau
kalau tidak kalian semua akan berurusan denganku.”
“kak
Ivan.” Gumam Syifa
“hahahaha
…. Segampang itu aku melepaskannya. Tidak lah, aku itu tidak bodoh dan tidak
bisa dibohongi olehmu. Kau pikir kami takut terhadapmu. Four in one. Okeh,
kalau itu maumu.”
“hey
lepaskan dia.” Ucap Ivan yang tidak tega melihat gadisnya menangis ketakutan
dan di bekap oleh pemuda itu. Akhirnya Ivan memutuskan untuk melawan orang yang
membekap kekasihnya itu terlebih dahulu, karena tidak tega melihat gadisnya
seperti itu. Akhirnya Ivan pun berhasil, pemuda itu langsung jatuh tersungkur
setelah mendapatkan pukulan di perutnya
“(menarik
Syifa kedalam pelukannya) Kau tidak apa-apa kan ??? Sudah yah jangan menangis
lagi. Aku ada disini untukmu.” Ucap Ivan seraya menghapus air mata Syifa
“Kakak,
aku takut” Gumam Syifa tetapi Ivan mendengarnya
“heyy,
kurang ajar kau. Kalau kau berani lawan kami.” Bentak salah satu dari mereka
“sayang,
sekarang kau sembunyi di belakang pohon itu yah. Inget jangan keluar sebelum
aku suruh. Cepat lari aku akan menjagamu.” Gumam Ivan kepada gadisnya itu
Akhirnya perkelahian pun tidak bisa
dihindarkan. Ivan melawan mereka 4 orang sekaligus. Ivan hanya mendapatkan
pukulan di sebagian mukanya dan bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Setelah
beberapa menit mereka berkelahi, Ivanpun berhasil menyelasaikan perkelahian
itu. Dan 4 pemuda itu langsung meninggalkan tempat itu menggunakan motornya
itu. Ivan pun langsung menghampiri gadisnya yang sedang ketakutan di belakang pohon.
“Vika”
Panggil Ivan yang melihat gadisnya duduk sambil menangis dan memeluk lututnya
itu
“kak
Ivan (langsung memeluk Ivan) aku takut kak.” Ucap Syifa sesenggukan
“Iya
sayang, aku tau. Sekarang kau sudah aman bersamaku (melepaskan jaketnya dan
memakaikannya kepada gadisnya itu) biar tidak dingin. Sekarang kita pulang yuk.
Sebentar lagi hujan.”
“Kak,
kita tolongin Pak Sopir dulu, kasihan dia. Kita bawa ke rumah sakit dulu yah.”
“Iyah
(mendekati pak sopir yang tak sadarkan diri) Pak, pak bangun pak (mengguncang
tubuhnya pelan)”
“Hmmmm
(membuka matanya dan langsung duduk) Aww …” Ucap Pak Sopir seraya merintih
kesakitan.
“Bapak
tidak apa-apa, biar saya bantu ke rumah sakit yah pak.”
“Tidak
usah den, bapak masih sanggup buat menjalankan mobilnya kok, non tidak apa-apa
kan ???. Maafkan saya yah non, saya tidak bisa melindungi non tadi.”
“Tidak
pak, terima kasih karena telah menolong saya, biar kami bantu bapak ke rumah
sakit yah.”
“Tidak
usah non, bapak masih sanggup(berdiri)”
“Tidak
apa-apa pak, biar saya bantu untuk membawa bapak ke rumah sakit. Sebagai tanda
terima kasih karena bapak telah menolong kekasih saya.”
“Tidak
usah, tidak apa-apa. Sungguh, bapak masih sanggup.”
“Yasudah
pak, kalau bapak masih tetep pada pendirian bapak itu. Ini ada beberapa uang untuk
membayar ongkos kekasih saya tadi dan sisanya untuk pengobatan bapak.”Ucap Ivan
seraya memberikan beberapa jumlah uang kepada Pak Sopir itu.
“Terima
kasih den, non. Seharusnya kalian tidak usah repot-repot.”
“Tidak
apa-apa pak,”
“Yasudah,
terimakasih yah den terima kasih ya non, bapak permisi dulu.” Ucap Pak Sopir
seraya menaiki mobilnya dan melaju
Kini hanya ada 2 insan ini di tengah
jalan yang sangat sepi itu.
“Mmmm,
kau tidak apa-apa. Mereka tidak berbuat apa-apa kan terhadapmu.” Tanya Ivan
khawatir
“Iya
kak, terima kasih banyak. Aku punya hutang kepadamu. Terima kasih sudah
menolongku dan membayar Taksi tadi, aku janji aku akan menggantinya.” Ucap
Syifa seraya menunduk karena takut melihat mata bening milik kekasihnya itu
“Sayang,
aku itu kekasihmu (mengangkat wajah Syifa dengan tanganya melalui dagunya).
Mengapa kau berbicara seperti itu. Maafkan aku atas kejadian tadi yah. Aku
hanya sedikit kesal dengan tingkahmu tadi pagi. Kata-kataku tadi hanya alasan
belaka sayang. Supaya kau tahu apa kesalahanmu. Sungguh, kau sama sekali tidak
merepotkanku. Aku juga tidak bosen denganmu. Aku sangat sayang kepadamu. Aku
hanya takut jika aku akan kehilanganmu. Sekali lagi maafkan aku.” Ucap Ivan
serius dan menatap tajam ke gadis dehadapannya
“Aku
sempat berfikir kalau kata-kata kakak tadi adalah perasaan kakak yang
sebenarnya kepadaku. Aku merasa aku adalah gadis yang sangat merepotkan untuk
kakak. Kalau kakak benar-benar sayang kepadaku kakak tidak mungkin mengatakan
hal yang membuatku sakit kak, aku tau kakak sedang emosi tadi, tapi tidak
seharusnya kakak mengucapkan kata-kata kasar kepadaku kan ???”
“Fa,
please maafkan aku. Aku tau aku salah. Tapi aku benar-benar sayang kepadamu,
aku ingin kau selalu ada disisiku. Please fa, maafkan aku, aku akan melakukan
apa saja untuk mendapatkan maaf darimu. Aku juga bersedia jika aku harus
bersujud (Sambil duduk di bawah Syifa) di hadapanmu. Kau menyuruhku untuk
membunuh dirikupun aku sanggup fa, maafkan aku.”
“Kak,
bangun, aku mohon bangun (mengangkat Ivan untuk bangun) aku sudah memaafkan
kakak. Aku juga sangat menyayangi kakak. Maafkan aku juga, aku terlalu
kekanak-kanakkan.”
“Serius
kamu sudah memaafkanku.” Ucap Ivan dengan semangatnya
“Iyah.”
“Makasih
sayang. Aku janji akan selalu menjagamu.” Ucap Ivan seraya memeluk gadisnya
itu.
“Iyah
kak. Aku percaya kok sama kakak.” Jawab Syifa membalas pelukan Ivan
“Sekarang
kita pulang yuk. Sudah sore. Yuk.” Ucap Ivan seraya menggandeng tangan Syifa
tinggalkan jejak seperti biasa yah guys ;)
like and comment'nya ... okeh ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar